"Pasien sempat datang untuk melakukan pemeriksaan beberapa waktu lalu, setelahnya ia tidak pernah muncul lagi," Dokter membuka percakapan begitu kedua pria tampan duduk di hadapannya. "Apa mungkin pasien ditangani di rumah sakit lain?" Mengapa keadaannya semakin memburuk dari terakhir kali dia datang kemari?"
"Apa dia benar menderita leukemia?" Alvex bertanya dengan raut tegang, kedua tangannya bertautan di bawah meja. Dia berharap bahwa dokter akan memberinya jawaban yang ia inginkan.
"Betul tuan," Dokter bernama Samuel itu mengangguk. "Kami menyarankan beberapa pengobatan untuknya. Mana yang dia ambil?"
"Dia tidak memberitahu siapapun." Kali ini Bible yang berbicara. "Dia menyembunyikan penyakitnya dari kami semua."
Dokter Sam terlihat kaget. "Menyembunyikan leukemianya maksudmu?"
"Iya."
Samuel hampir tidak bisa berkata-kata, dokter itu lalu menarik nafasnya beberapa saat. "Pantas saja keadaannya semakin memburuk."
"Tidak ada penyakit yang tidak bisa sembuh bukan?" Alvex tiba-tiba berseru lantang. "Sembuhkan Biyu aku akan membayarmu berapapun."
Bible yang ada disebelah pria blasteran itu memijit keningnya pusing. Ia lalu menyenggol lengan atas Alvex. "Tenanglah."
"Bagaimana bisa tenang?! Biyu kecilku menderita sekarang."
Bible berdecak, ia jauh lebih tenang karena sudah berpengalaman dalam keadaan seperti ini. "Biarkan dokter menjelaskannya dulu."
"Baiklah, jadi apa yang bisa dilakukan? Apa operasi?"
"Tentu operasi bisa dilakukan jika berhasil menemukan donor yang cocok." Dokter mengeluarkan beberapa dokumen. "Apa kalian keluarganya? Jika ia silahkan melengkapi formulir ini agar pasien bisa segera terdaftar dalam antrian penerima donor."
"Kau memintanya mengantri?! Tidak. Biyuku harus segera ditangani." Lagi-lagi Alvex berteriak dengan tatapan nyalang.
"Ini prosedur tuan Vandegeer." Bible menyindir.
"Diamlah aku tidak bicara denganmu sialan."
"Cukup jangan bertengkar." Dokter menengahi dua pria yang mulai melempar tatapan tajam untuk satu sama lain. "Sembari menunggu pendonor pasien bisa menjalani kemoterapi. Tapi tentu pasien harus setuju terlebih dahulu. Baik untuk operasi atau kemoterapi."
***
Kelopak mata dengan bulu panjang lentik yang cantik perlahan terbuka, Bible yang bersandar di kursi segera bangun. "Biyu kau sudah sadar? Aku panggil dokter sebentar."
Pria yang terbaring di ranjang hanya bisa mengedip lemah, ia berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
"Biyu sadar?" Alvex yang juga berada di ruangan dan sejak tadi duduk di sofa segera mendekat.
"Jaga dia aku akan memanggil dokter."
Alvex mengangguk, pria itu kemudian berdiri di dekat Biyu dan mengusap punggung tangannya. Alvex mengangguk begitu kedua mata Biyu bertatapan dengannya. "Senang melihatmu bangun."
Suara langkah kaki perlahan mendekat, Alvex menyingkir begitu dokter dan perawat datang untuk memeriksa keadaan Biyu.
***
"Kita bertemu lagi." Dokter menyapa Biyu dengan senyum dibibirnya. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Apa yang terjadi dok?"
***
Biyu menatap kedua pria yang berebut duduk di kursi samping ranjangnya. Setelah dokter memeriksa keadaannya setengah jam lalu ia kemudian diperbolehkan duduk diatas ranjang untuk makan. Lalu di sinilah mereka bertiga sekarang, dalam keadaan aneh yang membingungkan.
YOU ARE READING
SLUT
FanfictionSepertinya Biyu terlalu banyak berkhayal. Tidak ada pangeran yang akan menjemput pelacur seperti dirinya bukan? Apa yang bisa diharapkan dari pria yang datang kerumah prostitusi? Tujuan mereka tentu sudah jelas untuk membeli tubuhnya. Bukankah sem...
