27. One Step Closer

7.5K 679 38
                                        

"Lo gak mau masuk, Rak?"

Raka menggeleng pelan. Ia meremat ujung jaketnya saat Ren telah sepenuhnya hilang dari pandangan. Sejak awal, sejak teman kakaknya itu mengajaknya untuk menjenguk Radev, hatinya luar biasa gelisah. Entah mengapa, rasanya Raka belum siap untuk melihat kondisi Radev saat ini.

Taman Rumah Sakit memang tempat pelarian terbaik. Langkah gontai nan lesu itu membawa tubuh Raka untuk duduk di salah satu kursi. Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian malam itu dan sampai detik ini semuanya tetap sama, rasa bersalah itu masih saja menghantui setiap hembusan napasnya.

Ada banyak lara hidup yang sudah pernah Raka cicipi. Pindah dari kota satu ke kota lain karena orang tuanya, bukan lagi masalah besar. Sama halnya ketika sang Ayah mengatakan akan menikah dengan Ibunya Ardhi, Raka tak terlalu memusingkan hal itu.

Kesalahan terbesar Raka adalah ia terlalu mudah menaruh kepercayaan pada seseorang, hingga akhirnya hanya kekecewaan yang bisa ia telan.

"Kamu mau bantu kakak kan, Raka?"

Kalimat itu masih tercetak jelas dalam ingatan. Bagaimana tidak, semua rasa bersalah dan penyesalan dalam diri Raka berawal dari kalimat itu. Seandainya saja ia bisa lebih tegas untuk menolak dan tidak lemah akan ancaman, semuanya mungkin akan baik-baik saja.

"Kamu pasti paham, Rak. Paru-paru Radev itu lemah, dia juga ketergantungan obat. Ada di luar dalam keadaan kambuh, obatnya hilang, belum lagi udara dingin. Sebuah keajaiban kita masih punya kesempatan buat ngeliat dia lagi."

Rasanya percuma saja jika Raka merutuki semuanya saat ini. Menarik rambut dan memukul kepala hanya akan membuat orang lain menganggapnya gila, walaupun mungkin sebentar lagi ia akan benar-benar gila.

Pelik hidup milik Radev benar-benar Raka benci. Anak itu sangat baik, tak peduli sebanyak apa pasang mata yang memperlakukannya remeh, tapi Radev tak sekalipun mengurangi lebar senyumnya. Bagaimana bisa anak sebaik itu harus menanggung akibat dari kesalahan saudaranya sendiri, itulah yang membuat Raka sangat marah.

Sekali lagi, sebuah batu segenggam tangan Raka lempar sembarang arah. Untungnya tidak sampai mengenai orang lain, tapi cukup untuk menarik atensi seseorang.

"Jangan lempar batu, nanti kalo kena orang yang lewat, gimana?"

Suara itu menarik dagu Raka untuk mendongak. Menatap sepasang iris teduh yang baru pertama kali ia lihat, balutan seragam SMA memperjelas status anak itu saat ini. Sangga Ranjaya, nama yang tertera pada kemeja putih itu sontak membuat Raka mengernyitkan dahi, ia merasa tidak asing.

"Kamu mau tau? Aku juga punya adik, namanya Sangga, tapi dia lebih suka dipanggil Angga. Anaknya random dan lucu, kapan-kapan aku bawa Raka ketemu dia."

Mata Raka membulat saat suara Radev kembali terngiang di dalam kepala. Anak laki-laki ini ... Sangga? Adiknya Radev? Astaga, dunia ini sekecil apa?

"Aku ikut duduk disini deh, boleh kan?"

Raka mengangguk. "Kamu lagi jenguk pasien?" Tanyanya pura-pura seperti tidak mengenal Angga.

"Iya, kakakku. Dia lagi sakit, sakit parah."

Ada hal aneh yang menggerayangi dada Raka saat ini, rasa sesak saat mendengar penuturan itu. Jika ia mengatakan pelaku dibalik tumbangnya Radev adalah dirinya sendiri, entah akan sehancur apa anak laki-laki disampingnya ini.

"Kamu punya kakak?" Angga bertanya.

Raka mengangguk pelan.

Hening setelahnya, Raka melirik sekilas kearah Angga. Pandangannya tertuju pada tautan jari-jari tangan anak itu. Pasti Angga sedang dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan saat ini, pikir Raka.

Sacrifice: Askara Devan [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang