09. Bahrun's

8.1K 775 25
                                        

Terhitung tinggal 3 hari sebelum Radev melaksanakan UTBK atau Ujian Tulis Berbasis Komputer, sebagai salah satu jalan untuk masuk ke universitas impian. Hanan kali tidak berangkat ke kampus sendirian, ia turut serta membawa sang adikㅡRadev ikut bersamanya. Hitung-hitung memperkenalkan lingkungan kampus, biar gak terlalu planga-plongo pas ospek katanya. Padahal dapat predikat lolos aja belum pasti.

"Kita ke Sekre BEM kakak, ya? Temen-temen kakak mau kenalan sama kamu soalnya," ucap Hanan sembari fokus menyetir. Radev hanya mengangguk saja, lagipula sudah lebih dari 20 menit mereka berkeliling disana.

Mobil sudah terparkir di lahan yang memang disediakan pihak kampus, hanya berjalan beberapa meter dan kini Radev sudah melihat banyak mahasiswa tengah berkumpul. Tulisan BEM FEB terpampang jelas dan besar diatas pintu, beberapa orang yang semula berkumpul fokus pada satu hal, kini mereka mengalihkan pandangan kearah Radev setelah suara Hanan menginterupsi.

"Nan, itu siapa?" Tanya salah satu penghuni sekretariat BEM.

"Askara Devan, adek gue, yang sering gue ceritain."

"RADEV?!"

Radev pikir ia akan aman setelah bertemu dengan teman-teman kakaknya, apalagi mereka terlihat begitu beribawa dan dewasa. Tapi, tepat setelah menyadari bahwa Radev adalah pemeran utama dari setiap cerita yang Hanan bawa kesana, Radev kini merasa hidupnya terancamㅡralat, hanya pipinya yang terancam.

Cewek-cewek yang entah angkatan atau jurusan apa itu tak hentinya menyubit, mengusap, dan gemas sendiri pada Radev. Mereka sesekali menggerutu karena Hanan baru membawa Radev kesana setelah sekian lama penasaran dengan sosok 'adik manis' Hanan itu.

"Heh, udah, udah. Adek gue nanti bengek-nya kambuh." Itu bukan suara Hanan, melainkan suara Bayu yang baru saja tiba dengan kantong plastik berukuran besar berisi cemilan.

Hanan mendelik, "Siapa yang lo panggil adek, hah?"

"Galak banget, Pak. Padahal Radev sendiri gak masalah."

Radevㅡyang menjadi topik obrolan itu lantas mendekat kearah Bayu, menyalami laki-laki itu seperti kepada orang tua. Bukan hal yang aneh sebenarnya, malah itulah kebiasaan sopan santun yang mesti diterapkan di segala lingkungan apalagi kepada orang yang lebih tua. Tapi, di jaman sekarang dan di lingkungan Bayu sekarang berbeda, kejadian barusan sontak saja menjadi pemicu tawa dari semua orang.

"Bay, cocok lu jadi bokapnya Radev."

"An****!"

Hanan langsung menjitak kening Bayu saat umpatan itu keluar dari bibirnya. Memang sudah menjadi hal lumrah disana, tapi Radev selama ini selalu dikelilingi oleh kata-kata baik dan sopan. Hanan tidak mau sepulang darisana adiknya jadi terkontaminasi.

Setelah 'keributan' barusan, Hanan kemudian membawa Radev untuk duduk di bangku panjang yang terdapat di depan sekretariat. Beberapa orang ikut duduk disana, bahkan kini Radev sudah diapit 2 perempuan cantik. Bayu hanya bisa memelas melihat itu, karena salah satu perempuan disana adalah crush-nya.

"Matiin rokok lo, Lang." Hanan menepuk pundak Gilang, wakilnya itu dengan pelan. Gilang yang semula fokus bermain mobile legend lantas menoleh dan agak terkejut melihat kehadiran adik Hanan disana.

"Radev bentar lagi kuliah, ya? Masuk sini kan, Dev?" Tanya Sonya, salah satu perempuan yang duduk disana sekaligus bendahara BEM.

Radev mengangguk pelan sebagai jawaban. Wajahnya yang polos, tubuhnya yang agak lebih pendek dari mereka, lalu outfit yang dikenakan itu tentu saja membuat Radev terlihat sangat menggemaskan.

 Wajahnya yang polos, tubuhnya yang agak lebih pendek dari mereka, lalu outfit yang dikenakan itu tentu saja membuat Radev terlihat sangat menggemaskan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sacrifice: Askara Devan [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang