29. What's Next?

8.7K 654 85
                                        

Rekomendasi Lagu
Setelah Kau Tiada - Jenifer Wirawan

***

Temaram cahaya di dalam kamar itu menyambut kedatangan Angga. Kemeja hitam dan celana berwarna senada, pun sedikit jejak tanah basah menempel di beberapa bagian. Matahari hampir tenggelam di ujung cakrawala, tapi duka bagai menyelimuti Angga dengan eratnya.

Nebulizer masih setia berada di atas nakas, entah akan disimpan dimana setelah iniㅡatau mungkin akan berpindah tangan ke orang yang lebih membutuhkan, Angga tidak tahu. Ia hanya tahu, seseorang yang dulu sering menggunakannya, seseorang yang akan tersenyum saat Angga masuk untuk menemani, seseorang yang menjadi pemilik ruangan ini kini telah benar-benar membaur bersama bintang-bintang di atas sana.

Meninggalkan Angga dalam sesak yang tiada akhir.

Angga mendudukkan dirinya di tepian ranjang, tangannya mengusap sprei dengan perlahan. Kini hanya didominasi keheningan, tak akan ada lagi suara lembut Radev yang memanggil namanya.

"Angga gimana di sekolah?"

"Kakak liat di mading, kamu menang kompetisi taekwondo, ya? Adek kakak bener-bener hebat!"

"Jangan terlalu memforsir diri kamu, dek. Nanti sakit."

"Kalau Angga sakit, kakak gak kuat liatnya."

"Kakak bangga sama kamu, dek! Kamu hebat!"

Tanpa seizin darinya, air mata itu kembali tumpah dengan mudah. Padahal ia sudah menguras banyak di depan rumah baru Radev tadi, tapi ternyata masih stok yang tersisa. Kakaknya itu, apakah sudah bahagia sekarang?

Setiap kali melihat Radev menjalani terapi, meminum banyak obat, bahkan harus rutin ke Rumah Sakit. Dalam hati Angga bertanya, sampai kapan ia harus melihat kakaknya bergelung dengan rasa sakit seperti itu? Dalam doa yang selalu terpanjatkan, Angga berharap Tuhan berbaik hati memberikan kesempatan bagi Radev untuk merasakan sehat.

Benar, kan? Tuhan mengabulkan doanya. Kini Radev telah benar-benar sehat, tak ada lagi rasa sakit, kakaknya sudah tertidur tanpa takut kehabisan napas lagi. Radev telah menemukan kedamaian yang selama ini dirindukannya.

Angga seharusnya senang, bukan? Tapi, kenapa ia justru menangis? Angga menggenggam erat inhaler milik Radev dengan sebelah tangan lain yang tak henti memukul bagian dada, tepat di titik sesak itu berada.

Angga seharusnya senang, bukan? Tapi, kenapa ia justru menangis? Angga menggenggam erat inhaler milik Radev dengan sebelah tangan lain yang tak henti memukul bagian dada, tepat di titik sesak itu berada

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kak, aku selalu bilang kalo aku akan ikut kemanapun kakak pergi. Aku gak akan biarin kakak sendirian. Tapi, kak ..." Angga menarik napasnya, mendongak menatap langit-langit kamar Radev yang kian terasa menyesakkan dada. "Kalau kak Radev pergi sejauh ini, gimana cara aku bisa ngeraihnya?"

"Kak Radev pengen aku tetep ngelanjutin hidup, tapi kakak gak pernah ajarin aku gimana caranya bertahan tanpa kakak ... Gimana caranya tetep hidup saat kakak udah pergi, apa kakak pernah mikirin hal ini?"

Sacrifice: Askara Devan [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang