Heeseung sebenarnya iri dengan kekuatan Riki dan Jay. Menurutnya mereka itu kuat, Riki dengan kekuatan supernya dan Jay yang bisa melululantahkan segalanya dengan kekuatan anginnya. Heeseung juga ingin kuat seperti mereka. Meski ia sudah melatih kekuatannya Heeseung tetap merasa kurang. Ia butuh pemicu lain agar bisa semakin kuat. Dan Heeseung tahu itu.
Ketika Jungwon tengah sendiri Heeseung melancarkan aksinya.
"Jungwon berikan aku darahmu!." Heeseung menatap Jungwon dengan angkuh.
"Tapi Heeseung bukannya kemarin kamu sudah meminum darahku lagi ya."
"Aku tidak peduli, kalau aku ingin ya ingin, seharusnya kau menunjukkan sopan santunmu padaku. Aku ini pangeran, dan jangan memanggil namaku seenaknya." Bentak heeseung.
Jungwon menjadi menciut ketika mendengar nada suara Heeseung meninggi. "Tapi Heeseu..."
"JANGAN PANGGIL NAMAKU SEPERTI ITU!!, kau hanyalah manusia lemah, cacat dan tidak berguna. Bersyukurlah kau karena bisa bersanding dengan vampir sepertiku. Kau tahu jika darahmu tidak special mana mungkin kami para vampir mau membawamu. Riki dan Jay hanya memanfaatkan darahmu saja Jungwon."
Seketika Jungwon meremang mendengar penuturan Heeseung yang sarkas. Air matanya tak kuasa ia tahan hingga lepas dari pelupuknya.
"Apa dengan menangis kami akan mengasihanimu, tidak Jungwon, semua itu tidak ada gunanya." Heeseung memandang Jungwon yang terlihat seakan pasrah. Dengan cepat ia menarik tubuh itu, menurunkan kerah baju Jungwon hingga memperlihatkan bahunya yang siap untuk Heeseung gigit. Ketika Heeseung meminum rakus darahnya, Jungwon merutuki segala nasibnya.
"Riki, hari ini Jungwon sama Riki ya?" tanya Jungwon pagi itu ketika mereka akan melanjutkan perjalanan.
"Kenapa ?" Tanya Riki, ia berpura-pura masih marah pada Jungwon.
"Jungwon gak mau ngrepotin Heeseung terus."
"Lalu kamu yang ganti ngrepotin aku, begitu maumu Jungwon." Riki berpura-pura membentak Jungwon.
Jungwon sedikit tertegun, bahkan ia menahan air matanya yang lagi-lagi siap lolos dari pelupuknya.
Jay yang melihat itu langsung menghampiri Jungwon, "Kalau Riki tidak mau, sama aku saja, Jungwon mau kan?" tanya Jay. Jay sudah dalam posisi jongkok membelakangi Jungwon bersiap menggendong Jungwon seperti biasanya.
Jungwon hanya mengangguk. Kemudian naik ke punggung Jay.
Dalam gendongan Jay, Jungwon menangis, meredam isakannya agar tidak ada yang mendengarkannya. Bahkan wajahnya ia sembunyikan dibalik punggung Jay. Apa benar kata Heeseung jika sebenarnya Riki dan Jay yang tidak menyukainya, Riki dan Jay yang hanya memanfaatkan darahnya semata.
Jay menyadari Jika Jungwon menangis karena merasakan punggungnya yang basah dan tubuh Jungwon yang bergetar.
Jay menghentikan langkahnya, menoleh pada Jungwon yang masih menyembunyikan wajahnya. "Jungwon apa kamu sakit?" dengan suara lembut Jay bertanya.
Jungwon menggeleng, masih menyembunyikan wajahnya. "Aku tidak apa-apa, ayo Jay kau harus mengikuti Riki dan Heeseung." Ujar Jungwon pelan, ia tidak mau semakin menghambat perjalanan mereka.
Riki menyadari terjadi sesuatu dengan Jungwon. Jungwon diam saja dengan tubuhnya yang bersembunyi dipunggung Jay. "Apa aku terlalu keterlaluan ya dengan Jungwon." Batinnya.
HEESEUNG ITU HARGA DIRINYA TINGGI YA....
KAMU SEDANG MEMBACA
FATE THREAD
FantasyJungwon dengan takdirnya yang harus mengembalikan kedamaian dunia. HOMOPHOBIC GO AWAY Diharap bijak dalam membaca. Murni imajinasi saya tanpa ada keinginan menjiplak karya orang lain.
