Mereka sudah sampai di rumah Sans. Rumah kecil yang mirip apartemen yang sangat minimalis. Ini rumah lama keluarga Sans di Indonesia. Karena keluarga Sans memutuskan menetap di California, jadi rumah ini dibuat seminimalis mungkin. Awalnya ayahnya Savina menawarkan agar mereka tinggal dirumahnya, tapi Sans merasa tidak enak. Dia sudah menikahi Savina, jadi dia juga yang harus bertanggung jawab memenuhi nafkah istrinya.
Sans menyiapkan semua perlengkapan bayinya. Sans menaruh putranya yang tertidur pulas dengan hati- hati diranjang bayi.
Savina berjalan tertatih- tatih. Lalu duduk disofa.
"Sean sedang tertidur. Aku akan menyiapkan makan malam untuk kita."
Savina hanya menghela napasnya. Dia memilih menonton tv daripada membantu Sans memasak. Membiarkan pria itu masak sendiri.
Savina melirik sekilas ke arah dapur. Sans terlihat sibuk memasak dengan gerakan yang cekatan dan terampil. Saat pria itu memotong sayuran, otot lengannya yang terlihat dari balik lengan baju yang tergulung tanpa sadar menarik perhatian Savina.
Untuk sesaat, Savina terpaku. Ada rasa kagum yang diam-diam menyelinap di hatinya melihat sisi Sans yang jarang dia perhatikan.
Savina segera mengalihkan pandangan, berusaha bersikap biasa saja, meski sudut bibirnya nyaris terangkat tanpa sadar.
Beberapa menit kemudian.
Makanan hangat buatan Sans sudah tersajikan di meja makan.
"Hari ini, aku membuatkan sayur bening untukmu. Dokter menyarankan kau makan makanan bergizi karena menyusui."
"Aku yakin pasti buatanmu tidak enak. Mana mungkin pria arogan seperti bisa memasak."
"Coba cicipi dulu. Setelah itu kau bisa menilainya."
Savina menyendok nasi dan sayur bening, dia mencoba mencicipi masakan buatan pria itu. Betapa terkejutnya rasanya lumayan enak. Tapi Savina tidak mau memujinya di depan Sans.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sans penasaran.
"Biasa saja," sahut Savina datar.
"Kalau begitu aku akan beli diluar."
"Tunggu, aku akan makan ini saja. Tidak baik membuang buang makanan."
Sans tersenyum mendengarnya. Dia duduk didepan Savina ikut makan bersama. Dia sangat senang melihat wanita itu makan dengan lahap masakannya.
"Sans, sebaiknya kita harus membuat kesepakatan untuk kedepannya."
"Kesepakatan?"
"Aku akan tidur terpisah denganmu, dan tetap bekerja, kau tidur dengan putramu."
"Aku sama sekali tidak membatasimu bekerja. Tapi untuk pisah kamar itu tidak mungkin. Karena rumah ini cuma tersedia satu kamar. Mau tidak mau kita harus sekamar."
"Apa?!" ucap Savina tak percaya."Lalu kamar disana untuk apa?" tanya Savina menunjuk pintu yang ada disana.
"Itu gudang. Banyak barang- barang disana."
"Sudahlah, tidurlah bersama aku dan Sean. Apa kau takut tergoda denganku?"
"Haha, mana mungkin. I hate you Sans!"
"I love you Savina."
"Dasar pria gila!" ucap Savina blak-blakan.
Mereka kembali melanjutkan makannya, tanpa disadari sayur bening yang dibuat Sans habis begitu saja.
"Savina. Bukankah impianmu menjadi ibu rumah tangga? Kau bisa dirumah saja dan menghabiskan uangku, kau bisa fokus merawat putra kita Sean."
"Sean buah cinta kita, bukankah kita berusaha agar Sean hadir di dunia ini?dan kita melewatkan malam panas setiap harinya, apa kau masih mengingatnya?" ucap Sans tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Savina
RomanceBermula dari penculikan dan kesalahpahaman yang menyebabkan hidupnya berantakan. Pria itu menyiksanya, menjadikannya jalang sebagai pemuas nafsunya. Sampai suatu hari semuanya terbongkar sampai tak mampu berkata-kata, dan menyadari jika benih- benih...
