24. Radev Collapse

8.2K 669 103
                                        

"Jadi ... Lo mau mulai darimana, kak?"

Mobil hitam itu melaju dengan kecepatan sedang membelah kota, langit terlihat sudah menggelap. Jovan mendengus pelan, sedari tadi orang yang duduk disampingnya itu tak kunjung bersuara.

"Kak Hanan."

"Jov, lo bakal percaya sama gue, kan? Lo percaya kan gue bukan orang yang kek gitu? Gueㅡ"

"Ya jelasin dulu makanya! Baru abis itu gue bisa nyimpulin mau percaya lo atau enggak," tukas Jovan. Ia lelah sekali mendengar kalimat itu sedari tadi, Hanan terus meminta Jovan untuk mempercayainya atas apa yang ia sendiri tidak pahami.

Melihat bagaimana Hanan terdiam seribu bahasa, akhirnya Jovan memilih untuk fokus menyetir saja, walaupun kepalanya berusaha menepis pikiran negatif. Kakaknya itu tidak mungkin melakukannya, iya kan? Apa yang dikatakan Bayu tadi ... Hanya omong kosong, kan? Tanpa sadar, Jovan sejak awal sudah merasa ragu.

Kendaraan roda empat itu akhirnya telah sampai di tujuan, rumah. Dengan langkah cepat, Hanan keluar dan bergegas menuju kamarnya. Anak itu bahkan tak peduli dengan sudut bibirnya yang masih terluka, sekalipun sudah diolesi antiseptik tadi.

"Hanan? Kamu sudah pulang? Radev maㅡ"

Kendati menghentikan langkah kaki dan menjawab rentetan pertanyaan dari Ratih, Hanan justru semakin cepat berjalan menaiki tangga. Jovan hanya bisa menghela napas di belakangnya, ia cukup menggelengkan kepala saat Ratih memberikan kode melalui mataㅡmeminta penjelasan tentang apa yang sudah terjadi.

"Lagi badmood, biasa, mahasiswa semester tua emang begitu," ucap Jovan mencoba mencairkan suasana, walaupun Ratih hanya terkekeh pelan menanggapinya.

"Kamu pulang sama Hanan?"

Jovan mengangguk, tangannya terulur untuk membuka lemari es, membawa sebotol air dingin ke dalam genggaman, meneguknya dengan cepat karena kehausan.

"Terus Radev pulang sama siapa?"

Jovan sontak tersedak saat kalimat itu terdengar. Radev, adiknya belum pulang? Refleks Jovan memukul dahinya pelan, ia lupa jika Radev akan pulang bersama Hananㅡseharusnya seperti itu, sebelum kejadian tak terduga ini terjadi.

"Bun, aku lupa kalau Radev bakal pulang bareng kak Hanan."

Kesalahan Jovan pertama, ia lupa jika Hanan akan pulang bersama Radev. Kesalahan kedua, ia lupa mengabari adiknya itu terlebih dahulu sebelumnya. Kesalahan ketiga, ia lupa menitipkan Radev pada Ardhi atau Ren. Sehingga bisa dipastikan, sekarang Radev pasti kebingungan sendiri mencari jemputan.

***

"Belum pulang lo?"

Sebuah bola berwarna oranye nampak memantul ke lantai, Raka dengan santainya memainkan bola itu saat dirinya berjalan menghampiri Radevㅡyang tengah sibuk mengedarkan pandangan ke setiap penjuru parkiran fakultas.

Radev menggelengkan kepalanya pelan, "Udah sejam lebih ... Kayaknya kak Hanan lagi ada keperluan lain dulu."

"Mending lo balik sama gue aja, kasihan tuh muka udah pucet kayak gak pernah dikasih makan."

"Gak usah, Rak. Takutnya nanti kak Hanan malah kesini. Kalao kamu mau balik, balik aja, aku gak apa-apa kok," jelas Radev panjang lebar. Walaupun ia tidak dapat menyembunyikan napas beratnya yang sedari tadi ditahan. Wajar saja, hampir satu jam berdiri disana.

"Gue gak nerima penolakan."

Radev ingin sekali melepas tangannya yang ditarik oleh Raka, walaupun tidak menyakiti, tapi mengimbangi langkah lebar laki-laki itu cukup melelahkan. Hingga sebuah motor berwarna putih terlihat berdiri dengan gagah. Jangan tanya berapa harga dari kendaraan bermerek Kawasaki itu, Radev sendiri tidak tahu.

Sacrifice: Askara Devan [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang