EKSTRA

456 37 3
                                        

Gempa membuka mata, melihat silau lampu putih di plafon ia menghalangi pandangan dengan tangan kanannya.

Ketika pandangannya mendapati tangan yang terbalut perban dengan rapi. Ia baru Sadar sekarang berada di bangsal rumah sakit lagi.

Menghela nafas, Yang benar saja baru kemarin ia keluar dari tempat itu.

Ia mencoba untuk bangun sendiri. Sambil menekan pelan pelipisnya, Gempa menoleh melihat sekeliling tidak ada seorangpun di dekatnya.

Kepalanya berdenyut sakit.

Tapi Miris sekali, baru saja ia kecelakaan parah tapi tak ada orang yang diharapnnya akan menyambutnya ketika baru sadar.

" Gempa ? " Sapaan akrab itu terdengar dari arah kanannya. Seorang Berjaket hijau menatapnya risau berpegangan pada bingkai pintu kamar mandi.

.
.

Tak mengambil berapa saat, Gopal menghampirinya, memeluknya erat-erat.

Gempa terdiam, rupanya ada juga orang yang menemaninya disini.

Gempa mengharapkan seseorang menghawatirkan dirinya memang. tapi

Gempa tidak suka di peluk begitu, lagipula luka di sekujur tubuhnya terasa panas.

" Wehh kau ni " Segera ia tepis tangan kawan karibnya sok jijik.

.

" aku minta maaf " ungkap Gopal menunduk.

" Ha?? " Gempa ikut merendahkan pandangan, mencoba melihat parasnya. Ia tak mengerti dengan bahasa lisan tadi.

" Aku minta maaf sebab aku lah kau macam ni skrang " Gopal menutup mata dengan tangan kanan.

Air matanya tidak boleh terlihat oleh orang orang di bangsal ini. Suara nya juga ia redam dalam dalam. Sampai Gempa yang berada di dekatnya pun tak mendengar jelas perkataannya.

" Hah?? " Gempa juga hanya merespon heran. Ia benar benar tidak mengerti kenapa harus Gopal meminta maaf.

Bukankah dia tidak ada di tempat kejadian perkara saat itu?

Tidak mungkin dia mau mengikuti drama sinema elektronik yang ketika A sakit, si B yang merasa bersalah.

Wah, apa jangan jangan Gopal sebenarnya adalah pengemudi kereta itu??

Gempa menggeleng cepat terkekeh dengan pemikiran konyol di kepalanya.

.

" Aku lah yang kirimkan kau pesan dengan lokasi stasiun kereta tu sebagai Duri " jelas Gopal mendongakkan kepala.

Bagaimanapun ia harus jujur.

.

Gempa tercengang dengan apa yang di dengar barusan.

Rupanya begitulah ceritanya, bahwa sebelumnya ia sudah dibodohi oleh penggemar makanan ringan berbaju hijau ini.

Mengapa dunia jahat sekali?

Mulai dari di usir dari rumah, sampai skrang juga di bohongi seperti orang bodoh begini.

Daripada itu...

Baru ia ingat,
Dirinya berada di sini sekarang karena tertabrak kereta ketika hendak mendorong Solar dari rel.

" Kat mana Solar? " Tanya Gempa tanpa menjawab permintaan maaf Gopal.

Gopal tak menjawab. Ia sibuk menahan tangis dan menutup mata.

Gempa melihat itu sebagai jawaban tak mengenakkan.

Shut up !Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang