" ...Apa kau maksud kan ? "
" Abang yang usir Abang Gempa dari sini kan ? " Kata Solar ikut berdiri. " Habistu cakap Ngan kitaorang bahwasanya Abang Gempa tengah pergi dinas luar kota ? "
Halilintar mengepalkan tangannya. Siapa yang telah berani membocorkan hal ini pada Solar! " Jaga apa kau cakap- "
" Ape? Jaga apa aku cakapkan? Abang sendiri dh tau jaga perilaku ke tak ? " Bantah solar tegas. " Dh mentang mentang la die paling Abang Kat sini langsung jer ambil putusan nak usir Abang Gempa! "
Duri datang mengecek keributan. Ia mengintip di balik bingkai pintu, melihat kedua orang itu. Keberadaannya di sadari oleh Halilintar. Tapi tidak dengan Solar.
" Abang mungkin boleh tipu yang lain, tapi tak Ngan aku " lanjut Solar.
" Apa yang buat kau punya opini bahwasanya aku usir Gempa? " Tanya Halilintar mencoba kembali dengan nada kalemnya.
Solar terdiam, berfikir fikir alasan apa yang harus diajukan olehnya untuk memperkuat pendapatnya. Sejujurnya sampai saat ini dia belum menemukan satu bukti yang kuat.
" Kau fikir la sebelum kau buat pendapat, jangan sebab rindu die jer, kau hilangkan semua akal sehat. " Halilintar berbalik meninggalkannya dari ruangan.
Solar menoleh ke arahnya pergi. Dilihatnya Duri yang sedang berada di ambang pintu. " Duri? " Panggilnya heran.
" Iye ? " Duri menoleh ke arahnya dan segera menghampirinya. " Engkau bertengkar Ngan Abang Halilintar keh? " Tanyanya dengan memiringkan kepalanya, bingung.
" Ha'ah " solar menganggukkan kepalanya membalas wajah heran di depannya.
" Apesal pula? "
" Tu ha, pasal roti tawar Kat lemari. Yang aku makan pagi tadi " jawab Solar sembari keluar dari dapur. Kemudian kembali diikut oleh duri.
" Oo jadi sebab tu la Kot kau sakit perut " tebak Duri.
" Ha'ah " jawab Solar menganggukkan kepalanya.
" Memang apesal pula kau makan- "
" Halaaaa malas la nak makan makanan sisa semalam, Tah kah itu ayam krispi paling sedap pun takkan sedap lagi kalau dh dingin "
" Sedap pun aku rasa "
" Kau tu. Aku lain lagi "
" Hemmm yelahh "
Solar menganggukkan kepalanya membalas perkataan itu. Membuka pintu kamar dan menghampiri tempat tidur segera berbaring di atasnya.
" Abang gempa bila nak balik ye ? " Pertanyaan itu datang dari Duri. membuat Solar kaget menoleh ke arahnya.
Solar Tersenyum. Benar bahwa Duri adalah anak paling naif di sini. Baru kemarin ia bersikeras marah kepada Gempa. Dan sekarang dia mencari-carinya.
" Nak ke tak pergi cari die Kat tempat kerja dengan aku ? " Solar mengusulkan. Kembali duduk menatap ke arahnya.
" Engkau tau keh nak kena cari Kat mana tempat kerja die tu? "
" Tauu "
" Aku rasa tu takkan mudah la nak tau die Kat manaa, habis aku tanyakan Abang halilintar- "
<<<A few momen sebelumnya
" Abang? Kat mana Abang gempa dinas luar kota ? " Tanya Duri kepada Halilintar yang sedang melahap makanannya.
" Aku tak tau jugak die tak bagitaukan aku pasal tu " jawab Halilintar tanpa menoleh ke arahnya.
" Yelahhh "
KAMU SEDANG MEMBACA
Shut up !
Fiksyen PeminatBerawal dari mendapatkan pekerjaan semuanya menjadi rumit untuk dibicarakan. Sampai kecelakaan terjadi dan menimbulkan kesalahpahaman, cerita ini masih terus berlanjut... Budayakan support! Nb: 3/4 karakter(tokoh) dalam cerita adalah RESMI MILIK MON...
