"Bun, aku disini dulu, ya?"
Ratih menatap tak percaya atas penuturan putera ketiganya itu. Dokter mengatakan bahwa keadaan Radev sudah cukup baik untuk dibawa pulang, tapi kini anak itu malah bersikukuh ingin stay di Rumah Sakit.
"Memangnya kenapa, sayang? Kamu kan udah baikan. Biasanya kamu pengen cepet-cepet pulang, kok sekarang malah pengen disini dulu?" Tanya wanita yang sedari tadi sibuk mengupas buah apel itu. Tidak ada orang lain disana selain mereka berdua.
"Aku.. Cuma pengen aja.."
Bohong. Jelas terlihat jika Radev sedang berbohong saat ini. Siapa juga orang yang akan betah berlama-lama di tempat itu? Mencium aroma disinfektan dan mendengar berbagai suara yang tak nyaman di hati saja seharusnya cukup menjadi alasan kuat untuk seseorang segera beranjak darisana. Tapi, Radev justru ingin tinggal lebih lama. Kalau ditanya alasan apa, Yoanalah alasan utamanya.
Tanpa sengaja Radev mendengar percakapan antara Hanan dan sang Oma melalui panggilan telepon, dialog singkat yang menginformasikan jika besokㅡatau lebih tepatnya hari ini, Yoana akan datang ke rumah. Bukan tanpa alasan Radev ingin tetap berada di Rumah Sakit, ia hanya belum siap jika harus terluka lagi. Ia belum siap menerima hadiah dari Yoana, dalam bentuk apapun itu.
"Pulang aja, ya? Oma bakal datang hari ini. Memangnya kamu gak kangen sama Oma?" Tanya Ratih sekali lagi membujuk.
Radev menggeleng, "Aku gak apa-apa kok ditinggal sendirian disini. Lagipula.. Aku masih agak lemes, Bun. Semalem kan aku demam juga."
"Sayang, gak enak kalo Oma dateng tapi kamu gak ada, nantiㅡ"
"Radev biar saya aja yang jaga, Bu. Efek demam semalam masih ada, jadi biar Radev tetep nginep sampe besok atau lusa," ucap dokter Farid yang tiada angin tiada hujan sudah ikut bergabung di dalam obrolan ibu dan anak itu.
Setelah cukup lama menimbang-nimbang, akhirnya Ratih menyerah juga dalam usaha membujuk Radev. Walaupun hatinya sangat berat, tapi mau bagaimana lagi, wajah puteranya itu masih pucat. Ia juga tidak bisa pergi terlalu lama, Yoanaㅡibunya itu pasti akan merajuk jika tidak ada dirinya di rumah.
"Dokter Farid, saya titip Radev, ya?" Ratih kemudian beralih untuk menatap wajah lain yang tengah bersandar pada kepala ranjang itu, "Bunda bakal secepatnya kesini lagi, kamu jangan nakal, oke? Nurut sama dokter."
"Iya Bunda.."
Radev menghela napas panjang setelah Ratih telah benar-benar menghilang dari pandangan. Ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan, tapi ia juga tidak mau menambah lagi yang baru. Dokter Farid masih berada disana, memeriksa beberapa alat untuk memastikan fungsinya masih tetap bagus.
"Dok." Panggil Radev, "Makasih atas bantuannya."
Farid ikut tersenyum mendengar ucapan Radev dan kekehan yang mengakhiri kalimatnya itu, "Ini gak gratis, Radev. Kamu ada hutang penjelasan sama saya."
"Hutang penjelasan apa?"
"Tentang bekas luka di punggung kamu."
"Luka apㅡDOKTER LIHAT?!"
Farid cukup terkejut saat Radev tiba-tiba berteriak, pun dengan mata membulat seolah tidak percaya atas ucapannya barusan.
"Saya ini dokter kamu, Radev. Orang yang periksa tubuh kamu, orang yang ikut membantu mengganti pakaian kamu juga. Jadi, bagaimana saya tidak tahu dengan hal itu?" Farid kemudian menepuk pundak pasiennya itu pelan. "Bekasnya ada yang sudah menghitam, tapi ada juga yang terlihat masih baru. Saya yakin keluarga kamu tidak mungkin melakukan kekerasan, apa kamu korban bully di sekolah dulu?" Lanjutnya bertanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sacrifice: Askara Devan [END]
Fanfic[ Brothership, Sicklit, Angst ] ㅡ TERSEDIA VERSI CETAK Namanya Askara Devan, tapi akrab disapa Radev. Punya 2 kakak dan 1 adik, tapi semua orang memperlakukan dia berbeda karena katanya Radev itu istimewa. Kalau kata Sangga, Radev mirip kayak kaca...
![Sacrifice: Askara Devan [END]](https://img.wattpad.com/cover/341371971-64-k309494.jpg)