5. ANGKAT KAKI

413 35 3
                                        

" Solar tengok! Aku ada jumpa kucing Kat ruang tengah ni tengah tidurrr " Duri berjalan menuju tempat duduk solar yang sedang belajar di kamar.

Solar menoleh sembari memperbaiki posisi kacamatanya. Melihat kucing oranye yang dipertunjukkan kembaran nya itu.

" Aku bagi die nama sesuai Ngan nama aku- Duriii " seru Duri lagi.

" Jadi nanti kalau Kalau aku panggil die, kau pun nak ikut toleh ? " Tanya Solar.

" Ha'ah, kan sama sama Duriii " merebahkan diri pada tempat tidur dan memeluk kucing dengan sangat erat.

" Nama die cream laa Duri. Bukan Duri- " Gempa menyahut dari arah pintu kamar dan tersenyum.

Duri tidak menjawab. Ia berpaling tidak suka.
Kenapa dia yang mengatur nama padahal kucing ini bukan punyanya.

Solar melihat ke arah Gempa di pintu sementara Gempa sama sekali tidak menoleh ataupun sekedar menyadarinya. Solar menunduk ketika si manik emas yang di perhatikan nya itu pergi dari pintu kamarnya tanpa mengucapkan sapaan sama sekali untuknya.

" Duri, aku nak Kat dapur jap ye " Solar beranjak pergi dari meja belajarnya.

" Yelah yelahh " Duri sudah terlalu senang dengan kucing Duri nya tak perlu memperdulikan apa apa lagi

" Abang gempa? " Solar menoleh kesana kemari di pintu dapur mencarinya. Dan yang ditemukan nya Cuma ada Taufan disana.

" Tak ada pun Kat sini " Jawab Taufan.

" Dh pergi kerja keh? "

" Ye Kot? Mana aku tau "

" Mana ada orang nak berangkat kerja jam tujuh malam cam ni " Blaze menyahut berjalan di antara keduanya. Taufan yang berada di kursi meja makan dan solar di pintu.

" Abang gempa kan memang sibuk akhir akhir ni Blaze " Sambung Ais berjalan mengikutinya.

" Aku tak pergi kerja laa " Gempa menengahi. Muncul dari pintu belakang menjinjing keranjang cucian yang sudah kosong. Melihat satu persatu saudaranya itu.

Taufan hanya terdiam melihatnya sembari kembali menyantap makanan di meja. Blaze yang sibuk di pintu kulkas dan Ais yang mencuci muka di sink. Solar?

" Abang dari mana? " Solar bertanya dengan maksud berbasa basi.

Bersamaan dengan itu, atensi Gempa teralihkan dengan dering telepon nya di meja ruang tengah. Ia bergegas segera menghampiri telepon itu dan menjawabnya. Tidak dengan pertanyaan Solar.

Solar mengikuti, menuju ke arah ruang tengah. Berpapasan dengan Halilintar yang membawa plastik kresek berisi makanan kotakan. Lagi.

" Nak Kat mana? " Halilintar bertanya padanya

" Ikut Abang gempa " Solar menunjuk ke arah Gempa yang sibuk menerima telepon.

" Tak payah, Jom sini makan jer. Abang bawakan makanan dari kantor " Halilintar menengok sekilas kemudian kembali berjalan ke arah dapur.

" Tak pe la Abang, sekalian ajak Abang gempa kan? "

" Ajak Duri jer dulu "

" Iyelah iyelah "

Ketika Solar berjalan ke arah kamarnya di samping kiri Gempa yang berada di dekat meja. Gempa berbalik mengikuti Halilintar ke dapur.

" lah Abang? " Solar kembali berhenti. Menoleh ke arahnya. Bayangkan saja, Solar hanya mendekatinya untuk menuju pintu, dan dia sudah berbalik Kemudian pergi? Bahkan pertanyaan sebelumnya pun tidak di jawab. Situasi apa ini.

Shut up !Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang