Terhitung sudah satu minggu lebih sejak perang dingin yang terjadi antara Hanan dan Bayu.
Hanan itu terkadang tidak terbantah, lalu dipertemukan dengan Bayu yang keras kepala. Sekali ada masalah yang melibatkan kedua insan itu, maka satu-satunya pilihan adalah diam dan menunggu mereka berdamai dengan sendirinya. Tidak ada artinya ikut campur, batu bertemu batu tidak akan melunak semudah itu.
Sekretariat BEM selayaknya ruang sidang di pengadilan, mencekam dan menegangkan. Program kerja yang menjadi unggulan Bayu telah terlaksana dengan baik. Satu atau dua kritikan bukan masalah besar, itu sudah jadi makanan sehari-hari. Tapi, perseteruan antara ketua BEM dan ketua pelaksana kegiatan itu belum juga usai. Gilangㅡselaku wakil ketua BEM yang selalu menjadi korban.
"Nan, boleh ngobrol bentar?"
Hanan menoleh, Gilang lantas memberi isyarat agar laki-laki itu duduk sebentar. Keadaan sekitar sekretariat sedang sepi, entah karena memang masih terlalu pagi atau karena hari ini tidak ada acara maupun rapat. Intinya, Gilang rasa ini adalah saat yang tepat untuk deep talk.
"Kenapa, Lang? Muka lo serius banget."
"Hm, gue mau ngobrolin hal yang serius sama lo."
"Kalau tentang demo yang diajuin BEM Universitas, gue gak mau! Mereka aja gak ngasih bahan kajian sama kita, gimanaㅡ"
"Ini bukan tentang demo, Nan. Ini tentang lo sendiri." Tukas Gilang. Hanan mengernyitkan dahi, bingung. Sekali lagi Gilang memberi isyarat agar Hanan ikut duduk bersamanya, hingga akhirnya partner-nya itupun menurut.
"Tentang lo sama Bayu, mau sampai kapan kalian berdua gitu terus?" Gilang memulai obrolan, ia menjeda ucapannya menunggu reaksi dari si lawan bicara, tapi ternyata Hanan hanya diam saja. "Masa periode kita hampir habis, tahun depan udah waktunya fokus skripsian. Iya, gue tahu, Nan. Kesalahan Bayu kemaren cukup fatal, tapi akhirnya semua berjalan baik, kan? Apalagi yang lo khawatirin?" Tanya Gilang.
Hanan hanya menghela napas kasar, ia sendiri bingung harus merespon bagaimana lagi. Ucapan Gilang tidak sepenuhnya salah. Program kerja sudah berjalan, walaupun masih ada tahapan akhir yaitu membuat laporan pertanggungjawaban, tapi paling tidak semuanya telah terlaksana sesuai proposal dan timeline. Hanan sendiri juga bingung, kenapa ia jadi seperti ini?
"Damai, Nan. Damai sama Bayu. Kalo lo berdua sama-sama gak mau ngalah, mau gimana BEM kedepannya? Mau gimana di musyawarah besar nanti? Ini bakal jadi boomerang buat demisioner, seandainya mereka tau pilar di periode kali ini agak retak." Gilang kembali bersuara.
"Gue belom siap, Lang." Hanan beradu tatap dengan wakilnya itu, "Gue gak bisa semudah itu damai sama Bayu, Lang."
"Kenapa? Kalian sahabatan udah lama, kan?" Gilang menjeda ucapannya, kemudian memijit pangkal hidungnya. "Apa ini karena Sarah, lo gak bisa damai sama Bayu?"
"Sarah, ya?"
***
Dengan langkah lebar, Radev mengulas senyum yang sama lebarnya. Ia menyapa tanpa ragu orang-orang yang dilewatinya dengan senyuman. Ada yang membalas dengan senyuman, ada pula yang membalas dengan tatapan aneh.
Memang aneh, Radev terbiasa menunjukkan wajah datar dan menundukkan kepala itu, kini terlihat begitu sumringah.
"Abis menang lotre dimana lo?"
Radev menoleh saat mendengar suara yang ia kenali itu dari arah belakang. Orang itu adalah Raka, berdiri dengan satu tangan yang dimasukkan ke dalam saku jaket, lalu sebelah tangan lainnya memegang tas yang tersampir di pundak kanan.
"Raka! Kebetulan banget, kita ke kelas bareng aja yuk!"
"Lo belom jawab pertanyaan gue."
Radev tertawa kecil, "Bukan menang lotre kok, tapi aku emang lagi seneng aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sacrifice: Askara Devan [END]
Fanfiction[ Brothership, Sicklit, Angst ] ㅡ TERSEDIA VERSI CETAK Namanya Askara Devan, tapi akrab disapa Radev. Punya 2 kakak dan 1 adik, tapi semua orang memperlakukan dia berbeda karena katanya Radev itu istimewa. Kalau kata Sangga, Radev mirip kayak kaca...
![Sacrifice: Askara Devan [END]](https://img.wattpad.com/cover/341371971-64-k309494.jpg)