" Okeylah. Skarang kau balik Kat rumah, aku Kat ruang OSIS bawa semua ni " Araska berjalan keluar ruangan menenteng semua kertas kertas itu.
" Angkat tangan! " Duri muncul dari balik daun pintu dan menodongkan senjata api kepada mereka.
Tentu saja itu senjata api mainan anak-anak. Solar tidak kaget sama sekali dengannya sementara Araska sudah pucat pasi mundur darinya. Seakan ada kesalahan yang benar benar lakukan, ia berucap dengan Terbata bata " a-aku tak tau apa apa "
" Kau boleh jelaskan Kat office- " Duri melanjutkan sandiwaranya.
" Apehal kau buat Kat sini ? " Sanggah Solar dengan nada malas. Melihat tingkah laku kekanak-kanakannya memegang pistol mainan.
" Tak de apa. Tunggu kau balik sambil main dengan die " Duri mengembalikan mainan yang sedari tadi di pegangnya kepada anak laki laki di dekatnya. " Nah punya kau dik "
" Siapa die ? " Solar bertanya melihat anak itu heran.
" Tak tau? " Duri angkat bahu tak mau tau.
" Siapa nama kau ? " Solar kemudian beralih bertanya langsung kepada anak itu.
Tak menjawab sepatah katapun, Anak laki laki yang tadi berada di hadapannya sudah hilang kabur bak di kejar binatang buas. Solar melihat ke arahnya pergi. Berfikir apa sebenarnya yang membuatnya takut?
" Ka-Kalau cam tu aku pergi lagi dulu ni ha " Araska ikut serta meninggalkan keduanya.
" Ha'ah kitaorang pun dh nak balik jugak, sampai esok " ujar Solar kemudian berjalan ke arah sebaliknya menuju pintu keluar dari sekolah.
Duri mengikuti langkahnya sambil melihat isi tas ranselnya sendiri. Tampak Ia kebingungan dengan itu, Solar berbalik dan bertanya. " Apa kau tengah buat lagi tu ? "
" Ni haa, " Duri menunjukkan isi tas ransel" aku lupa handphone aku simpan Kat manaa " lanjutnya menjelaskan.
" Cam mana dh nii, kalau dh ada orang ambik aku mesti kena marah Abang Halilintar " Duri merengek melihat sekeliling.
" Lah? Apesal pula Abang Halilintar nak marahi engkau ? " Solar menanggapinya memiringkan kepala tidak mengerti.
" Mesti lah. Kan Abang Halilintar belikan handphone tu buat kau. Habistu kau bagi handphone tu kat aku ni. Skrang aku hilangkan. Secara teknikal, Abang Halilintar nanti persalahkan aku dh kann " celoteh Duri menjawabnya.
Solar menghela nafas. Sungguh menyusahkan anak amato di depannya ini. Entah kapan ia akan menjadi lebih dewasa. Sampai kapan dirinya harus mengurus anak Kecil ini.
" Jom lah pergi cari dulu " Solar memberi Solusi.
" Jom cepat cepat! " Duri sudah terlebih dahulu berlari ke tempatnya tadi bersembunyi. Di balik pintu ruangan ekstrakulikuler sains dan teknologi.
Mereka mencari disekitar sana, memasuki ruangan kemudian kembali keluar koridor lagi, mengecek kesana kemari. Duri berjalan menyusuri koridor yang sempat dilewatinya tadi, sementara solar mengikutinya sambil melihat tempat tempat tersembunyi yang kiranya duri bisa saja menjatuhkan hp diatasnya.
Sekarang mereka sampai ke depan pintu ruangan kantor tata usaha. Sudah cukup lelah mencari, Solar inisiatif duduk ke bangku panjang di dekat pintu. Ia melihat Duri yang masih sangat bersemangat mencari sampai ke bawah pit bunga sudut koridor. Tak habis pikir jika saja benar Handphone itu di temukan di bawah pot bunga, entah bagaimana itu Bisa berada disitu.
Satu menit dua menit tiga menit. Sekarang sudah sampai sepuluh menit dan Duri belum menemukan handphonenya disana. Meskipun begitu ia juga tidak pergi dari depan pintu, hanya berputar putar disana mencarinya. Pemandangan itu membuat Solar merasa bosan, mengantuk sudah tentu juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shut up !
Fiksi PenggemarBerawal dari mendapatkan pekerjaan semuanya menjadi rumit untuk dibicarakan. Sampai kecelakaan terjadi dan menimbulkan kesalahpahaman, cerita ini masih terus berlanjut... Budayakan support! Nb: 3/4 karakter(tokoh) dalam cerita adalah RESMI MILIK MON...
