Hanan sedang meminum teh hangatnya pagi ini saat sang ayah, Mahendra, datang dengan segelas kopi yang asapnya masih mengepul. Mereka duduk berdampingan sembari menatap pemandangan jalanan yang masih lenggang. Tentu saja, ini weekend. Orang-orang pasti akan memilih untuk beristirahat agar siap menghadapi hiruk pikuknya kehidupan di pusat kota yang terkadang menciptakan banyak umpatan.
"Nan, kamu tau gak kenapa ayah suka melihara burung?"
"Kenapa?" Tanya Hanan cukup penasaran.
"Karena kalo melihara singa udah ada Bunda."
Mahendra tertawa keras setelah mengatakan itu, sedangkan Hanan langsung melihat ke dalam rumah, takut-takut kalimat barusan didengar oleh Ratih. Entah karena pergaulan bebas atau bagaimana, pasti selalu ada jokes baru yang pria itu berikan. Hanan memang akan selalu menanggapiㅡmenghargai, tapi tidak dengan Jovan yang akan menampilkan wajah datar, Radev dan Angga yang akan terlihat kebingungan sendiri. Rasanya seperti Hanan terlahir sebagai sulung untuk alasan yang satu ini.
"Yah, kalo Ayah tau gak kenapa aku milih kuliah Bisnis?"
"Kenapa tuh?"
Hanan meminum tehnya terlebih dahulu, "Ya, nggak tau. Aku kan nanya sama Ayah."
Mahendra menghela napas kasar, "Kirain mau nge-jokes." Pria itu kemudian meminum kopinya hingga tersisa setengah, "Maaf, ya, kalo kamu ngerasa terbebani kuliah Bisnis. Ayah gak tau harus ngandelin siapa lagi buat lanjutin perusahaan nanti. Radev dan Angga perjalanannya masih jauh, Jovan tau-tau udah masuk teknik aja," lanjutnya.
"Aku gak ngerasa terbebani kok, aku enjoy aja."
"Baguslah kalo gitu."
Hening beberapa saat, keduanya mulai fokus pada pemikiran masing-masing. Hanan mulai mengingat kembali program kerja BEM yang belum rampung, Mahendra juga tiba-tiba teringat janjinya untuk ikut kumpul karang taruna nanti sore. Ah, padahal di hari libur seperti ini, Mahendra ingin bersantai fullday.
"Katanya adik kamu mau masuk teknik juga kayak Jovan," ucap Mahendra dengan tatapan yang masih fokus ke depan.
"Kok? Radev kan tau kerasnya kuliah di teknik kayak apa."
"Ayah juga gak tau, mau larang juga gimana.. Adek kamu keliatan yakin banget sama pilihannya." Mahendra mulai mengeluarkan sebatang rokok dari dalam saku celananya beserta pemantiknya. "Harusnya dia udah dapet spoiler dari muka loyonya Jovan, tapi katanya gak apa-apa," lanjutnya.
Hanan kini fokus melihat benda yang ada di mulut ayahnya itu, asap keluar darisana saat Mahendra selesai menghisap partikel nikotinnya.
"Anaknya punya asma, Pak." Hanan mengingatkan.
Mahendra tertawa kecil, "Gak ada Radev kok disini. Kamu sok polos aja, Nan. Padahal nge-vape juga."
"Ini keluarga emang kayaknya mau punya masalah paru-paru semua," ucap Hanan bergurau. Mahendra kembali tertawa dibuatnya.
Mahendra tahu ia salah, sangat salah. Saat ia berusaha mati-matian mempertahankan paru-paru Radev agar tetap sehat, tapi ia sendiri merusak miliknya dengan tembakau itu. Tapi, Mahendra juga bingung, tidak ada stress relief lain yang bisa ia lakukan selain ini. Ratih melarangnya untuk menikah lagi, burung-burung pemiliharannya juga tidak bisa akrobat. Rokok menjadi pilihan terakhir daripada harus ikut memancing dengan penghuni komplek yang lain, ia tidak minat.
Tentang Hanan, laki-laki itu sama saja seperti ayahnya. Walaupun hanya vape, tapi ya tetap saja. Alih-alih beralasan jika benda itu "lebih sehat" daripada rokok, bagi Radev, keduanya sama-sama alat pembunuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sacrifice: Askara Devan [END]
Fanfiction[ Brothership, Sicklit, Angst ] ㅡ TERSEDIA VERSI CETAK Namanya Askara Devan, tapi akrab disapa Radev. Punya 2 kakak dan 1 adik, tapi semua orang memperlakukan dia berbeda karena katanya Radev itu istimewa. Kalau kata Sangga, Radev mirip kayak kaca...
![Sacrifice: Askara Devan [END]](https://img.wattpad.com/cover/341371971-64-k309494.jpg)