25 Agustus 2022
Matahari menyingsing menyambut kedatangan Hanan yang sudah lengkap dengan pakaian dinas harian, lanyard, pun almamater yang tampak gagah ketika dikenakan. Area lapangan sudah riuh ramai oleh para mahasiswa baru yang akan memulai awal kehidupan kuliahnya disini, melalui rangkaian ospek yang akan dijalani selama beberapa hari.
"Gila cuy, maba FEB makin cakep-cakep aja." Gilang berucap, laki-laki yang kini menjabat sebagai wakil ketua BEM itu terlihat excited menyambut wajah-wajah baru di fakultas mereka. Senyum merekah diwajahnya, Gilang tampak 180° berbeda dari yang biasanya ia tunjukan ketika rapat. Kemana perginya sifat sok tegas itu?
Bertolak belakang dengan Hanan yang sedikit gelisah ditempatnya. Kakinya tak henti bergerak kesana kemari, matanya juga berkali-kali melirik kearah gerombolan lain.
"Lo kenapa sih, Nan? Kek gak tenang gitu." Tanya Bayu, ia sudah memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu sedari tadi.
"Gue khawatir sama Radev, takut dia digalakin sama panitia ospeknya," jawab Hanan tanpa mengalihkan pandangan.
"Bukannya lo udah nitipin dia ke siapa sih ketuplaknya itu ... Ardhi! Iya, kan?"
Benar, seharusnya Hanan tidak terlalu khawatir seperti ini. Saat mengantarkan Radev ke area fakultas teknik bersama Jovan, anak pertama dan kedua itu sudah menitipkan adik mereka pada ketua pelaksana ospek FT, Ardhi namanya. Dengan tambahan bumbu ancaman didalamnya, tentu saja. Jika Radev terluka atau sakit, Ardhi harus siap berhadapan dengan Hanan dan Jovan.
Katakan Hanan dan Jovan itu lebay. Tapi, mereka tidak mau pengalaman langka seperti ini rusak karena tubuh anak itu yang lemah. Apalagi Radev terlalu asing dengan lingkungannya saat ini, sudah dipastikan anak itu akan mengalami banyak culture shock.
"Bay!" Teriak seseorang membuat Hanan maupun Bayu langsung menoleh, "Ini titipan bekal dari adek lo si Sarah. Gue balik lagi ke lapangan ya."
Hanan melirik kotak bekal yang kini sudah berada di tangan Bayu itu, "Lo punya adek? Kok gak pernah ngasih tau gue?"
Bayu mendelik, "Gue pernah bilang beg*!"
"Tapi lo gak bilang kalo adek lo cewek!" Hanan mengedarkan pandangannya, "Adek lo yang mana? Cakep gak?"
Sebuah jitakan mendarat dengan mulus di kening Hanan, anak itu mengaduh sebelum kembali membuka matanya, memandang jengah pada sahabatnya itu. Bayu hanya terkekeh.
"Jangan deketin adek gue! Dia masih perawan." Canda Bayu yang langsung dibalas pukulan pelan pada bahu, siapa lagi kalau bukan Hananlah pelakunya.
"Emangnya gue sebejat itu?"
***
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, terik matahari semakin terasa. Beberapa mahasiswa baru mengeluhkan panas dan kehausan, padahal mereka sudah terlindungi dengan tenda dan diizinkan minum oleh panitia.
Hanan sedari tadi berdiri di belakang, mengamati jalannya kegiatan dan mengoreksi hal-hal yang sekiranya salah sebelum merambat lebih jauh. Berbeda dengan Bayu yang berjalan kesana kemari. Kain berwarna merah menyala di lengan kiri atas cukup memperjelas tupoksinya di ospek kali ini sebagai apa. Benar, divisi kedisiplinan.
Merasa ada getaran di saku celana, Hanan lantas mundur beberapa langkah menjauhi area tenda sebelum mengangkat panggilan telpon. Ia tidak mungkin membuka ponsel disaat peraturan ketat melarang penggunaan alat elektronik itu saat ospek berlangsung.
"Halo, Ardhi? Kenapa, Dhi?"
Hampir saja ponselnya itu terjatuh keatas rumput lapangan, Hanan merasa kedua lututnya lemas seketika. Kabar jika Radev kambuh selalu menjadi mimpi buruk bagi Hanan, sekalipun orang di seberang sana mengatakan keadaan adiknya tidak terlalu buruk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sacrifice: Askara Devan [END]
Fanfiction[ Brothership, Sicklit, Angst ] ㅡ TERSEDIA VERSI CETAK Namanya Askara Devan, tapi akrab disapa Radev. Punya 2 kakak dan 1 adik, tapi semua orang memperlakukan dia berbeda karena katanya Radev itu istimewa. Kalau kata Sangga, Radev mirip kayak kaca...
![Sacrifice: Askara Devan [END]](https://img.wattpad.com/cover/341371971-64-k309494.jpg)