Liyandra Khasan.
Terlahir dari keluarga yang berantakan, orang tuanya bercerai saat ia kecil, ibunya diceraikan karena orang ketiga, eh bukan. Orang ketiga terlalu sedikit untuk menyebut koleksi wanita mendiang ayahnya, mengingat beliau punya istri sebanyak empat wanita. Ia telah menjadi yatim sejak kecil karena ayahnya meninggal akibat penyakit HIV. Miris bukan?
Pernikahan orang tuanya yang hancur berantakan tak membuatnya lantas membenci pria dan menjauhi pernikahan. Ia berusaha bangkit dari traumanya, berbeda dengan saudarinya, Anjani yang tetap larut dalam trauma pernikahan.
Pilihan calon suaminya jatuh pada Edelson, pria baik, setia, mapan, dan mencintainya. Ia bersyukur memiliki pria itu di hidupnya karena perlahan-lahan cinta dan perhatian Edelson mampu menyembuhkan traumanya. Ia bertemu Edelson saat rapat investor di E&D Film, posisinya saat itu adalah investor yang menanam saham cukup tinggi untuk mewakili perusahaan mendiang ayahnya yang kini diurus oleh Ankara, saudaranya. Ia langsung jatuh cinta melihat wibawa dan sifat kerja keras pria itu hingga akhirnya mereka menikah.
Satu hal yang membuatnya sedih adalah ia belum kunjung mengandung padahal usia pernikahan mereka sudah empat tahun. Untuk kesekian kalinya ia harus menunjukkan testpack garis satu pada suaminya padahal ia sudah berharap hamil setelah merasakan gejala pusing, mual, hingga telat datang bulan.
"Maaf, Edelson. Aku gagal lagi," ucap Liya dengan nada serak karena berusaha menahan tangis. Saat suaminya memeluknya, tangisannya pun pecah di pundak suaminya.
"Engga apa-apa, Sayang. Kita tetap bahagia tanpa anak. Jangan sedih ya, gimana kalau kita makan malam di luar setelah aku pulang kerja?" ajak Edelson untuk menghibur istrinya yang sedang bersedih. Liya mengangguk pelan dan rasa bersalah merasuki relung hatinya setelah melihat sesabar itu suaminya.
"Gimana bisa kamu sebaik ini ke aku? Suami perempuan lain pasti akan marah dan menceraikan istrinya karena gagal memberikan anak, tapi kamu masih mencintaiku?" tanya Liya yang tak mengerti dengan hati suaminya yang sebaik malaikat. Ia sangat beruntung memiliki Edelson, walaupun sudah tahu bahwa ia yang tak subur sehingga sulit hamik, namun Edelson tetap mencintainya. Sangat berbeda dengan mendiang ayahnya yang mencampakkan ibunya karena tak bisa memberikan anak cowok.
"Karena aku mencintaimu dengan hati yang tulus, tanpa peduli ada anak atau tidak ada anak di pernikahan kita," jawab Edelson yang membuat Liya tersipu malu.
Edelson pun pamit berangkat kerja dan Liya keluar rumah untuk menemui Berlin, mama tirinya yang sudah ia anggap seperti mama kandungnya sendiri. Sesampainya di sana, Liya menangis di hadapan Berlin dan saudaranya sambil menceritakan apa yang terjadi tadi pagi.
"Edelson benar, Nak. Tidak masalah kalian belum memiliki anak. Hal itu tak akan mempengaruhi cinta kalian," ucap Berlin berusaha menenangkab anak tirinya.
"Tapi aku khawatir jika lama-kelamaan, Edelson bosan menunggu dan memutuskan mencari wanita lain. Aku tak sanggup tanpanya, Mama," balas Liya yang selama ini cemas jika pemikiran buruknya akan terjadi. Ia tak bisa sepenuhnya menghapus bayang-bayang trauma pernikahan orang tuanya dulu.
"Kau jelas harus khawatir akan hal itu. Sangat aneh jika ada pria sesabar dan sebaik Edelson, bahkan bisa dikatakan pria itu tampak tak nyata. Bisa saja diam-diam dia berselingkuh dan tak pernah memarahimu karena rasa bersalahnya," ucap Anjani Lavanty atau disapa Jani, adiknya mengungkapkan apa yang selama ia pikirkan tentang kakak iparnya. Ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak curiga pada Edelson. Menurutnya semua pria di Dunia ini sama saja, sama-sama tukang selingkuh dan jahat.
Ankara menepuk tangan Anjani, kakaknya karena bicara hal yang bisa menyakiti perasaan Liya. Jani memang terkenal terlalu jujur, saking jujurnya ia bisa menyakiti perasaan orang yang ia sayangi dengan kata-katanya. Namun, Jani tampak tak masalah dengan hal itu karena ia mengatakannya demi kebaikan Liya, kakaknya.
"Tapi, aku yakin Edelson tak mungkin melakukan itu. Dia sangat mencintaiku. Edelson bukan Ayah."
[][][][][][][][][][][][][]
Liya berjalan masuk ke dalam restoran miliknya. Ia membangun restoran ini dari uang warisan ayahnya, sebenarnya ia tak memerlukan penghasilan, namun ia sering kali bosan menjadi ibu rumah tangga yang menunggu suaminya pulang, sehingga ia membangun usaha ini untuk menyibukkan diri.
"Selamat siang, Bu," sapa wanita yang bertugas menjadi kasir.
"Siang, bagaimana restoran hari ini?" tanyanya dengan nada ramah. Ia tak pernah membedakan antara si miskin dan si kaya, jadi ia tak masalah bicara dengan seorang kasir.
"Cukup ramai, Bu. Nanti malam juga ada yang menyewa satu restoran untuk acara ulang tahun."
"Wah, bagus. Berarti nanti malam kamu lembur ya, engga bisa pacaran dong nanti malam?" tanya Liya bermaksud menggoda karyawannya yang paling cantik itu dengan nada bercanda. Ia sempat terpesona melihat tawa anggun dari wanita itu, ia masih bingung kenapa wanita itu mau bekerja sebagai kasir ketimbang menikah dengan kekasihnya yang kaya raya. Ia mendapat info dari pegawai lain yang pernah melihat wanita itu diantar kekasihnya dengan mobil mewah.
"Iya, Bu. Untungnya pacar saya nanti malam sibuk."
"Semoga langgeng ya, Alma."
"Amin, Bu."
Liya meninggalkan Alma tanpa menyadari jika wanita itu kini tersenyum miring yang mengejek dirinya karena mendoakan langgeng dengan suami Liya sendiri. Entah bagaimana reaksi wanita itu jika tahu siapa kekasihnya. Tak sia-sia ia berkorban kerja part time menjadi kasir di sini untuk memantau Liya, setidaknya ia mendapat hiburan dengan melihat bagaimana perempuan itu hidup dalam kebodohannya.
"Wanita yang malang, dia pikir suaminya begitu setia, tapi ternyata suaminya bajingan."
[][][][][][][][][][][][]
Tangerang, 12 Mei 2023
KAMU SEDANG MEMBACA
Mutiara Hitam
RomanceAlmaretha atau Alma, gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara setelah keluarga mendiang ibunya membuang ia ke panti asuhan. Di dunia ini, tak ada yang ingin menjadi pemeran jahat, namun Alma terpaksa melakukannya. Ia terpaksa menjalin kasih denga...
