Alma - Kalung Itu Milikku

4.9K 195 5
                                        

Lihat apa yang aku dapatkan. Aku yakin kau akan terlihat seperti bidadari saat menggunakan kalung ini. Tunggu aku, Kucing Manisku.

Sejak pesan itu dikirimkan Edelson tadi pagi padanya, Alma tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum sepanjang hari. Ia bahkan menyiapkan diri dengan berpenampilan secantik mungkin agar terlihat pantas mengenakan kalung yang sudah ia impikan.

Namun, sampai tengah malam Edelson tak kunjung datang ke apartemen. Ia berusaha menelepon namun tak diangkat. Ia kirim pesan namun tak dibaca. Seakan-akan Edelson sengaja menonaktifkan ponselnya. Alma berusaha berpikir positif mungkin Edelson ada pekerjaan penting sehingga menunda kedatangannya hari ini.

Ia tak boleh merusak momen bahagia saat Edelson akan memberikan hadiah padanya. Tak masalah jika ditunda, toh ia akan tetap mendapatkan kalung tersebut. Malam ini, Alma mencoba tak meminum satu tetes alkohol pun, ia juga tak menyentuh bungkus rokoknya, semua itu ia lakukan agar Edelson tak marah padanya. Ia akan melakukan apapun yang Edelson suka karena pria itu akan memberikan kalung yang ia suka.

[][][][][][][][][][][]

Alma yang bekerja siang hari di restoran Edma Food punya Liya baru datang lima belas menit sebelum jam kerjanya dimulai. Ia melihat teman-temannya sedang berkumpul saat jam istirahat dan ia pun ikut berkumpul, awalnya ia ingin memamerkan desain kalung berlian yang akan Edelson berikan padanya namun ia terdiam saat mendengar ucapan Kasih, salah satu rekan kerjanya yang menjadi pelayan di restoran.

"Pasti harga kalung berlian itu mahal. Terlebih desain liontin dua angsanya yang indah. Bu Liya sangat beruntung mendapatkan Pak Edelson yang tak pernah perhitungan membelikan apapun," ucap Kasih dengan nada sedikit iri.

Alma langsung diam mematung dengan tatapan tak mengerti. Belum selesai otaknya memproses ucapan Kasih, ia melihat Liya keluar dari ruang kerjanya dengan senyum bahagia.

Namun, bukan senyum itu yang menjadi pusat perhatiannya dan semua karyawan. Melainkan, kalung berlian berliontin dua angsa yang terpasang di leher jenjang mulus Liya.

Karyawan yang lain mulai mendekati Liya untuk melihat kalung tersebut. Namun, Alma memilih pergi dengan membawa tasnya. Ia tak bisa berlama-lama di restoran itu dan melihat bagaimana kalung yang ia dambakan malah menjadi milik wanita lain. Ia bahkan tak peduli jika akan dipecat karena bolos kerja.

Tangannya mengepal sambil menggenggam kuat tasnya, ia memberhentikan taksi dan masuk ke dalamnya. Di dalam taksi, ia merasakan sesak yang sedari tadi ia tahan, bahkan untuk bernafas pun agak sulit karena ia berusaha menahan tangis.

Kenapa Edelson melakukan ini padanya? Apa hukuman fisik tak cukup untuk memaafkan kesalahannya yang mabuk dan mengisap rokok malam itu? Jika memang Edelson tak bisa memberikan kalung itu padanya, lalu kenapa harus memberi janji palsu dan malah memberikannya pada Liya?

Sekali lagi, Liya mengambil sesuatu yang harus ia miliki. Walaupun ia tahu wanita itu tak tahu apa-apa, namun tetap saja rasa bencinya pada Liya semakin membara. Ia benci saat ia harus menahan kesedihan dan amarahnya di depan Liya padahal ia sangat ingin menangis dan memaki di hadapan wanita itu.

Mama, Alma benci mereka. Itu kalung, Alma. Milik Alma. Liya tak akan bisa merebutnya. Kalau Alma engga bisa ambil kalung itu dari Liya, maka leher Liya akan jadi korbannya.

[][][][][][][][][][][]

Alma baru pulang ke apartemen saat hari sudah sangat gelap dan sepi. Seharian ini ia habiskan di taman lalu berkeliling dengan taksi hingga akhirnya lelah dan pulang. Sialnya, ia melihat Edelson menunggunya di kamar. Pria itu menatap tajam ke arahnya lalu menghampirinya.

"Kau kemana saja? Aku telepon tak kau angkat. Aku kirim pesan tak dibalas," ucap Edelson dengan nada kesal karena Alma pergi sampai tengah malam. Edelson belum tahu bahwa Alma sudah mengetahui perihal kalung berliannya karena pria itu tak tahu ia bekerja di restoran istrinya.

"Aku ada urusan sebentar," ucap Alma sambil tersenyum pada Edelson walaupun luka dalam hatinya masih basah.

"Lain kali kabari aku."

Alma melihat rasa khawatir di mata Edelson untuknya namun ia tahu tak bisa mempercayai mata yang selalu menipunya.

"Ya."

"Alma, ini untukmu."

Alma menatap bingung kotak perhiasaan yang diberikan Edelson. Ia pun membukanya dan tersenyum getir melihat desain kalung itu sangat berbeda dengan yang ia inginkan. Ia ingin kalung berlian berliontin dua angsa, bukan liontin bunga.

"Setelah aku pikir-pikir, liontin dua angsa tak cocok untukmu. Namun, liontin bunga lebih cocok untukmu jadi aku menggantinya. Sini, aku pakaikan," ucap Edelson berbohong. Tanpa menunggu balasan dari Alma, ia langsung memakaikan kalung itu di leher kekasihnya.

Alma yang cantik tetap terlihat cantik dengan kalung liontin bunga itu. Edelson pun memuji kecantikan wanita itu untuk menutupi rasa bersalahnya.

"Jadi, Liya lebih cocok memakai kalung berlian liontin dua angsa yang aku inginkan?"

Edelson langsung diam membisu. Ia tak menyangka jika Alma sudah mengetahui segalanya. Saat ia hendak mendekati wanita itu, Alma malah menarik paksa kalung itu hingga putus bahkan melukai lehernya hingga berdarah. Namun, wanita itu tak meringis kesakitan, melainkan berteriak emosi padanya. Edelson pun sadar bahwa Alma terluka dengan keputusannya.

"Kalung itu milikku, Edelson! Kenapa kau memberikannya pada Liya?!"

"Aku terpaksa, Liya sudah melihat kalung itu dan berpikir bahwa kalung berlian itu hadiah pernikahan dariku untuknya," jawab Edelson jujur, mencoba menenangkan Alma dengan memeluknya namun wanita itu malah memberontak dan mendorongnya.

"Aku tak peduli semua alasan sialan yang keluar dari mulutmu! Kalau kau tidak bisa memberikan kalung itu padaku, maka aku akan mengambilnya sendiri dari Liya dengan caraku!"

Setelah mengancam Edelson, Alma masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi. Ia tak mempedulikan teriakan Edelson dan menyalahkan shower agar suara Edelson hilang. Berulang kali ia membenturkan kepalanya ke kloset untuk menghilangkan gambaran Liya yang bahagia mengenakan kalung impiannya.

[][][][][][][][][][][]

Tangerang, 16 Mei 2023

Mutiara HitamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang