Alma senang karena beberapa minggu ini tak bertemu dengan Leo. Kabarnya pria itu sedang ke kota untuk menjual hasil panen dan mengurus beberapa usaha keluarga di kota. Ia pun tak perlu mendengar ejekan dari pria itu. Hidupnya tampak lebih menyenangkan tanpa keberadaan Leo.
Sore ini, ia bersepeda dengan Harla untuk melihat desa. Harla tampak semangat menunjuk setiap tempat seperti rumah lurah, balai desa, sekolah dan lain-lain. Alma pun mengangguk sambil mengayuh sepedanya.
"Kalau rumah cat biru itu rumah Kak Leo, Kakak sering tinggal di situ kalau berantem sama Bapa," ucap Harla dengan santainya.
Alma menoleh ke arah rumah sederhana yang jauh berbeda dengan rumah utama. Ia berpikir sejenak mengapa harus ada rumah itu, pertengkaran sebesar apa sampai Leo harus meninggalkan rumah utama? Terlalu fokus pada pertanyaan dalam pikirannya, hingga ia tak sadar sepedanya sudah keluar jalur menuju jembatan tanpa pembatas.
"Kak Alma!" teriak Harla saat melihat Alma tercebur ke dalam sungai yang arusnya cukup deras.
Harla panik dan berteriak minta bantuan, namun tidak ada orang yang mendengar. Ia melihat Alma yang hampir tenggelam dan meminta tolong. Ia pun tak bisa berenang sehingga tak bisa membantu Alma. Ia hendak pulang ke rumah untuk memanggil bapa dan ibu, namun mobil Leo melewati jembatan dan berhenti saat melihatnya. Leo turun dari mobil dan menghampiri Harla.
"Kan sudah Kakak bilang jangan main di jembatan. Pembatas jembatan belum dibenerin, bahaya!" bentak Leo memperingati adiknya. Ia hendak menarik Harla pulang, namun Harla tak mau bergerak.
"Kak Alma tenggelam. Tolong bantuin Kak Alma," ucap Harla yang membuat Leo langsung melihat ke dalam sungai. Alma sudah tak sadarkan diri dan hampir terbawa arus. Leo langsung menyebur ke dalam sungai untuk menangkap tubuh mungil itu.
Harla yang melihat kakaknya berhasil membawa Alma ke pinggir sungai, lantas berlari ke pinggir sungai untuk melihat kondisi Alma. Ia menatap khawatir saat kakaknya tak bisa membangunkan Alma.
"Coba kasih nafas buatan, Kak," usul Harla yang dibalas tatapan tajam oleh kakaknya. Paham telah salah memberi usulan, Harla langsung diam.
"Alma, bangun! Jangan paksa saya mencium kamu," bisik Leo tepat di telinga Alma agar Harla tak dapat mendengar ucapannya.
Entah bagaimana bisa ucapan Leo membuat Alma terbatuk. Wanita itu mengeluarkan air sungai yang sempat tertelan. Alma mengira tadi hampir mata kehabisan nafas, namun ia berhasil selamat. Untuk kedua kalinya, Leo menyelamatkan hidupnya. Bagaimana bisa orang yang menghina hidupnya malah menyelamatkan hidupnya? Takdir memang selucu itu.
*****
"Kamu tuh bisa engga menyusahkan saya sekali aja?! Kalau engga bisa naik sepeda, engga perlu sok naik sepeda. Pakai kaki kamu untuk jalan!" bentak Leo saat sampai rumah. Bentakan Leo membuat beberapa pekerja menoleh ke arah mereka. Harla hendak membela Alma, namun Leo memaksanya masuk ke kamar. Kini, hanya tersisa Alma dan Leo.
"Jadi bisu sekarang kamu?! Malam itu kamu bicara begitu hebatnya! Sekarang kemana mulut yang mengusir saya?!" tanya Leo kembali mengungkit pertemuan pertama mereka. Alma tahu ia salah karena bersikap buruk pada orang yang berniat baik membantu, tapi Alma tidak pernah meminta dibantu. Leo sendiri yang menawarkan bantuan.
"Saya haus. Mau minum," ucap Alma. Leo hanya bisa menahan kekesalannya saat mendengar ucapan di luar konteks pembicaraan dari mulut Alma. Ia pun memanggil pembantu untuk membawakan air.
Alma menerima gelas berisi air dan meminumnya perlahan-lahan. Saking lambatnya ia meminum air, Leo sampai memutuskan meninggalkannya. Alma memang sengaja melakukan itu agar Leo berhenti bicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mutiara Hitam
RomansaAlmaretha atau Alma, gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara setelah keluarga mendiang ibunya membuang ia ke panti asuhan. Di dunia ini, tak ada yang ingin menjadi pemeran jahat, namun Alma terpaksa melakukannya. Ia terpaksa menjalin kasih denga...
