"Kaos tangannya ready kapan?" Tanya Juna sambil berdiri dan mengenakan jaket.
"Aku nggak bisa mastiin. Ntar aku chat ya? Soalnya kalo order sekalian banyak." Jawab Ica dengan ramah.
"Ok. Makasih ya, Lady."
"Ica, mas. Panggil aja Ica." Kata Ica seakan keberatan.
"Orang tua ngasih nama nggak sembarangan. Dan nama Lady keliatan keren."
'Tapi aku nggak keren.' batin Ica. Tapi Ica tak membalas.
Meskipun sudah jam pulang, dan beberapa pegawai sudah keluar gedung, tapi Ica sebagai tuan rumah, tidak bisa meninggalkan Juna.
Dia harus menunggu tamunya keluar ruangan.
Setelah Juna membuka pintu dan meninggalkan ruangan, Ica bergegas kembali ke mejanya.
Dia merapikan dokumen dan membersihkan mejanya.
Saat keluar pintu utama, Ica masih melihat Juna yang berdiri sambil bersandar di pilar gedung.
Tampak Juna berbicara melalui panggilan selular dan Ica berjalan melewatinya.
"Lady!" Teriak Juna.
Dengan malas Ica menoleh, karena ia tidak menyukai nama ini.
"Uda ganti busi?" Tanya Juna.
"Belum. Tapi ban depan uda di ganti." Jawab Ica.
"Kenapa nggak diganti sekalian?"
"Bengkel yang biasanya masih tutup. Ayah maunya di bengkel itu.
Ayah nggak percaya bengkel lain." Kata Ica.
"Ya uda. Ati-ati." Balas Juna sambil mengangkat satu tangannya.
Ica kembali berjalan menuju parkir pegawai meninggalkan Juna yang masih menelepon.
Tak langsung pulang, Ica menuju toko olahraga.
Dia harus memasukkan data pembelian dan penjualan.
Ia juga mengambil beberapa barang, karena ia memiliki akun online shop yang menjual alat olahraga.
"Uda malam, Ca. Kamu pulang aja!" Kata pemilik toko.
"Dikit lagi, Om. Nanggung."
"Ini uda mendung. Tante takut kamu jatuh lagi." Sahut Tante, istri pemilik toko.
"Motormu buruan di servis, Ca. Kalo ga ada motor, pake motor toko aja." Sahut Om.
"Gampang, Om."
Akhirnya pukul 20 lebih beberapa menit, Ica pamit pulang.
Sebenarnya Ica malas pulang ke rumah. Dia malas mendengar tagihan dari bunda atau adiknya.
Kalo dari adiknya, dia cukup memaklumi, karena pasti untuk kebutuhan sekolah.
Ketika di jalan, Ica merasa ponselnya bergetar. Dia berhenti di minimarket.
"Iya Sri?" Sambut Ica. Sri adalah teman Ica di sanggar tari.
"Ca, ada pagelaran seni lagi di Candra Wilwatikta." Kata Sri.
"Kapan?"
"Mungkin 6 atau 7 bulan lagi. Tapi konsepnya masih belum tau."
"Duh! Gimana ya Sri. Aku pengen gabung lagi, tapi jadwalku padat. Hampir 2 bulan aku nggak latihan. Cuacanya sering hujan pula."
"Yang penting iuran jalan terus kan?" Tanya Sri.
"Aku bayar terus kok."
"Langsung aja gabung. Aku tunggu besok di sanggar ya?"
Akhirnya Ica mengiyakan ajakan Sri.
Menari adalah salah satu hobby Ica. Dengan menari dia bisa melupakan kehidupan nyatanya sesaat.
Sanggar tari ini sering menjuarai jika Ica turut andil di dalamnya.
Tapi sayangnya, hobi Ica tidak di dukung oleh Bunda.
KAMU SEDANG MEMBACA
#10 HOLD (TAMAT)
RomanceRisayanti atau yang biasa dipanggil Ica tampak lelah dengan kehidupannya yang tak semanis tetangga atau temannya. Tak ada yang dibanggakan sama sekali. Entah keluarganya, pekerjaan atau dirinya sendiri. Mungkin mengandung cerita dewasa.
