29. PERGI BEGITU SAJA

298 30 0
                                        


Duri menghampiri Halilintar yang baru saja memasuki rumah.

Ia menyapa dengan senyum manis dan sapaan hangat, meskipun sekarang masih sedang memakai plaster putih di keningnya sebagai kompres.

Halilintar membalas sapaan dengan menepuk nepuk rambutnya, berjalan menuju dapur untuk menyimpan beberapa makanan yang dibelinya diluar, persediaan makan malam ini.

Dapat kita lihat solar pun ada di dapur itu, ia sudah sibuk makan sedari tadi. seakan tak mau menunggu si sulung pulang membawakan makanan, ia memilih merebus mie instan.

Duri yang iseng dan mencoba berbasa basi pun melapor.

" Tengok bang, die dh makan lagi dulu tak tunggu tunggu. " Duri menunjuk Solar.

" Kau tak nak makan lalapan ayam keh? " Halilintar tersenyum menanggapinya.

Entah angin apa yang telah menimpa mereka, Halilintar sekarang terlihat lebih ramah.

Terdengar seperti dalih bagi Solar. Ia pasti sedang mencoba menjadi orang baik agar tak dituduh mengusir Gempa.

Padahal perilakunya siang ini sudah jelas membuktikan bahwa benar ia mengusir Gempa.

Ia mengikuti untuk memastikan Solar tak bisa bertemu dengan Gempa dan mengetahui semuanya dari Gempa.

Payah. Sangat tak cocok berakting.

" tak " jawab Solar acuh tak acuh.

Halilintar melihat handphone retak di meja, di angkatnya dari meja itu dan melihat lookscreennya. Gambar tumbuh tumbuhan artinya milik Duri.

" simpan balik " Solar meliriknya tidak suka.

Ralat tadi. Ini handphone milik Solar.

Halilintar meletakkan kembali handphone itu ke meja.

Perhatiannya bertaut pada kunci kamar miliknya, Taufan dan Gempa. Kunci ada di dekat piring dan handphone yang baru saja di simpannya.

Kunci itu milik Gempa lebih tepatnya. Gantungan kunci itu punya Gempa.

Terlintas sejenak di pikirannya akan keadaan sang adik di luar sana. Halilintar merindukan kehadirannya.

Lantai Dapur yang dipijaknya sekarang menjadi bukti, bahkan rumah ini pun tak suka dengan ketiadaan Gempa disini.

Apa Halilintar menyesal?

Entahlah, Kurasa tidak.

Halilintar teringat juga dengan foto yang di dapatkan dari kawannya hari itu. Sungguh hal yang tidak akan ia maafkan. Seandainya ada obat yang bisa Memotong sebagian ingatan, ia ingin meminumnya untuk menghilangkan bagian tersebut tadi.

Solar sendiri Memperhatikan semua eskpresinya. Berdasarkan feeling dan pengetahuan yang di ambil dari buku bahasa tubuh, ia bisa tahu Halilintar sedang memikirkan suatu hal.

Dan Katanya ini saat yang tepat untuk membuatnya berkata jujur.

" Dh menyesal ? "

Seakan Solar tau apa yang barusan terlintas di benak Halilintar, ia bertanya dengan nada mengejek.

Halilintar teruja.

" Apa kau maksudkan? " Halilintar mengecam.

" Dh menyesal suruh Abang Gempa pergi dari rumah ni ? " Solar masih menanyainya dengan Eskpresi yang sama.

Anak ini benar benar langsung to the poin saja ya ?

Duri yang tadi dilarang untuk memberitahukan Halilintar bahwa ia pergi mencari Gempa seketika membelalakkan matanya kaget.

Shut up !Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang