Bisakah?

1.8K 281 21
                                    

"Oke dok kalau begitu Terimakasih."

Bible menutup telponnya lalu menyimpan benda itu di atas nakas. Pria itu baru ingat jika Biyu sedang sakit keras sehingga Bible segera berkonsultasi dengan dokter, ia lepas kontrol dan melakukan sex yang brutal. Bible tidak ingin hal buruk terjadi.

"Ughhhh.." Biyu berbalik, pria yang terbungkus selimut itu mencari posisi yang lebih nyaman.

Bible menunduk untuk mencium keningnya. "Tidur yang nyenyak."

***

"Nenek hari ini akan pergi kemakam kakekmu. Apa kau mau ikut?"

Neneknya bertanya setelah menghidangkan secangkir kopi dihadapan sang cucu.

"Tentu."

"Baiklah, pergi bersiap dan bangunkan pacarmu dengan hati-hati. Kau anak nakal membuatnya kelelahan semalaman."

"Nenek." Bible memerah mendengar sindiran neneknya itu.

Ia lalu beranjak untuk kembali ke kamar dan membangunkan si manis.

***

"Hai, pagi.." Bible merasa canggung ketika ia membuka pintu dan langsung dihadapkan dengan wajah cantik Biyunya.

"Aku terlambat bangun." Biyu mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia merasa tidak enak.

"Tidak apa-apa, jangan khawatir." Bible mengusap kepala Biyu lembut. "Hari ini nenek mengajak kita untuk pergi ke makam kakek. Ayo bersiap."

"Aku boleh ikut?"

"Tentu saja. Ayo, kita mandi bersama!" Bible berbisik ditelinga Biyu.

"Bible!" Biyu merasa wajahnya memanas, ia mundur beberapa langkah.

"Bercanda cantik. Aku akan mandi dibawah. Kalau sudah selesai langsung ke ruang makan ya."

***

"Sebentar," Bible menahan langkahnya, ia, Biyu dan neneknya baru tiba di pemakaman. "Aku harus mengangkat telpon, nenek dan Biyu duluan saja."

"Hmm jangan lama." Neneknya mengangguk lalu menarik tangan pemuda lain yang ada disebelah cucunya. "Ayo nak."

"Iya nek."

Letak makam tuan Kusuma cukup jauh dari gerbang pemakaman, butuh waktu hampir lima belas menit untuk sampe kesana.

"Nah ini dia suamiku." Nenek Bible menunjuk makam didepannya dengan senyum lembut. "Ayo perkenalkan diri."

Sembari wanita itu mengeluarkan barang yang dibawanya, ia meminta Biyu untuk mendekat pada makam sang suami.

"Ajak dia bicara, suamiku sangat baik nak."

"Baik nenek." Biyu duduk tepat dipinggir makam. "Selamat siang kek, perkenalkan namaku Biyu. Aku teman Bible—"

"Jangan berbohong dihadapan orang tua." Nenek Bible menepuk pundak Biyu lalu ikut duduk dipinggir pria itu. "Ini pacar cucu kita. Dia sangat manis, kau menyukainya juga, kan?"

Biyu tersipu, ia tersenyum kecil.

"Dulu saat aku seusiamu aku sudah menikah." Nenek Bible meletakan bunga diatas makam suaminya. "Kami hidup bersama selama hampir tiga puluh tahun. Sayangnya dia berkhianat."

Biyu tersentak lalu menoleh pada nenek Bible.

"Tidak, tidak, jangan melihatku seperti itu. Aku bukan wanita yang diselingkuhi suaminya, justru aku terlalu dicintai sehingga dia memberikan segalanya untukku."

Bible memelankan langkahnya ketika mendengar sayup-sayup percakapan neneknya bersama Biyu. Ia lalu menepi, tidak ingin menganggu.

"Dia menyembunyikan penyakitnya dariku, kau tau?" Nenek Bible mengusap makam suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Penyakit itu sama seperti yang diderita cucuku sekarang. Dia menyembunyikannya hingga ajalnya datang agar aku tidak terluka. Tua bangka, aku jauh lebih sekarat karena dia pergi."

SLUTWhere stories live. Discover now