Ending -Impianmu Adalah Hidupku-

5.4K 121 9
                                        

Selamat menikmati akhir kisah ini.

Sampai jumpa di cerita lain. Oh ya, aku juga mau buat cerita Anjani, anak kedua Faisal, sekuel Istri Terakhir. Follow akun aku biar engga ketinggalan notif cerita baruku ya.
*****

Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Liya, Alma mendapat dua kabar baik sekaligus. Putri Liya sudah berhasil melakukan transplantasi sumsum tulang belakang dan Leo mendapat donor jantung dari seorang relawan. Alma dan keluarga sangat senang mendengar kabar tersebut.

Danu, ayah Leo sangat ingin bertemu pendonor jantung tersebut karena ingin memberi hadiah dan mengambulkan apapun yang diminta orang tersebut. Ia sudah mencari pendonor darah yang cocok, namun tak pernah menemukannya, namun ada orang baik yang mau mendonorkan jantungnya tanpa imbalan apapun.

Sayangnya orang tersebut tak mau ditemui siapa pun sampai operasi tiba. Bahkan orang tersebut meminta pada suster dan dokter untuk merahasiakan identitasnya dari pihak keluarga. Keluarga Leo tak mempermasalahkan hal tersebut, namun Alma menaruh curiga karena ia merasa ada yang aneh.

Mengapa Si Pendonor tidak mau identitasnya diketahui siapapun? Apa alasannya? Bukankah lebih baik identitasnya diketahui keluarga pasien agar kebaikannya diketahui? Siapa pendonor tersebut? Mengapa tiba-tiba saja muncul? Alma bukan bermaksud berpikir buruk mengenai pendonor tersebut, namun zaman sekarang sangat sulit menemukan orang yang benar-benar tulus tanpa meminta imbalan.

"A... apa yang kau pikirkan? Kau... terlihat cemas." Leo yang berbaring di hadapannya menatap Alma yang sedari tadi melamun.

Saat ini Alma sedang menemani Leo. Beberapa jam lagi operasi transplantasi jantung akan dilakukan. Leo ingin bersama Alma karena ia yakin perempuan itu akan memberinya kekuatan dan semangat untuk bertahan dalam operasi besar itu. Tapi, sedari tadi Alma tampak memikirkan sesuatu yang begitu rumit hingga tak berbicara padanya.

"Bukan apa-apa. Kau pasti gugup menghadapi operasi itu? Tapi, aku yakin kau pasti bisa melaluinya. Bukan hanya demi dirimu, tapi juga demi aku dan anak kita," balas Alma lalu mengarahkan tangan Leo yang semakin kurus ke perutnya.

Leo tersenyum dan mengangguk lemah. Dokter dan suster datang untuk memeriksakan kondisi kesehatan Leo sebelum operasi dimulai. Alma pun keluar dan menunggu bersama anggota keluarga di luar. Alma sengaja menyembunyikan kejanggalan identitas pendonor dari suaminya karena takut menambah beban pikiran Leo dan memperburuk kondisi suaminya.

Alma yang kelaparan karena belum sempat makan, akhirnya memutuskan pergi ke kantin bersama Harla, adik iparnya. Saat ia sedang menyantap nasi gorengnya, ia melihat Liya di depan kasir kantin rumah sakit.

Apa yang Liya lakukan di sini? Bukankah putrinya sudah sembuh dan sudah pulang dari rumah sakit? Alma hendak memanggil Liya, namun perempuan itu lebih dulu pergi sambil membawa makanan. Alma yang penasaran akhirnya menelepon Sela agar ke kantin untuk menemani Harla karena ia mau mengejar Liya.

"Harla, tetap di sini sampai Mama Sela datang. Jangan kemana pun dan jangan bicara dengan orang asing. Kakak ada urusan sebentar." Alma memberi pesan pada Harla sebelum pergi.

"Baik, Kak."

Setelah mendengar jawaban Harla, ia bergegas pergi. Alma berlari mengejar Liya dan menghentikan wanita itu saat hendak naik ke lift. Alma bisa melihat raut wajah panik dari Liya saat melihatnya. Seakan-akan ada yang disembunyikan perempuan itu dan tak mau ia ketahui.

"Apa yang kau dilakukan di sini, Liya? Bukankah Edeliya sudah balik ke rumah?" tanya Alma tanpa basa-basi.

"A... aku ingin menebus obat untuk Edeliya." Jawaban Liya yang terbata-bata membuat Alma menatap curiga pada perempuan itu. Ia mengamati sekitar dan tersadar bahwa mereka sudah melewati lorong pengambilan obat. Liya jelas berbohong.

Mutiara HitamCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang