08. Mahendra & His Lil Hero

9.4K 770 47
                                        

Mahendra mungkin tidak selemah lembut Ratih, tidak bisa memasak, tidak bisa memasang dasi sendiri, tidak pula dengan mudah dipercaya untuk menjadi teman cerita anak-anak mereka.

Ketika lelah dengan tugasnya di BEM atau tuntutan untuk menjadi penerus perusahaan, Hanan akan berlari pada Ratih. Memeluk wanita itu dan mencurahkan semuanya tanpa diketahui siapapun selain mereka. Mahendra beruntung karena sempat mengintip dari celah pintu, kini ia tahu bahwa sulungnya bisa semanja itu saat bersama ibunya.

Ketika otaknya sudah tak sanggup menampung banyak bab materi termodinamika atau mekanika fluida, Jovan akan datang ke area dapur dengan perlahan, melangkah menghampiri Ratih yang sedang memasak, meminta agar kepalanya diusap. Jovan selalu menjadikan wanita itu sebagai tempat untuk mengisi energi. Walaupun tidak mengerti hiruk pikuknya kehidupan di dunia teknik, tapi sebagai sarjana pendidikan, Ratih paham bagaimana caranya mendidik tanpa memberi tekanan. Karena memang itulah yang dibutuhkan setiap anak.

Ketika asma membatasi langkah Radev, membuat anak itu lagi-lagi harus menelan pil pahit kehidupan. Radev memang tumbuh tanpa tuntutan dari kedua orang tuanya, tapi tak menutup kemungkinan ia juga ingin seperti saudara-saudaranya yang lain. Radev ingin jadi adik yang baik dan membanggakan, pun ingin menjadi kakak yang bisa diandalkan. Setiap kali Ratih datang ke kamar untuk menemani anak itu dengan nebulizer-nya, setelahnya Radev akan menjatuhkan kepala pada paha wanita itu. Cukup mendengar kata-kata seperti, "Kamu gak perlu jadi seperti saudaramu yang lain, cukup jadi Radev yang seperti ini saja sudah membuat Bunda bahagia melihatnya." itu sudah lebih dari cukup. Walaupun tak dapat dipungkiri, ia juga ingin sekali mendengarkan kalimat, "Bunda bangga atas pencapaian kamu, nak."

Ketika Angga gagal dalam kompetisi yang ia ikuti di sekolah, Ratih akan menjadi destinasi utama setiap kali kaki anak itu melangkah masuk ke dalam rumah. Menenggelamkan kepalanya dalam dekapan satu-satunya wanita diantara mereka itu, memberitahu semua kekecewaan dan kegelisahan dalam dirinya. Usapan lembut dari tangan Ratih juga selalu berhasil menjadi obat, menjadi pembangkit semangat bagi Angga. "Gak apa-apa gak jadi juara pertama, adek udah jadi juara umum bagi Bunda. Adek udah mampu sampai tahap ini saja udah bikin Bunda bangga banget." Begitulah kira-kiranya obat yang diberikan Ratih pada putera bungsunya.

Mahendra paham bahwa ia tidak memiliki kontribusi lebih dalam pertumbuhan semua puteranya, selain membiayai kehidupan dan memenuhi apapun kebutuhan mereka. Tapi, Mahendra tetaplah seorang ayah. Darah yang sama mengalir disana, menyatukan benang tak kasat mata dan membuat ikatan yang tak akan pernah terputus. Mahendra juga bisa merasakan lelahnya Hanan, pusingnya Jovan, ketakutannya Radev, kegelisahannya Angga.

Sama halnya seperti saat ini, Mahendra memang tidak mendengarkan sepatah katapun keluar dari bibir putera ketiganya itu, tapi ia yakin sepenuh hati.. Radev ketakutan.

"Kita berjuang sama-sama ya, Radev? Kali ini jangan tahan apapun, oke? Kalau sakit kepala lagi, jangan dipukul kepalanya atau ditarik rambutnya, nanti makin sakit. Kalau sesak juga jangan malah dipukul dadanya, katanya Radev bosen pake inhaler terus, kan? Jangan takut, Radev. Ada banyak orang yang bakal nemenin kamu."

Mahendra melirik kearah Radev yang tengah terlelap disampingnya, ia sengaja melajukan mobil dengan santai agar tidak mengganggu istirahat anak itu. Mahendra tahu puteranya pasti lelah sekali.

Entah apa yang sudah terjadi di masa lalu, Mahendra membenci dirinya sendiri yang banyak tak tahunya. Cidera kepala bukanlah hal sepele, tapi Mahendra bahkan tidak tahu daripada cidera itu berasal. Sayangnya, belum sempat mencari tahu, penumpukan darah yang terjadi disana cukup menyadarkan Mahendra bahwa ia gagal menjadi seorang ayah. Ia gagal menjaga puteranya dengan baik.

"Ayah.."

Fokus Mahendra teralihkan saat mendengar panggilan itu, Radev sudah terbangun. Wajah lesunya jelas terlihat, tapi tetap dipaksakan untuk tersenyum walaupun sang ayah tidak meminta.

Sacrifice: Askara Devan [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang