Extra Part

4.7K 132 10
                                        

Vote dan komen untuk perpisahan terakhir dengan Edelson, Alma, Leo, dan Liya.
*****

Alma masih ingat jelas apa yang dilakukannya pada Edelson, tepatnya sehari sebelum pendonor jantung ditemukan. Harusnya ia menyelidiki kecurigaannya terhadap si pendonor karena semua kejadian antaranya, Edelson, dan Leo terjadi secara berturut-turut. Tapi, ia malah membohongi dirinya dengan berpikir positif bahwa si pendonor adalah malaikat tak bersayap yang diturunkan Tuhan untuk menyembuhkan Leo.

Ia memilih tak mencari tahu benang merah pertemuannya dengan Edelson dengan pendonor jantung Leo. Hari itu Alma baru keluar dari dokter obgyn atau dokter kandungan di rumah sakit yang sama dengan tempat Leo dirawat. Keluarga Leo memintanya memeriksakan kandungan karena takut stress, telat makan, dan kurang tidur yang ia alami selama menunggu Leo membuat kandungannya melemah. Ia hendak menebus vitamin, namun pandangannya tiba-tiba kabur dan ia hampir pingsan.

Di antara puluhan manusia yang memenuhi rumah sakit, Edelson yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Alma terlalu lemah untuk melawan saat Edelson menuntunnya duduk di bangku. Ia juga menerima botol air yang diberikan pria itu. Ia mungkin membenci Edelson, tapi ia terpaksa menerima pertolongannya karena kondisinya yang sedang mengandung. Ia bahkan lupa minum sejak tadi pagi.

"Kau terlihat pucat, kau sakit?" Edelson bertanya dengan nada ragu-ragu. Ia takut pertanyaannya menyinggung Alma yang sangat membencinya.

"Apa pedulimu? Aku sakit atau mati, kau tidak perlu tahu," balas Alma ketus. Ia hendak berdiri, namun kembali duduk saat kepalanya pening. Dengan terpaksa, ia tetap duduk, setidaknya sampai kondisinya membaik.

"Bagaimana kondisi Leo? Apa sudah ada pendonor yang cocok untuknya?"

"Berhentilah berbasa-basi yang terlalu basi! Kau pun tahu kalau Leo sudah menemukan pendonornya, maka kondisiku tak akan seburuk ini," jawab Alma dengan nada lebih tinggi satu oktaf karena muak dengan keingintahuan Edelson. Jika saja ia baru mengenal Edelson sehari, dua hari, mungkin ia bisa berpikir Edelson khawatir pada kondisi Leo. Tapi sayangnya, ia sudah mengenal Edelson cukup lama untuk tahu bahwa pria itu sedang memastikan bahwa musuhnya tidak memiliki kesempatan hidup.

"Dia beruntung karena memilikimu sekarang." Edelson tiba-tiba mengubah arah pembicaraan karena tahu Alma tak suka ia menanyakan kondisi Edelson.

"Oh ya? Tapi, aku malah merasa suamiku adalah pria paling tidak beruntung di dunia ini dan kau pria paling beruntung di dunia." Alma yang sedari tadi memalingkan wajahnya karena enggan menatap Edelson, kini menoleh ke arah pria itu dengan mata berembun.

"Kenapa?"

"Karena kau masih bisa hidup dengan sehat, bahagia, dan tidak memiliki masalah setelah menghancurkan hidupku, hidup anakku, hidup Liya, dan hidup putrimu. Sedangkan Leo, dia pria baik, taat ibadah, dan tak pernah menyakiti siapapun. Tapi, kenapa dia harus menderita sampai seperti ini? Bukankah jauh lebih pantas jika kau yang ada di posisi Leo?" Alma sengaja memberi pertanyaan itu pada Edelson, alih-alih langsung menyatakannya. Ia ingin Edelson menanyakan hal yang beberapa hari ini ia tanyakan pada Tuhan.

Jika Tuhan tak mau menghukum umatnya yang berdosa, maka Alma bersedia melakukannya. Ia bersedia membuat Edelson menyadari semua dosanya dan memilih sendiri hukuman yang pantas. Katakan Alma jahat, Alma terima hal itu. Ia sudah cukup sabar melihat suaminya menderita, sementara pria di hadapannya ini hidup sehat.

"Kau benar, aku alasan semua kehancuran ini terjadi," balas Edelson tanpa perlawanan apapun. Suaranya yang semakin pelan dan tatapan bersalahnya masih terasa tak cukup untuk Alma, hingga ia kembali menekan Edelson.

"Kalau kau sudah menyadarinya, maka apalagi yang kau tunggu? Lakukanlah."

"Apa?" tanya Edelson dengan tatapan bingung.

"Enyah dari dunia ini," jawab Alma dengan santainya. Matanya menatap tajam ke arah Edelson seakan mata itu bisa menghancurkan Edelson.

Alma rasa sudah cukup berbicara dengan Bajingan ini, ia berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Edelson. Edelson terdiam mematung sambil menatap punggung Alma yang menjauh. Ia sedang memikirkan ucapan Alma.

"Apa kau akan bahagia dengan kematianku? Apa kau akan tertawa saat aku berada di posisi Leo?" Pertanyaan Edelson sukses membuat langkah Alma terhenti, tapi tidak berbalik badan. Tangan Alma mengepal kuat berusaha memenangkan perlawanan antara otak dan hatinya dalam hal menanggapi pertanyaan Edelson. Alma memilih memenangkan opini otaknya. Lupakan soal kemanusiaan, toh Edelson bukan manusia. Walaupun demikian, ia tetap tak mampu berbalik badan dan menatap Edelson saat mengatakan hal ini.

"Aku akan menari di pemakamanmu. Apa itu cukup untuk menggambarkan kegembiraanku atas kematianmu?"

"Cukup. Kau menari di pemakamanku jauh lebih baik, daripada kau menangis di pemakamanku. Bolehkah aku katakan perasaanku padamu untuk terakhir kalinya?" Pertanyaan Edelson membuat Alma berbalik badan. Ia terkejut saat melihat Edelson meneteskan air mata. Saat Edelson mendekat, ia mencoba menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa bersalah dan kasihan. Pria itu tak pantas dikasihani.

"Katakan. Aku ingin melihat selihai apa kau berbohong."

"Aku akan tetap mencintaimu, Alma. Bahkan meskipun aku berhenti bernafas, aku akan tetap mencintaimu."

Andai hari itu Alma paham maksud perkataan Edelson, maka ia tak akan pergi begitu saja dan mengacuhkan pria itu. Hari itu akan menjadi kenangan yang paling Alma sesali di dunia ini.

Alma yang sedang duduk di kantin bersama Liya sedang melamunkan kejadian hari itu. Tentang sejahat apa bibirnya menghina dan menekan Edelson. Liya yang duduk di depannya menatap cemas dan kasihan padanya. Mungkin karena ia terlihat seperti manusia tanpa jiwa.

"Aku tak berani mayat Edelson." Akhirnya Alma membuka mulutnya, sejak satu jam tadi hanya diam melamun.

"Kau harus melihatnya untuk terakhir kali. Itu permintaannya."

"Katakan semua yang kau tahu tentang keputusan Edelson hari ini," pinta Alma dengan tatapan memohon. Ia tak menangis, bukan karena tak sedih, air matanya sudah kering karena sedari tadi terus menangis.

"Edelson mengalami kecelakaan mobil saat terakhir kali bertemu denganmu, dia...." Perkataan Liya terputus saat Alma menggenggam tangannya secara tiba-tiba. Ia menundukkan kepalanya, tak berani menatap mata Alma. Ternyata semudah itu Alma menangkap kebohongannya.

"Kau bukan pembohong yang handal, Liya. Tolong, jujur padaku." Alma tak mempercayai jika Edelson mengalami kecelakaan, Edelson pernah bercerita saat remaja suka otomotif hingga balapan liar. Kemampuan menyetir Edelson jauh di atas rata-rata.

"Edelson sengaja menabrakkan mobilnya pada truk di depannya. Dia melakukan itu setelah mendapat penolakan dari pihak rumah sakit untuk mendonorkan jantungnya saat hidup. Saat itu dokter mengatakan hanya pasien kritis, mati otak tapi organnya masih berfungsi, dan pasien meninggal saja yang bisa mendonorkan organnya. Sebelumnya Edelson sudah melakukan pemeriksaan kecocokkan jantung dengan Leo. Pemeriksaan itu dilakukan secara illegal, dia membayar dokter itu. Tapi, untuk operasi transplantasi jantung, dia tak bisa melakukannya secara illegal karena produser rumah sakit yang sulit dan dia tidak mau kau atau keluargamu tahu soal tentang dirinya menjadi pendonor jantung. Dia memenuhi syarat transplantasi jantung karena kondisinya yang kritis dan kemungkinan hidup yang hampir tidak ada."

Pegangan tangan Alma pada Liya terlepas. Ia tak menyangka jika Edelson akan senekat ini untuk menolong Leo. Liya langsung memeluknya untuk menguatkannya. Liya khawatir jika kejadian ini akan mempengaruhi psikis Alma yang sedang hamil.

"Katakan, Liya. Bagaimana caranya aku bisa menari di pemakamannya di saat aku ingin memeluknya agar tidak ada satu pun yang bisa menguburkannya?"

*****

Tangerang, 6 April 2025

Mutiara HitamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang