12. Jovan's Testimony

8.4K 686 43
                                        

Salah satu pantangan bagi penderita asma adalah kelelahan. Semua orang tahu itu, Radev juga. Tapi, dibanding mendapatkan rantai karbon untuk nilai mata kuliah ini, Radev lebih memilih kepayahan dengan napasnya sendiri. Toh masih ada inhaler yang siap membantu, pikirnya.

Jarak dari parkiran menuju ruang kelasnya itu tidak bisa dikatakan dekat, Radev setidaknya harus melewati beberapa ruangan dan naik satu lantai untuk sampai di tempat tujuan. Seharusnya masih bisa sampai sebelum 5 menit batas toleransi keterlambatan habis, tapi lift entah kenapa sedang ramai sekali penggunanya hari ini. Mau tidak mau, walaupun sangat tidak mau, Radev akhirnya memutuskan untuk berlari saja menggunakan tangga.

Hanya melewati satu lantai memang, tapi bagi penderita gangguan pernapasan seperti Radev, itu sama saja seperti bunuh diri.

"Pak, maaf saya terlambat. Apa saya diizinkan masuk?"

Suasana kelas hening seketika saat pintu terbuka dan Radev muncul dengan wajah pucat dan napas terengah, dosen mata kuliah Gambar Teknik disana tampak acuh tak acuh. Pria berkacamata dengan kumis tebal di bawah hidungnya itu memindai Radev dari atas sampai bawah.

"Baru semester awal sudah terlembat, bagaimana jika sudah semester tua. Kebiasaan seperti ini bisaㅡ"

Ya, seharusnya kalian paham apa yang dikatakan selanjutnya oleh dosen tersebut. Beberapa mahasiswa bahkan memilih menelungkupkan kepalanya karena mengantuk, 1 SKS pertama akan diisi oleh ceramah dan kata-kata motivasi setelah ini.

Radev menghela napas. Oh ayolah, sekarang kakinya sudah seperti jelly yang siap terkulai lemas di lantai. Padahal ia hanya terlambat 2 menit, haruskah sampai seperti ini? Melihat rekan sekelasnya malah sibuk dengan urusan masing-masing, membuat Radev sadar bahwa ia memang tidak memiliki teman disini. Tak ada satupun yang berinisiatif untuk membantunya.

"Ah, jangan sekarang dong.."

Radev berusaha menenangkan diri saat napasnya semakin sulit untuk dikendalikan. Selain karena lelah habis berlari tadi, ia juga belum sempat menggunakan inhalernya. Sekali lagi pandangannya terangkat, dosen didepannya itu masih saja mengucapkan kalimat demi kalimat yang terdengar seperti nasihat, namun terselip sindiran untuk orang-orang dengan tingkat kedisiplinan rendah seperti Radev.

Tidak, Radev bukan tipikal mahasiswa seenaknya, apalagi anak itu benar-benar menginginkan gelar itu sejak lama. Hanan terpaksa mengantarkannya hanya sampai parkiran, mengingat ada seminar yang sudah dimulaiㅡdan laki-laki itu harus menyampaikan prakata sebagai ketua BEM. Walaupun jika mundur lebih jauh lagi, Ratih juga turut menanggung dosa bersalah karena terlambat membangunkan Radev. Ya, intinya semua salah deh.

Semakin lama pandangan Radev semakin memburam, nyeri pada bagian dada semakin terasa. Tanpa sadar, Radev menekan titik yang sakit dan mengerang, mengambil sepenuhnya atensi semua orang di ruangan itu.

"Kenapa kamu?" Tanya pak dosen dengan ketus.

Radev tak menjawab, anak itu malah memundurkan tubuhnya sampai menyentuh pintu, bersandar penuh disana sebelum seperkian detik kemudian meluruh. Teriakan dari beberapa mahasiswa memenuhi setiap sudut ruangan, Radev tidak bisa melihat apapun lagi selain dosen killer itu yang berusaha mengembalikan kesadarannya.

***

"Astaga, Jov. Lo masih belum maafin gue?"

Jovan menatap jengah kearah Ren, temannya saat SMA duluㅡsama halnya dengan Ardhi. Laki-laki itu terhitung sudah lebih dari 20 kali meminta maaf pada Jovan atas kelalaiannya tempo hari, saat dirinya membentak dan membuat Radev pingsan di hari ospek fakultas. Walaupun Ardhi turut membantu memberikan pengertian, tapi tetap saja Jovan teguh pada pendirian. Ia tidak akan semudah itu memaafkan orang yang sudah membuat adiknya sakit.

Sacrifice: Askara Devan [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang