Trigger Warning
Physical Abuse
***
Radev tidak tahu dimana ia berada sekarang. Saat terbangun dari tidurnya, Radev mendapati dirinya sudah berada di dalam suatu ruangan yang gelap, hanya ada setitik cahaya dari ventilasiㅡwalaupun percuma, tidak ada objek lain yang bisa ia lihat.
Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka. Suara decitan pintu sedikit mengganggu telinga Radev, ia yakin ruangan ini sudah lama tidak digunakan. Benar saja, saat cahaya yang masuk sudah lebih banyak, Radev kini bisa melihat dengan jelas dimana dirinya berada. Gudang, dengan setumpuk barang-barang dan debu yang berterbangan dimana-mana.
"Ternyata kamu sudah bangun."
Radev mengerjapkan mata perlahan. Yoana, wanita tua yang merupakan ibu kandung dari Ratihㅡibunya, sudah berdiri disana sembari melipat tangan di depan dada. Radev meringis pelan saat tangannya tiba-tiba diinjak Yoana.
"Oma.. Kenapa aku disini?" Radev bertanya dengan lirih, Yoana hanya tersenyum membalasnya, sebelum akhirnya wanita itu berjongkok dan memegang dagu Radev dengan kedua tangannya.
"Tidak apa-apa, saya cuma mau bermain sama kamu."
"Tapi, Oma.. Disini banyak debu, aku sesak Oma.."
Yoana seolah tak peduli dengan kalimat itu, ia kembali berdiri tegap. Matanya menatap sekitar, senyum tipis kembali tercetak. Wajar saja jika cucunya itu mengeluh sesak, gudang ini memang tempat terbaik untuk menyiksa orang-orang dengan gangguan pernapasan, debu-debu yang entah sudah setebal apa menempel di setiap benda yang ada. Bahkan Yoana bisa membuat jejak kaki pada lantai.
"Kamu tau kesalahan kamu apa?"
Radev menggeleng, ia rasa tidak melakukan kesalahan apapun. Sejak kedatangan orang tua Ratih ke rumah, Radev hanya menyapa sebentar lalu kembali ke kamarnya, ia cukup tau diri dengan posisinya yang selalu terlihat tak berguna bagi kakek dan neneknya itu.
"Kesalahan kamu itu banyak, Askara. Seandainya kamu sehat seperti saudara-saudaramu yang lain, Mahendra dan Ratih pasti akan sering datang menemuiku." Yoana menarik napasnya sejenak, bukan hanya Radev, ia juga sudah mulai merasa sesak karena debu di ruangan itu. "Kamu tau? Sakit itu adalah aib di keluarga saya, apalagi untuk sakit menahun seperti kamu. Tidak ada yang bisa dibanggakan selain hidup hanya untuk menyusahkan, kamu sadar akan hal itu, bukan?" Lanjutnya.
Matanya sudah memanas, Radev merasa sesaknya kali ini double. Sudah sering sekali ia mendapatkan kalimat demi kalimat menyakitkan itu dari Yoana atau suaminya dan tak ada satupun yang bisa Radev lupakan dengan mudah. Ia paham sepenuhnya bahwa akan selalu merepotkan keluarga. Semua pantangan itu seolah membatasi dirinya untuk lebih explore diri, Radev selalu terperangkap dalam sangkar tak kasat mata, tidak bisa sebebas saudaranya yang lain.
"Terus aku harus apa oma? Aku juga gak mau sakit," ucap Radev dengan air mata yang sudah mulai berjatuhan dan diakhiri batuk kecil.
"Ikut saya dan jangan kembali ke keluargamu."
"Maksud Oma?" Radev kembali terbatuk, dadanya mulai terasa lebih sesak jujur saja. "Oma mau merawatku?" Lanjutnya bertanya.
Yoana tertawa kecil, "Siapa yang sudi merawatmu, hah? Tentu saja saya membawa kamu untuk diantarkan ke Panti Asuhan."
Deg.
"Nggak, Oma! Oma gak serius, kan? Oma bercanda aja, kan? Oma gak bener-bener serius, kan? Oma.." Radev langsung bergerak untuk memeluk kaki Yoana, walaupun tubuhnya sudah lemas, tapi ia tetap setia dalam posisinya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sacrifice: Askara Devan [END]
Fanfiction[ Brothership, Sicklit, Angst ] ㅡ TERSEDIA VERSI CETAK Namanya Askara Devan, tapi akrab disapa Radev. Punya 2 kakak dan 1 adik, tapi semua orang memperlakukan dia berbeda karena katanya Radev itu istimewa. Kalau kata Sangga, Radev mirip kayak kaca...
![Sacrifice: Askara Devan [END]](https://img.wattpad.com/cover/341371971-64-k309494.jpg)