Jovan ingat dengan jelas semua kata-kata yang sempat terucap dari mulut dokter Farid tentang kondisi adiknya saat ini. Radev memang masih hidup walaupun kesadarannya hilang di kedalaman dan jatuh dalam ruang yang tidak bisa Jovan raih. Ia tidak tahu kapan adiknya akan bangun, tapi satu hal yang Jovan tahu, adiknya masih mau untuk berjuang.
Sepeninggal Mahendra dan Ratih untuk pulang sebentar, Jovan mendapatkan amanat untuk menemani Radev. Tentu saja dengan sepenuh hati Jovan bersedia melakukan itu, bahkan jika ia harus mengorbankan waktu istirahatnya sekalipun.
Ada banyak kalimat yang terlontar dari sosok kaku seperti Jovan, mungkin Ardhi atau Ren akan menjadikan hal itu sebagai lelucon. Bagaimana tidak, Jovan itu irit bicara, ia hanya akan bersuara jika memang diperlukan. Tapi, berbanding terbalik dengan yang dilakukannya sedari tadi. Jovan sibuk bercerita, pada lawan bicara yang tidak akan menanggapinya.
Dokter Farid menjelaskan, pasien koma memang kehilangan kemampuan untuk merespon sekitarnya, tapi dalam beberapa kasus, mereka masih bisa menerima rangsangan baik berupa suara atau sentuhan. Seperti Radev saat ini, mata anak itu masih terpejam erat, deru napasnya juga masih terdengar stabil, adiknya masih betah berada dalam mimpi berkepanjangan yang entah seindah apa. Tapi, Jovan percaya suaranya dan sentuhan lembut yang ia berikan itu mampu menyadarkan Radev bahwa ada banyak orang yang menunggunya untuk bangun.
"Katanya bulan depan bakal ada masa bimbingan. Kamu gak mau ikut, Dev? Seru tau acaranya, walaupun bikin capek, tapi itu ajang paling manjur biar bisa dapet banyak temen baru." Jovan kembali mengusap keringat yang membasahi leher Radev dengan handuk kecil, "Ardhi sama Ren jadi panitianya, tapi kali ini kakak udah ancam Ren. Dia gak bakal bikin kamu sakit lagi."
Sakit rasanya saat semua ucapan Jovan hanya disahuti oleh monitor bedside yang berbunyi teraturㅡpun bunyi lain dari ventilator mekanik yang masih menopang hidup adiknya sampai detik ini. Dalam ruangan yang dipenuhi oleh kesedihan, meski langit tampak kelam, keyakinan atas datangnya keajaiban masih merambat di antara mereka. Jovan yakin Radev pasti akan bangun.
"Lain kali, kalo ada yang jahatin kamu, jangan diem aja. Paling tidak praktekin jurus beladiri yang pernah Angga ajarin sama kamu," ucap Jovan sebelum menarik napas panjang, "Kalo diem terus kayak gini, nantinya makin banyak luka yang kamu dapet."
Iya, luka. Jovan semakin merasa tidak berguna sebagai seorang kakak saat mengetahui bahwa luka di tubuh Radev ternyata tidak hanya di satu titik, tapi banyak, dan sudah berbekas. Hal itu tentu saja memberikan pukulan telak bagi keluarga Mahendra dengan fakta bahwa mereka telah kecolongan sejak lama.
***
"Sial!"
Bayu sedikit terperanjat saat Hanan tiba-tiba memukul dinding disampingnya dengan cukup keras. Pandangan Hanan tak juga lepas dari tampilan pada monitor yang memperlihat rekaman CCTV di beberapa titikㅡlebih tepatnya di titik yang kemungkinan dilewati pelaku pemukulan Radev.
Para suruhan Mahendra sudah menghabiskan waktu lebih dari 3 hari untuk mengerjakan tugas mereka, namun hasilnya nihil, sebagian besar alat pemantau disana sudah tidak lagi berfungsi. Wajar saja, hanya ada bangunan terbengkalai tak layak pakai yang masih berdiri kokoh, tidak ada kehidupan, semua orang bahkan bebas melakukan tindakan kejahatan apapun disana karena jauh dari pemukiman. Tiap upaya yang dilakukan seolah sia-sia, Hanan merasa terjerat dalam labirin keputusasaan yang semakin rumit.
Lagi, Hanan menghela napasnya kasar, ia merutuki banyak hal. Rekaman CCTV yang tidak berguna, pun dirinya sendiri yang tidak bisa berbuat apapun. Radev disana masih tertidur dan keadilan yang ia janjikan untuk sang adik belum juga bisa didapatkan. Kegelisahan melilit dalam dadanya, seakan menggenggam bara api yang tak pernah padam. Demi apapun, Hanan ingin segera menjebloskan pelaku ke dalam jeruji besi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sacrifice: Askara Devan [END]
Fiksi Penggemar[ Brothership, Sicklit, Angst ] ㅡ TERSEDIA VERSI CETAK Namanya Askara Devan, tapi akrab disapa Radev. Punya 2 kakak dan 1 adik, tapi semua orang memperlakukan dia berbeda karena katanya Radev itu istimewa. Kalau kata Sangga, Radev mirip kayak kaca...
![Sacrifice: Askara Devan [END]](https://img.wattpad.com/cover/341371971-64-k309494.jpg)