Hasil pemeriksaan

2.4K 358 45
                                    

"Hari ini Alvex akan datang."

Tarisa yang sedang mengunyah sarapannya terhenti seketika. Wanita di atas kursi roda itu terdiam cukup lama berusaha mencerna apa yang telah adiknya informasikan.

"Al akan datang? Kau tidak bercanda?" Air mata di pelupuk Tarisa sangat kentara, Bible mengalihkan pandangannya pada selai coklat yang akan ia olesi ke roti.

"Sampaikan apa yang ingin kakak sampaikan padanya." Bible memberi pesan. "Bagaimanapun dia harus tau yang sebenarnya."

"Bib bagaimana bisa? Al benar-benar akan datang?" Tarisa masih tidak percaya. Wanita itu memegang tangan kursi rodanya erat. "Dia mau menemuiku?"

"Ya, dia berjanji untuk datang setelah makan siang." Bible meneguk kopinya untuk terakhir kali, pria itu kemudian berdiri dan mengambil tas kerjanya. "Aku harap diantara kalian menjadi lebih baik." Bible mengusap kepala kakaknya dengan sayang.

Air mata Tarisa akhirnya jatuh membasahi pipi pucatnya. Wanita itu merentangkan tangan meminta Bible memeluknya. Adik semata wayang yang begitu baik dan menyayangi Kakaknya itu berlutut memeluk Tarisa.

"Kau adik yang luar biasa Bible, setelah kakak bertemu dengan Tuhan kakak akan meminta semua kebahagiaan untukmu." Tarisa mengusap punggung adiknya lembut.

Bible melepaskan pelukan keduanya dan menatap Tarisa dengan kesal. "Aku tidak melakukan ini semua untuk mendengar omong kosong." Bible berdiri dengan wajah mengeras miliknya. "Kau bahkan tidak berpikir untuk menemaniku disini, yang ada dalam otak kakak hanya kematian dan kematian. Aku muak." Bible berbalik lalu keluar dari ruang makan. Pria itu bahkan melupakan tas kerjanya karena terlalu emosi.

***

"Biyu pucat banget." Yosa, seorang pelayan wanita di rumah Clau yang akan membereskan kamar Biyu berkomentar. Biasanya kulit Biyu selalu bersinar dengan rona alami dipipinya yang akan terlihat cantik.

"Gak papa mbak Yos, cuma kecapekan aja." Biyu turun dari ranjangnya. Pria itu kemudian membantu pekerjaan Yosa dengan mengambil alih sapu yang diletakan si pelayan di dekat pintu. Biyu terbiasa meringankan tugas Yosa sehingga pelayan itu sudah tidak heran melihat gerak-gerik lihai Biyu yang mulai menyapu kamarnya sendiri.

"Malem berapa pelanggan emang?" Yosa yang mulai membereskan kasur Biyu bertanya dengan sesekali melirik Biyu.

"Satu."

"Tumben," Yosa mengganti sprei. "Mami lagi baik ya sama kamu?"

"Enggak kok, emang kemarin aku dipesan sampe pagi makanya cuma ngelayanin satu." Biyu mencoba mencari alasan paling logis padahal nyatanya semalam ia hanya menemani Alvex kemudian kembali kekamarnya untuk istirahat.

"Sama bos yang bule itu kamu deket ya? Siapa namanya ya, Alex? Alwex? Aldex?"

"Alvex." Biyu mengoreksi. "Biasa aja kok. Kaya sama pelanggan yang lain."

"Ah gak mungkin," Yosa mengibaskan tangannya disela-sela melakukan pekerjaan memasang sarung bantal baru. "Waktu kamu tugas keluar kemarin dia ngamuk. Mami sampai uring-uringan beberapa hari."

Biyu berbalik untuk melihat Yosa. "Siapa yang ngamuk?"

"Ya itu tuan Alvex. Aku sih denger dari anak-anak. Katanya mami sampe diancam gitu sama dia."

"Diancam gimana maksudnya?" Biyu mengernyitkan alisnya.

Yosa menoleh keluar kamar, dirasa aman ia kemudian menarik tangan Biyu untuk duduk dipinggir ranjang. "Aku denger mami Clau dapet suntikan dana dari tuan Alvex. Apa ya namanya? Hmm instansi atau inverasi."

"Investasi?"

"Nah itu," Yosa menunduk agar bisa berbisik. "Tuan Alvex mengancam akan mengambil semua investasinya kalau kamu gak kembali juga. Dia tuh suka sama kamu dari awal Biy."

SLUTWhere stories live. Discover now