25. Want to Give Up?

8K 705 99
                                        

Suara pintu yang dibuka secara mendadak merebut seluruhnya atensi Ardhi. Penggaris berukuran 100 sentimeter itu lepas dari tangan begitu saja, Ardhi bisa merasakan ada kepulan asap di atas kepala karena emosi. Dirinya sedang berada di level stress yang tinggi, tapi Ren dengan seenaknya hampir merusak engsel pintu.

"Lo gak liat gue lagi bikin rancang bangun, hah?!"

Ren menarik dan membuang napas dengan cepat, ia agak terengah karena berlari bercampur perasaan panik. "Jovan barusan ngabarin gue, katanya Radev hilang!"

"Terus? Urusannya sama gue apa?"

Ren mendengus kesal, "Radev adek kita juga, Dhi! Ayo ikut bantu nyari tuh anak!"

Sebenarnya Ren sendiri tidak tega jika harus mengganggu Ardhi dengan tugas besarnya, tapi siapa lagi yang bisa ia ajak selain laki-laki itu? Pesan dari Jovan juga tidak mengandung unsur pemaksaan untuk ikut membantu, tapi naluri kemanusiaan membuat Ren ingin turut serta bergerak.

"Gue gak bisa, lo aja yang pergi."

"Dhi, sumpah?" Ren menatap tak percaya sahabat sekaligus rekan satu kosannya itu. Ia tahu bahwa Ardhi memiliki sifat ambisius yang jauh lebih tinggi dari miliknya, apalagi gelar mahasiswa berprestasi (mapres) sedang diperjuangkan anak itu sedemikian rupa.

Anggukan pelan terlihat, Ardhi benar-benar tidak mau meninggalkan tugasnya, seolah tak peduli dengan kemungkinan terburuk apa yang bisa terjadi pada Radev di luar sana.

"Dhiㅡ"

"Gue bilang nggak ya nggak. Pergi lo!"

***

"Terima kasih kepada seluruh pihak yang ikut dalam perjalanan saya selama ini, sehingga saya bisa meraih penghargaan ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Terima kasih kepada seluruh pihak yang ikut dalam perjalanan saya selama ini, sehingga saya bisa meraih penghargaan ini."

Riuh tepuk tangan mengisi area aula kampus. Hari ini adalah hari wisuda gelombang pertama. Bukan, Jovan masih butuh sekitar 2 tahun lagiㅡwaktu normal bagi anak Teknik lulus studi. Untaian kata demi kata yang terucap itu sebagai speech atas prestasi yang sudah diraihnya.

Memiliki otak pintar tentu saja tidak disia-siakan oleh Jovan. Dengan seluruh kemampuannyaㅡbeserta anggota tim yang siap bekerja sama, robot dengan bantuan chip AI itu berhasil masuk ke kompetisi internasional. Membawa harum nama kampus ke kancah dunia.

"Bestie gue keren banget gila," ucap Ren tak hentinya memberikan tepukan tangan yang meriah. Berbeda dengan Ardhi, laki-laki itu justru terlihat lunglai ditempatnya.

"Lo kenapa, Dhi? Sariawan? Diem mulu."

"Padahal gue udah beda jurusan sama dia, tapi tetep aja gue kalah, ya?" Gumam Ardhi dengan nada pelan, namun masih bisa didengar oleh Ren.

"Lo ngomong apaan? Kalah dari siapa?"

Ardhi melirik kearah Ren, "Lupain."

Sejak SMA, Jovan dan Ardhi itu dikenal sebagai duo langganan olimpiade. Tapi, kendati menjadi rival dan saling menjatuhkan, mereka berdua justru menjalin hubungan damai yang tetap bertahan sampai sekarang. Walaupun seringkali orang-orang membandingkan keduanya, tapi tak ayal menjadikan persahabatan mereka retak karenanya.

Sacrifice: Askara Devan [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang