Hari Minggu, setelah membersihkan day care Juna istirahat di salah satu kamar.
Dia membayangkan betapa beratnya kehidupan Ica.
Sangat berbeda sekali dengan kehidupan Juna yang bebas beli keinginannya sendiri.
Bahkan sesekali Juna dan saudaranya benar-benar menikmati jerih payahnya dengan liat konser, nonton bioskop atau ke dunia malam.
Juna melihat jam dinding. Ternyata sudah siang.
Sebenarnya Juna ingin menelepon Ica, tapi tidak jadi. Dia yakin, Ica masih lelah dan butuh istirahat.
Pria ini melihat ponselnya, ada pesan masuk dari Bubu.
Bubu ke rumah Mami Aline. Ada eyang bunda.
Meskipun Bubu tidak memerintah anaknya, tapi jika ada eyang bunda berkunjung ke salah satu rumah anak atau cucunya, secara otomatis mereka akan berkumpul semua di sana.
Tak butuh waktu lama, Juna sudah tiba di rumah Mami Aline yang hanya beda blok saja.
Rumah ini terlihat rame, apalagi ada suara jerit anak kecil.
Ketika memasuki rumah Aline, Juna langsung menuju eyang papa dan eyang bunda untuk salim.
"Ini yang katanya cucu paling ganteng? Tapi kok masih sendiri?" Kata eyang papa saat Juna mencium tangannya.
"Aura nya masih ketutup. Kayaknya harus di ruqyah atau di ruwat, pa." Eyang bunda bersuara.
"Lho! Yang semalam di jemput, sampe belain keluar kota, bukan pacarmu kak Jun?" Tanya Bima, adiknya Juna.
"Kamu tau darimana?" Tanya Juna sambil bola matanya melirik ke anggota keluarga yang lain, berharap tidak ada yang mendengar.
"Candra... "
Spontan Juna melihat Candra, dan adik bungsu nya hanya menyengir.
"Masih PDKT kali ya?" Tanya Aline.
Ternyata ada yang dengar.
"Namanya siapa? Biar Tante do'ain." Isti ikut bersuara. Rasanya semua mendengar.
"Sabar ya Tan... Ntar kalo uda fix, pasti Juna kenalin kok." Jawabnya.
"Fix?! Berarti pacarmu beneran kak?" Suara Candra sedikit keras. Juna yakin, hampir seisi rumah dengar.
"Namanya siapa?"
"Rumahnya dimana?"
"Kerja?"
Masih banyak pertanyaan menyerbu Juna. Ini karena mulut adek bungsunya yang nggak bisa di kontrol.
Di sisi lain, Ica seperti hari Minggu biasanya dia ke rumah Lusi.
"Kirain nggak kesini." Kata Lusi saat membuka pintu untuk Ica.
"Kenapa? Kamu mau keluar?"
"Nggak. Biasanya abis dari Pandaan, kamu nggak ke sini. Molor."
"Soalnya pulang cepet."
Ica pun bercerita tentang Juna yang menjemputnya dan alasannya.
"Yakin cuma merasa bersalah aja?" Tanya Lusi dan tersenyum.
"Kata dia begitu.... " Jawab Ica sambil memasang payet.
"Bisa jadi sekarang lebih dari rasa bersalah. Sayang mungkin?"
Ica tertawa mendengar tebakan temannya.
"Kalo beneran sayang, rasanya dia nggak normal." Kata Ica dengan sisa tawanya.
"Nggak normal kenapa?"
"Dia uda tau tentang bunda yang sering ngutang.
Dia juga tau buluk nya aku."
"Buluk, soalnya kamu nggak mau peduli sama sekali sama wajahmu, Ca." Kata Lusi.
"Masih percaya kulit sehat cuma olahraga, wudhu, dan makanan sehat?!
Ga ada Ca!
Pasti poles dikit-dikit lah.... " Lanjut Lusi lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
#10 HOLD (TAMAT)
RomanceRisayanti atau yang biasa dipanggil Ica tampak lelah dengan kehidupannya yang tak semanis tetangga atau temannya. Tak ada yang dibanggakan sama sekali. Entah keluarganya, pekerjaan atau dirinya sendiri. Mungkin mengandung cerita dewasa.
