[ Brothership, Sicklit, Angst ] ㅡ TERSEDIA VERSI CETAK
Namanya Askara Devan, tapi akrab disapa Radev. Punya 2 kakak dan 1 adik, tapi semua orang memperlakukan dia berbeda karena katanya Radev itu istimewa. Kalau kata Sangga, Radev mirip kayak kaca...
Cahaya matahari pagi menerpa wajah lesu Angga yang baru saja memasuki area sekolah, tasnya disampirkan asal, pun seragam yang seenaknya dikenakan. Sudah 5 hari berlalu, tapi rasanya Radev turut serta membawa motivasi hidup Angga bersama tidur yang lelap itu.
Bak pemeran utama dalam sebuah film, Angga beruntung mendapatkan letak tempat duduk yang strategis. Walaupun menjadi spot favorit guru MIPA ketika mencari siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis, setidaknya ada pohon berdaun lebat yang bisa memanjakan mata di luar sana. Entah apa nama burung liar itu, tapi warna dan coraknya terlihat lebih menarik daripada peliharaan Mahendra.
Sekolah ini bukan lagi tempat menyenangkan bagi Angga, terhitung sejak dirinya naik ke kelas 2. Bukan tanpa alasan, kelulusan Radev dan kepergian anak itu untuk menimba ilmu di tingkat yang lebih tinggi justru membuat Angga kesepian setengah mati. Bukan, Angga tidak se-introvert atau se-anti sosial itu sampai tidak ada yang mau berkawan dengannya. Angga hanya membangun banyak batasan tak kasat mata disekelilingnya, ia terlalu pemilih. Walaupun tanpa melakukan banyak hal, sudah dipastikan seluruh manusia di kelas itu bersedia menjadi teman dekatnya. Tapi, lagi-lagi, Angga itu terlalu pemilih.
Dulu, saat Radev belum lulus, Angga akan berpura-pura pergi ke toilet hanya untuk melihat bagaimana kakaknya itu saat di kelas. Terdengar tidak biasa, bukan? Tapi, melihat Radev yang tersenyum sembari mengerjakan soal fisika di papan tulis atau saat melihat Radev frustasi dengan tugas mapping-nya, semua itu selalu berhasil merekahkan senyum Angga.
Angga tidak berbohong saat ia mengatakan bahwa Radev memiliki tempat tersendiri di dalam hatinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ah, rasanya masih seperti mimpi. Bahkan tangan Angga menimbulkan bekas kemerahan karena cubitan yang berasal dari ulahnya sendiri. Angga hanya ingin terbangun, bangun dari segala fakta yang mengatakan bahwa hanya tersisa 2 hari bagi Radev untuk segera bangun. Karena setelah melewati batas itu, dokter memberikan rentetan kalimat yang tidak pernah Angga ingin dengar. Ia ingin sekali menulikan indra pendengarannya kala itu, namun sayang sekali, semua ini terlalu nyata untuk dianggap sebagai mimpi buruk belaka.
"Kak, ayo bangun. Angga kangen."
***
"Putera Bunda ganteng banget."
Ratih tersenyum lembut seraya mengusap pelan bagian leher Radev dengan handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat sebelumnya. Walaupun tidak bergerak untuk waktu yang lama, tapi peluh itu masih membasahi permukaan kulitnya dari waktu ke waktu. Ada getaran tak nyaman di dada saat Ratih memandang wajah pucat itu dari jarak dekat, Radev terlihat.. Lelah sekali.
Tak ada yang bisa Ratih dan Mahendra lakukan selain terus berharap dan tak berhenti mengalirkan doa, tercermin kekhawatiran yang mendalam serta harapan yang menggelora disana. Dalam setiap tatapan penuh harap, terpancar kekuatan dan ketabahan yang tak tergoyahkan. Puteranya masih berjuang saat ini, jadi Ratih harus lebih kuat lagi.