Alma -Benang Merah-

2.8K 74 0
                                        

Selamat membaca cerita ini setelah sekian purnama berlalu.

Semoga masih ada yang ingat cerita ini karena aku berencana menamatkannya dalam waktu dekat :)
*****

Alma tak paham apa yang diinginkan takdir darinya. Ia merasa tidak ditakdirkan untuk bahagia dari lahir sampai sekarang. Setiap kali menyecap sedikit kebahagiaan, maka kesialan dan musibah akan datang tanpa henti. Dosa besar apa yang dilakukannya di kehidupan sebelumnya hingga harus menerima musibah dan penderitaan bertubi-tubi ini?

Kondisi Leo kembali drop hingga harus dirawat dilarikan ke rumah sakit di Jakarta dan dirawat di UGD. Kemungkinan operasi jantung Leo akan dilakukan sesegera mungkin. Ayah mertuanya sedang mencoba mencari donor jantung secepat mungkin karena kondisi jantung Leo semakin memburuk. Kemungkinan untuk hidup tipis.

Alma yang sedang mengandung berusaha ditenangkan oleh keluarganya, tapi bagaimana bisa ia tenang melihat kondisi suaminya yang sekarat? Alma tak hentinya berdoa dan meminta dalam hati untuk kesembuhan suaminya kepada Tuhan. Ia tak tahu apa mampu bertahan hidup jika Leo tak ada di sisinya.

"Leo pasti sembuh, kita akan menemukan jantung yang cocok untuk Leo." Sela mencoba memberi harapan pada Alma. Alma ingin mempercayai ucapan sahabatnya, tapi ia tak bisa berpikir positif saat takdir tidak pernah berpihak padanya.

"Sela, aku capek. Apa ini karma atas dosa-dosaku ya?" tanya Alma dengan suara parau karena terus menangis.

"Jangan ngomong gitu. Tuhan hanya sedang memberi cobaan ke umatnya yaitu kita. Kita harus yakin bahwa Tuhan pasti juga memberi solusi untuk masalah kita," balas Sela.

Alma hanya mengangguk sebagai respon, lalu mengalihkan pandangannya ke orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Siang ini rumah sakit cukup ramai. Kadang ada pengunjung lewat, suster yang membawa pasien, dokter yang berlari panik, sampai petugas kebersihan. Alma memperhatikan semuanya sambil memikirkan kondisi suaminya. Sampai lamunannya pada Leo terhenti ketika melihat perempuan dengan wajah teduh dan memakai gaun selutut berwarna putih.

Alma terdiam mematung saat perempuan itu sedang sibuk menelepon seseorang dengan raut wajah cemas. Apa yang dilakukannya di sini? Apa ada keluarganya yang sakit? Atau dia yang sakit? Kebetulan macam apa ini? Kenapa orang-orang dari masa lalunya kembali muncul seakan-akan ingin mengejek keterpurukannya saat ini? Atau memang ini isyarat Tuhan?

Kehadiran perempuan itu membuat Alma kembali teringat atas perilakunya dulu yang sangat jahat. Hati kecilnya mengaitkan kondisi Leo saat ini adalah karma atas perilakunya dulu. Terlebih, ia belum meminta maaf pada perempuan itu. Sejujurnya Alma masih tak rela mengikhlaskan kepergian calon anaknya dulu karena perbuatan perempuan itu. Jika maaf dari perempuan itu bisa meringankan karmanya, maka Alma akan melakukannya.

"Sel, aku ke kamar mandi dulu." Alma pamit dengan terburu-buru karena tak mau kehilangan jejak perempuan itu. Ia bahkan tak menjawab tawaran Sela untuk ditemani.

Keramaian membuat Alma sedikit kesulitan mengejar langkah terburu-buru dari perempuan itu. Namun syukurlah, perempuan itu berhenti tepat di sebuah ruang rawat. Alma menahan tangan perempuan itu yang hendak membuka pintu. Ia bisa melihat tatapan terkejut dari perempuan di hadapannya saat melihat kehadirannya.

"Alma, astaga, akhirnya aku ketemu kamu." Alma bingung saat Liya tiba-tiba memeluknya dengan erat. Seakan-akan mereka adalah kawan lama, padahal seingatnya mereka adalah musuh dulu.

Hal yang lebih mengejutkan lagi saat Liya menangis pilu. Sebuah reaksi yang berbanding terbalik dengan yang dipikirkan Alma sebelumnya. Ia pikir Liya akan menamparnya, menarik rambutnya, dan memakinya karena kembali muncul di hadapan perempuan itu. Tapi nyatanya, Liya malah terlihat begitu lega dan bersyukur melihatnya. Apa yang terjadi?

Mutiara HitamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang