"Leo, ayo bangun. Orang-orang sudah menunggu kita sarapan di bawah," ucap Alma sambil duduk dan menyisir rambutnya.
Sekarang pukul enam pagi. Seperti biasa keluarga akan makan bersama pada pukul enam pagi. Alma sudah siap turun ke bawah, tapi Leo masih berbaring di atas kasur. Sebenarnya Alma tak tega membangunkan Leo yang terlihat lelah. Tapi, dia juga tak mau turun sendirian dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang rumah tentang kegiatan mereka semalam. Membayangkan hal itu saja Alma risih, jadi Leo harus ikut turun.
"Suruh saja Bibi naik ke atas mengantar sarapan untuk kita," balas Leo lirih sambil membalik badan dan memunggungi Alma.
Jelas Alma menolak. Tidak ikut sarapan hanya akan menambah daftar pertanyaan kepadanya. Seperti 'kenapa baru turun siang hari?' atau 'apa Leo terus melakukannya hingga pagi?'. Suara ketukan pintu membuat Alma beranjak dan membuka pintu. Salah satu pelayan tersenyum padanya sambil membawa nampan berisi sarapannya dan Leo.
"Bu Sela menyuruh saya mengantar sarapan untuk Nona Alma dan Tuan Muda," ucap pelayan itu. Alma menerima nampan itu sambil mengucap terima kasih, pelayan itu pun pergi.
Alma bisa melihat tatapan penasaran dari pelayan itu sebelum pergi. Pasti orang satu rumah sama penasarannya dengan pelayan tadi. Pokoknya Alma engga mau turun ke bawah!
Setelah meletakkan nampan di meja, tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Tubuh Alma terjatuh di atas pelaku penarikan yaitu suaminya sendiri. Leo tersenyum lalu menciumnya. Namun, Alma mengalihkan wajahnya seakan menolak ciuman tersebut. Leo pun jadi bingung.
"Ada apa? Kau marah karena aku tak mau turun?"
"Ya."
"Kenapa? Lihat, orang rumah mengerti bahwa kita pengantin baru, jadi wajar tidak keluar kamar. Mereka bahkan menyuruh pelayan membawa sarapan untuk kita," ucap Leo dengan santainya. Leo bahkan duduk dan mengambil nampan tersebut.
Alma ingin menolak suapan dari suaminya. Tapi, perutnya sangat lapar. Alhasil, ia menurunkan kadar kekesalannya dan menerima suapan tersebut.
"Udang sambalnya enak sekali," ucap Leo.
"Leo, aku masih kesal padamu!"
Alma merasa Leo mengabaikan kekesalannya dengan masih terus makan. Suaminya ini memang begitu tenang dalam mengatasi situasi serumit apapun. Lihat, bukannya menanggapi ucapam Alma, Leo malah mengusap rambut Alma yang sedikit berantakan karena ulahnya tadi.
"Kau tetap cantik, walaupun sedang kesal," puji Leo membuat Alma langsung tersipu malu. Alma memang tak bisa kesal terlalu lama pada suaminya. Alhasil, Alma malah memeluk Leo sambil menceritakan isi pikirannya saat ini.
"Kau ini tidak mengerti. Semakin lama kita turun ke bawah, orang-orang akan semakin berpikir aneh-aneh. Aku risih jika mereka bertanya tentang malam pertama kita," ucap Alma lalu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Alma memandang Leo dari samping sambil mengagumi karya Tuhan yang begitu indah untuknya.
"Aku yang akan menjawab mereka jika ada bertanya," balas Leo lalu kembali menyuapi Alma.
"Janji?" tanya Alma sambil mengangkat jari kelingkingnya bak anak kecil meminta janji.
Bukannya menertawakan perilaku kenak-kanakan Alma, Leo malah menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking istrinya. Alma tersenyum lebar lalu gantian menyuapi suaminya.
Tak lama kemudian sarapan mereka habis. Leo dan Alma keluar kamar untuk menaruh nampan berisi piring kotor tersebut. Alma berjalan di belakang Leo agar Leo yang berhadapan dengan orang rumah.
Sesuai dugaan Alma. Saat Leo berpapasan dengan Sela, sahabatnya itu menanyakan mengenai 'kegiatan semalam'. Alma pikir Leo akan membalasnya dengan candaan, tapi jawaban suaminya membuat Alma ingin menenggelamkan diri saja karena malu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mutiara Hitam
RomanceAlmaretha atau Alma, gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara setelah keluarga mendiang ibunya membuang ia ke panti asuhan. Di dunia ini, tak ada yang ingin menjadi pemeran jahat, namun Alma terpaksa melakukannya. Ia terpaksa menjalin kasih denga...
