Diusir

1.6K 275 45
                                    

"Aneh sekali, kenapa dia pingsan sangat lama." Ziela Inorta Cubbin, sahabat baik mendiang Tarisa Kusama kini berada di kamar tamu rumahnya.

Wanita cantik itu menatap lurus pada pria yang tadi siang ia temukan pingsan diacara pemakaman Tarisa. Jika Ziela tidak salah, pria yang kini berbaring di atas ranjangnya adalah orang yang sempat berdebat dengan pria tua. Ziela tidak mendengar pasti apa yang terjadi, tapi sepertinya perdebatan serius.

"Rose, kau yakin dia hanya demam?" Ziela menoleh untuk melihat pelayannya yang juga berdiri di sebelah ranjang.

"Sebentar lagi ayahmu datang. Dia akan memeriksanya." Rose, sepupu Ziela kemudian mendekat pada pria di ranjang. "Sepertinya demamnya turun."

Belum sempat wanita itu menbalas ucapan Rose, suara mobil membuatnya buru-buru keluar dari kamar. Ziela sudah hapal diluar kepala dengan suara itu.

"Papa!"

"Hai sayang." Ayahnya yang baru saja melewati pintu utama sedikit kaget melihat putrinya datang dengan terburu-buru. "Kenapa nak?"

"Nanti Zi jelaskan, sekarang ikut Zi dulu." Ziela menarik tangan sang ayah.

Bima tidak punya pilihan lain selain mengikuti putrinya.

Saat tiba dikamar tamu, Rose sudah tidak ada disana.

"Pa, tolong periksa dia."

"Siapa ini?"

"Aku tidak tau." Ziela menggeleng bingung. "Tadi aku menemukannya diacara pemakaman sahabatku."

"Loh, lalu kenapa kamu bawa kesini nak? Bagaimana kalau dia orang jahat?" Sebagai orang tua, pikiran Bima tentu sangat panjang. Pria itu memikirkan risiko berbahaya yang akan diterima putrinya dengan membawa orang sembarangan ke rumah.

"Lihat pa." Ziela membuka selimut yang menutupi tubuh pria diatas ranjang. "Badannya saja kecil begini, mana bisa jadi orang jahat?"

"Badan kecil tidak menjadi jaminan sayang." Bima sedikit menekan kata-katanya.

"Pa, dia sudah pingsan berjam-jam. Kalau papa mau mengomel nanti saja."

Bima masih merasa tidak nyaman namun ia memilih memeriksa pria yang dibawa putranya lebih dulu.

Ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit pucat si pria tanpa identitas dan nama, Bima terdiam. Jantungnya berdebat dengan gila. Beberapa saat ia memperhatikan wajah tenang milik si pria kecil.

"Pa?"

"Hah, eh, sebentar. Masih papa periksa." Bima gelagapan kembali memeriksa kondisi pria itu.

"Demamnya sangat tinggi, denyut nadinya lemah. Zi panggil supir, kita harus membawa dia kerumah sakit secepatnya."

"Apa kondisinya parah?"

"Zi, cepat nak."

Setelah kepergian Ziela, Bima tidak berhenti menatap seraut pucat pria diatas ranjang. Tangannya tanpa sadar mengusap sisi wajah pria yang tidak sadarkan diri itu.

Hatinya merasa getaran aneh.

"Pa, supirnya udah siap. Ziel ambil tas dulu." Ziela berteriak diambang pintu lalu kembali pergi.

"Apa ini? Perasaan aneh." Bima menggelengkan kepalanya kemudian segera membawa tubuh itu untuk duduk.

"Loh? Om, mau dibawa kemana?" Rose yang baru kembali dari dapur dengan sepiring camilan menghadang Bima yang sedang mengendong tubuh pemuda kecil itu di punggungnya.

"Om mau ke rumah sakit, Rose kalau mau pulang minta jemput papa atau mama aja ya. Om pergi dulu."

"Om bentar, om!"

SLUTWhere stories live. Discover now