Edelson sangat marah pada Alma, terbukti dari tangannya mengepal kuat seakan siap meninju wajah cantik mantan kekasihnya. Ia sadar Alma sedang merencankan sesuatu yang licik dengan keberadaannya di pesta perayaan kehamilan Liya. Alma ingin membuat hubungannya dengan Liya retak dengan memakai kalung yang sempat dimiliki Liya, sebelum akhirnya direbut dia. Ia pun khawatir Liya menyadari kalung yang dipakai Alma, untungnya istrinya belum melihat keberadaan Alma. Edelson buru-buru menghampiri Alma dan menariknya menjauh dari keramaian pesta.
Ia membawa Alma ke taman belakang yang sepi dan gelap sehingga kemungkinan orang sulit mengenali mereka. Ia tak suka saat melihat tatapan menantang dari mata Alma, Alma memang pandai berperan jahat.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" bentak Edelson dengan tatapan tajam.
"Aku diundang oleh Liya, jadi aku datang," jawab Alma santai sambil merapikan rambutnya sebentar. Ia terlihat tak peduli pada kemarahan pria di depannya.
"Kau memang sangat licik, berani sekali kau bermain-main denganku?! Apa maksudmu mengenakan kalung ini?!"
Edelson menarik paksa kalung liontin angsa dari leher Alma hingga leher Alma memerah. Alma menatap kesal pada Edelson yang menyakitinya lalu mengusap sebentar lehernya yang terasa sakit. Ia merebut kembali kalungnya dari tangan Edelson.
"Kau tidak punya hak menuduhku atau merebut kalungku. Kau sudah memberikan kalung ini padaku jadi aku pemiliknya, bukan kau. Aku bebas memakainya dimana dan kapan pun aku mau."
"Oh, aku lupa kau memang tak punya malu. Kau sudah dicampakkan namun masih memungut pemberianku," hina Edelson dan selanjutnya ia menyesali apa yang dikatakannya.
Edelson tak bermaksud menghina Alma, ia hanya marah karena mantan kekasihnya terus membalas ucapannya sehingga egonya mengatakan ia harus melukai harga diri Alma untuk memenangkan perdebatan ini. Ia dapat melihat raut wajah Alma yang berubah dari angkuh menjadi sedih. Apa ia harus minta maaf?
"Alma, aku tidak bermaksud...."
"Kau memang benar, aku wanita yang tidak punya malu. Jadi, kita lihat seheboh apa pestamu dengan kehadiran wanita sepertiku," tantang Alma lalu berjalan pergi menjauh sebelum ia berhasil meminta maaf. Ia hanya bisa menghela nafas kasar karena tahu tak akan mudah melepaskan Alma dari hidupnya karena Alma seperti benalu yang akan terus menempel padanya.
*****
Alma melihat segala keindahan di hidup Liya hari ini. Suami yang mencintainya, keluarga yang menyayanginya, kehidupan yang layak, karir yang cemerlang dan sekarang kehadiran seorang bayi akan membuat kehidupan Liya begitu lengkap. Harusnya ia menghampiri wanita lemah lembut itu dan memberitahu dosa zina yang telah dilakukannya dengan Edelson. Namun, ia malah menjadi wanita bodoh dan pergi dari pesta itu.
Ia pergi saat semua orang berbahagia di sana. Seharusnya ia menghancurkan kebahagiaan mereka, bukannya malah membiarkan mereka bahagia, sedangkan ia larut dalam kesedihan. Alma ingin melakukannya, namun ia sudah terlalu lelah dengan semua drama yang diciptakan takdir di hidupnya. Ia merasa putus asa saat Edelson bahkan tak mau melihatnya lagi. Ia benar-benar wanita payah yang akan terus kalah untuk kesekian kalinya. Ia sadar bahwa apa yang dilakukannya sia-sia. Edelson tetap menjadi milik Liya dan ia tetap sendiri.
Rasa putus asa membuatnya memutuskan berdiri di tengah jalan, menantang setiap kendaraan yang lewat untuk menabraknya. Suara klakson mobil tidak membuatnya gentar dan bergerak seinci pun dari posisinya. Ia merasa ini akhir hidup dari seorang anak haram yang menjadi penghancur pernikahan kakak tirinya sendiri.
Ia sudah siap menerima ajalnya saat sebuah truk terlihat tak mampu menghentikan laju kendaraan dan sedikit lagi menabrak tubuhnya. Namun, seseorang menariknya hingga tubuhnya selamat dari kecelakaan tersebut. Ia sudah siap memaki manusia sok malaikat itu, namun makiannya tertahan saat melihat siapa yang menolongnya.
"Apa yang kau lakukan?! Kau ingin berbuat dosa dengan mengakhiri hidupmu sendiri? Ingat Tuhan, Alma. Seberat apapun hidupmu, kau harus bersyukur masih diberi kehidupan," ucap Liya yang baru saja menolongnya.
Kenapa Tuhan selalu menempatkan Liya sebagai malaikat, sedangkan dirinya sebagai iblis? Kenapa harus Liya yang melihat titik terendah hidupnya dan menolongnya? Kenapa ia harus merasa sangat bersalah saat wanita itu memeluknya dengan tulus dan menangis karenanya?
"Berjanjilah padaku, kau tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini. Aku memang tak terlalu mengenalmu, tapi aku yakin kau orang yang baik. Aku pernah ada di posisimu dulu, saat aku merasa terpuruk karena orang tuaku bercerai lalu ayahku meninggal. Aku mengerti penderitaanmu, tapi percayalah suatu saat kau akan mendapat kebahagiaan yang kau impikan seperti aku sekarang," ucap Liya lagi setelah pelukan kami terlepas.
Aku tak pernah tahu seperti apa kehidupan masa kecil Liya dan saudaraku yang lain. Namun, setelah mendengar apa yang dikatakan Liya membuatku merasa bahwa apa yang kupikirkan selama ini salah. Mereka mungkin tidak sebahagia yang kupikirkan atau ada sesuatu yang terlewat dari penglihatanku.
"Bukankah masa kecilmu bahagia seperti kebahagiaan keluargamu saat ini?" tanya Alma dengan nada bergetar karena takut jika selama ini ia salah paham terhadap istri kekasihnya.
"Aku tak pernah menceritakan hal ini pada siapa pun, bahkan pada Edelson. Orang-orang hanya tahu bahwa aku hidup berkecukupan dan penuh kasih sayang. Namun, nyatanya tak seperti itu. Pernikahan Ayah dan Mama bukan karena cinta, melainkan karena keuntungan masing-masing. Aku diabaikan setiap harinya, Ayah mendidikku dengan keras dan Mama sibuk dengan kesenangan duniawinya. Ayah punya banyak istri, hingga akhirnya memutuskan bercerai dengan Mama demi wanita lain. Mereka memperebutkan diriku. Mama hancur karena perceraian itu. Hingga ayah meninggal karena penyakit seksual. Sekarang, suami yang kucintai pun melakukan hal yang sama. Edelson berselingkuh," ucap Liya yang membuatku terkejut.
Aku tak menyangka jika kehidupan Liya juga seburuk hidupku. Namun, aku lebih tak menyangka jika Liya tahu jika Edelson berselingkuh denganku. Tapi, kenapa Liya tidak menamparku sekarang dan tetap menolongku?
Aku melihat dengan jelas tatapan penuh luka di mata cokelat Liya. Hal yang tak pernah kulihat karena selama ini mata itu terlihat begitu bahagia. Harusnya aku senang saat akhirnya berhasil membuat Liya hancur? Tapi, kenapa sekarang aku tak suka melihat kesedihannya?
"Kau mungkin tak mempercayai perkataanku. Tapi, Edelson memang berselingkuh. Aku belum mengetahui siapa wanita itu, tapi aku bisa merasakannya. Istri memiliki insting yang tajam saat suaminya berubah. Tapi, aku memilih diam dan tak mencari tahu apapun. Aku berharap anak kami dapat mengubah Edelson dan aku bisa merasakan bahwa harapan itu benar-benar ada. Edelson mulai kembali seperti dulu, mungkin dia sudah meninggalkan wanita itu karena anak kami. Aku menceritakan semua ini karena aku mempercayaimu, aku juga ingin kau tahu bahwa bunuh diri bukanlah solusi atas masalah di hidupmu," ucap Liya lalu menggenggam tanganku dengan lembut seakan-akan berusaha meyakinkanku.
"Bu Liya, aku akan pergi dari kota ini. Sebelum aku pergi, aku ingin mengatakan terima kasih karena sudah menyelamatkanmu, sekaligus meminta maaf atas semua kesalahanku. Aku berjanji akan membalas kebaikanmu hari ini," balasku dengan air mata yang menetes di pipiku.
"Kau tidak punya salah apapun padaku. Aku berdoa dan berharap pada Tuhan agar kau diberikan kehidupan baru yang bahagia."
Aku mengangguk lalu melepaskan pegangan tangan kami. Aku berbalik badan dan berjalan menjauh darinya. Sepanjang jalan menuju terminal bis, aku terus menangis. Menangisi semua dosaku pada Liya.
Aku begitu bodoh karena sudah membenci Liya atas dosa ayahku. Setelah mendengar kisah masa kecilnya, aku sadar bahwa Liya pun korban dari kekejaman ayahku dan keserakahanku. Jika ada orang yang harus kubenci adalah ayahku sendiri, bukan saudaraku atau ibu tiriku.
*****
Tangerang, 12 Februari 2024
KAMU SEDANG MEMBACA
Mutiara Hitam
RomantizmAlmaretha atau Alma, gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara setelah keluarga mendiang ibunya membuang ia ke panti asuhan. Di dunia ini, tak ada yang ingin menjadi pemeran jahat, namun Alma terpaksa melakukannya. Ia terpaksa menjalin kasih denga...
