Sudah menjadi ciri khas tersendiri jika dalam sebuah ikatan persaudaraan, ada banyak karakter di dalamnya. Seperti anak-anak lanang Mahendra yang tumbuh dengan perbedaannya masing-masing, mari kita urutkan berdasarkan love language yang berlaku di seluruh dunia.
Hanan, si sulung yang terkenal es batu dan kulkas dua pintu itu nyatanya penganut word of affirmation. Bukan bermulut buaya, Hanan memang bisa memberikan kenyamanan serta ketenangan dengan ucapan dan kata-kata yang ia rangkai. Itulah mengapa Hanan terpilih menjadi ketua BEM, dipercaya untuk memimpin banyak orang dalam satu waktu. Karena selain bisa menjadi penengah diantara perdebatan, Hanan juga bisa menjadi comfort person untuk rekan-rekan seperjuangannya.
"Kamu gak perlu jadiin pencapaian orang lain sebagai tolak ukur buat hidup kamu, Dev. Lakuin apapun sesuka kamu, jangan ngerasa terbebani atas apapun, yang paling mengenal kamu ya dirimu sendiri. Selagi gak ada yang salah dari itu, lanjutin. Kakak dukung sepenuhnya."
Kalimat diatas merupakan contoh dari mulut manis Hanan pada Radev, objek yang selalu mendapatkan kata-kata itu dari Hanan. Mau bagaimana lagi, Radev itu mudah insecure, kalau tidak didorong dengan kelembutan dan pengertian seperti itu, bisa-bisa adiknya semakin tenggelam dalam kolam rasa tidak percaya diri.
Move pada si bungsu Mahendra, Angga. Angga dikenal teman-teman sekolahnya sebagai seseorang yang clingy. Mungkin karena terlahir sebagai anak terakhir dan selalu dimanja oleh Ratih, Angga tumbuh dengan bahasa cinta physical touch yang melekat dalam dirinya.
Jadi, jangan heran jika Angga akan berubah menjadi seperti perangko saat bersama Radev. Karena pada dasarnya, anak itu senang memberi pelukan dan dipeluk. Diantara kakak-kakaknya yang lain, hanya Radev yang bersedia untuk melakukannya. Itulah mengapa Radev seperti ketempelan Angga, dia tidak perlu khawatir kedinginan, karena adiknya itu akan dengan siap sedia memberikan kehangatan melalui dekapan.
"Kak Dev.. Boleh peluk, gak?"
"Boleh.."
Jika Hanan itu bahagia jika bisa memberikan dan mendapatkan kata-kata baik dan Angga senang memeluk juga dipeluk, maka Radev akan jauh lebih bahagia saat berkumpul dengan keluarganya. Darah manusia quality time mengalir ditubuhnya, Radev selalu tersenyum lebar saat sedang bersama keluarga, terutama saudara-saudaranya.
Agak menyedihkan saat mengetahui fakta bahwa Radev tidak bisa menjalani hari-harinya seperti kakak dan adiknya. Ada banyak batasan, ada banyak pantangan, rumah megah itu menjadi saksi seberapa sering Radev menghabiskan waktunya disana. Berbeda dengan saudaranya yang lain, Radev kesepian dalam kesendiriannya.
Ratih itu ekstrovet, bertolak belakang dengan Radev yang mendapat huruf "I" saat tes MBTI. Wanita yang dipanggilnya Bunda itu rajin sekali ikut kumpul dengan ibu-ibu komplek, bahkan tak jarang mengundang mereka untuk datang ke rumah. Radev yang tidak punya teman, semakin dibuat tak berdaya karena harus diam di kamar seorang diri selama berjam-jam.
Terkadang Radev ingin melakukan pemberontakan, dia ingin sesekali kabur dan membuat ulah, misalnya merokok atau nongkrong dengan berandalan pasar. Tapi, sayangnya, baru menghirup asap rokok sedikit saja Radev sudah bengek. Dia memang ditakdirkan untuk jadi anak baik-baik saja.
"Kalian sibuk banget sih, sampe lupa kalo punya saudara lain di rumah. Bisa-bisa aku kabur aja ke Taiwan gara-gara ditinggal sendirian terus."
"Mau jadi TKI kamu?"
"Setidaknya dapet uang dan gak akan kesepian. Disini aku mengkerut sendirian dan tambah miskin, capek."
Ya, selain suka insecure, Radev juga agak lebay.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sacrifice: Askara Devan [END]
Fanfiction[ Brothership, Sicklit, Angst ] ㅡ TERSEDIA VERSI CETAK Namanya Askara Devan, tapi akrab disapa Radev. Punya 2 kakak dan 1 adik, tapi semua orang memperlakukan dia berbeda karena katanya Radev itu istimewa. Kalau kata Sangga, Radev mirip kayak kaca...
![Sacrifice: Askara Devan [END]](https://img.wattpad.com/cover/341371971-64-k309494.jpg)