Edelson berpikir masih ada kesempatan baginya untuk bersatu dengan Alma. Alma hanya sedang marah padanya. Nanti kemarahan kekasihnya akan mereda juga. Bagi Edelson, Alma tetaplah kekasihnya. Ia yakin Alma akan memaafkannya. Ia siap melakukan apapun, termasuk mempertaruhkan hidupnya demi maaf dari Alma.
Setelah menunggu dua hari di depan rumah, akhirnya Alma keluar untuk menemuinya. Edelson tersenyum bahagia karena akhirnya Alma mau memaafkannya juga. Namun, senyum itu luntur saat melihat seorang pria berada di belakang Alma. Edelson tak suka melihat kedekatan keduanya. Tapi, ia yakin pria itu bukan siapa-siapa bagi Alma. Selama ini yang terpenting bagi Alma adalah Edelson seorang.
"Alma, akhirnya kau mau memaafkanku juga. Ayo kita pergi, Sayang," ucap Edelson sambil meraih tangan Alma, namun perempuan itu mundur untuk menghindarinya. Edelson hancur dengan penolakan itu. Tapi ia jauh lebih hancur saat Alma menggandeng tangan pria yang kemarin memukulinya.
"Aku lupa mengenalkanmu pada suamiku kemarin. Ini Leo, suamiku," ucap Alma lalu berhenti sejenak untuk melihat tatapan kecewa di mata Edelson. Ia puas melihatnya, lalu melanjutkan perkataannya dan mengalihkan pandangan pada Leo.
"Sayang, kau pasti sudah mengenalnya. Dia pengecut, pecundang dan pembunuh, namanya Edelson. Oh ya, kurang satu lagi. Sekarang dia pengemis yang meminta-minta di depan rumah kita," ucap Alma dengan nada penuh kebencian dan tatapan tajam. Alma bahkan tak peduli jika Edelson akan sakit hati mendengar hinaannya. Ia memang ingin menghancurkan ego Edelson.
"Alma, kau bercanda kan? Kau tidak mungkin sudah menikah. Kau hanya mencintaiku, Alma," balas Edelson berusaha menyangkal fakta tersebut.
"Kita sudah berpisah selama satu tahun. Lantas, bagaimana bisa otak udangmu itu berpikir aku masih mengharapkanmu?" tanya Alma yang tak habis pikir dengan isi otak Edelson.
Edelson terdiam mematung. Ini pertama kalinya Alma berucap sekasar ini padanya. Ia tahu bahwa Alma memang tidak selembut Liya dalam bertutur. Tapi selama mereka bersama, Alma selalu menjaga lisannya agar.
"Aku tak akan membiarkan kau bersamanya. Dia tak akan mau menerimamu sebagai istrinya lagi setelah dia tahu kau pernah menjadi selingkuhan pria beristri, mencoba melukai saudaramu sendiri dan hamil di luar nikah. Aku yakin kau menyembunyikan masa lalumu dari dia," ucap Edelson.
Edelson merasa buntu. Ia tak ingin mengatakan sesuatu yang mengingatkan Alma pada masa lalu kelam mereka. Tapi, ia tak punya cara lain agar Alma kembali padanya. Ia memang pecundang seperti yang dikatakan Alma. Ia bahkan rela melakukan cara licik dengan menodai nama Alma demi bisa bersamanya.
Edelson pikir Alma akan panik dan suami perempuan itu akan marah mendengar perkataannya. Namun, keduanya masih tenang. Bahkan pria bernama Leo itu memberikan senyum mengejek padanya, seakan mengejek kekalahannya.
"Kau terlambat. Leo sudah mengetahui segalanya tentang apa yang terjadi di antara kau dan aku di masa lalu. Jadi, pergilah dari rumahku atau aku tak akan segan menyuruh orang membunuhmu," ucap Alma.
Semuanya sudah berakhir. Satu-satunya kebahagiaan yang coba Edelson raih sudah pupus. Hal terburuk yang bahkan tak berani Edelson bayangkan sudah terjadi. Alma sudah memiliki pria lain yang jauh lebih mampu membahagiakannya. Pria itu bahkan siap menerima masa lalu Alma.
Alma pikir Edelson akan kembali mengeluarkan taktik kotornya untuk mempengaruhi Leo. Tapi, ia malah dibuat terkejut saat Edelson berlutut di kakinya dan menangis. Selama ini, sebanyak apapun kesalahan Edelson dan sekasar apapun perilaku Edelson padanya. Pria itu tak pernah mau mengucap maaf. Tapi, kali ini Edelson bahkan berlutut di kakinya. Pelukan Alma pada lengan Leo mengerat saat sesuatu dalam hatinya mulai luluh. Ia tak boleh lemah. Ia tak boleh membiarkan Edelson kembali memenangkan hatinya.
Pantang bagi Alma menelan kembali ucapannya. Sejak dulu Edelson memanh pandai bermain kata hingga mampu menipu banyak orang termasuk Alma sendiri. Edelson tidak lebih penting dari Leo dan calon anaknya.
"Maafkan aku, Alma. Tak seharusnya aku menghinamu hanya untuk tetap bersamamu. Selain pengecut dan pecundang, aku juga pembunuh. Aku turut andil atas apa yang menimpamu, tapi aku malah berusaha menghancurkanmu. Kau pantas bahagia, walaupun kebahagiaanmu bukan denganku, aku akan mencoba menerima. Mungkin kita tidak bersatu di kehidupan ini, namun jika aku terlahir kembali, aku harap memiliki kesempatan bersamamu, Almaretha," ucap Edelson dengan penuh ketulusan. Ia tidak berharap Alma mau memaafkan semua dosanya, tapi ia hanya ingin Alma tahu bahwa ia menyesal hanya diam saat Alma memutuskan pergi.
"Pergilah, Bajingan! Aku tak mau melihat wajahmu lagi! Aku tak akan memaafkan dirimu bahkan jika kau mati di hadapanku!" teriak Alma lalu menendang tubuh Edelson hingga menjauh darinya. Alma terbawa emosi, ia hampir saja mengambil batu berukuran cukup besar untuk dilempar ke kepala Edelson.
Leo segera menahan Alma melakukan tindakan pembunuhan itu. Leo memeluk istrinya dan membuat Alma sadar bahwa ia hampir menjadi serupa dengan Edelson. Alma yang sejak kemarin berusaha terlihat tegar, kini rapuh dan hancur saat Leo memeluknya. Pelukan yang sangat ia butuhkan ketika kenangan masa lalu kembali muncul di benaknya. Alma hampir mengikuti jiwa iblisnya untuk membalas Edelson yang tak membelanya saat calon anak mereka dibunuh. Tangisan Alma dan air matanya menjadi bukti bahwa ia belum mampu pulih sepenuhnya.
Edelson terdiam mematung. Ia ingin mendekati Alma dan menenangkannya seperti dulu, tapi sudah ada Leo yang kini menjadi tumpuan hìdup Alma. Edelson menyaksikan sendiri bagaimana Leo mampu membuat Alma merasa lebih baik dengan kehadirannya. Sesuatu yang tak bisa ia berikan saat bersama Alma. Selama ini hanya bisa memberi rasa sakit, penderitaan, kehancuran dan kekecewaan pada Alma. Tapi, Leo bisa memberi cinta, ketenangan, kebahagiaan dan perhatian pada Alma. Sekarang ia menyadari mengapa Alma bisa dengan mudah melupakan dan menolak kehadirannya. Leo jelas jauh lebih baik darinya. Alma pantas mendapatkan pria seperti Leo.
Perlahan-lahan, Edelson mundur dan menjauh dari Alma. Ia juga meninggalkan kotak cincin yang tadinya hendak ia berikan pada Alma. Ia pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Semua di antaranya dan Alma sudah benar-benar berakhir. Tak ada yang tersisa. Edelson akan menghabiskan sisa waktunya dengan kenangan bersama Alma sampai akhirnya ajal menjemputnya.
*****
Tangerang, 2 Agustus 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Mutiara Hitam
RomanceAlmaretha atau Alma, gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara setelah keluarga mendiang ibunya membuang ia ke panti asuhan. Di dunia ini, tak ada yang ingin menjadi pemeran jahat, namun Alma terpaksa melakukannya. Ia terpaksa menjalin kasih denga...
