14. TUDUHAN (2)

244 19 1
                                        

Gempa terdiam melihat beberapa orang berlari ke arahnya dengan raut muka tidak baik. Kata kata perempuan di dekatnya barusan sudah pasti telah memutar balikkan keadaan. Orang orang itu melepaskan tangan Gempa dari si perempuan pencuri.

" Tak, tak cam tu bang- " Tutur Gempa mencoba menjelaskan.

" Diam kau! " Seorang diantara mereka menegur gempa dengan kasar.

" Tapi bang aku tak- " ucap Gempa tetap tidak terima dengan hal ini.

" Kena cakap diam tu diam lah ! " Ucap seorang lagi menegurnya.

" Kau tak pe keh dik? " Beberapa orang lain pun menanyakan kabar si perempuan yang menurut mereka menjadi korban itu.

" Die paksa aku Kat rumah die tadi bang.. " perempuan itu melirih dan sedikit membuat buat nada bicaranya. Ia mulai berpura pura menangis dan menutup wajahnya juga.

" Merempek! Kau dh rompak orang skrang nak buat tuduhan pula! " Gempa mengepalkan tangannya menahan amarah.

Sementara si perempuan itu menangis semakin menjadi jadi. Membuat kepercayaan semua orang di tempat itu terpaut padanya. Mereka melirik Gempa dengan tajam. Gempa yang tidak terima pun tidak mau menyerah begitu saja.

" Mengaku jer skrang sebelum diorang tau kau ni perempuan licik- " Gempa tak melanjutkan perkataan setelah mendapat pukulan keras di pipinya. Ia menunduk melihat kemeja putihnya diwarnai dengan bercak darah. Bibirnya terluka.

Gempa yang terdiam mulai membuat heran orang orang yang berkumpul di tempat itu. Tetapi tidak dengan salah seorang yang sedari tadi menegurnya kasar, justru ketidaksukaannya pada Gempa mungkin semakin menjadi.

" Budak ni memang nak kena! " Ia mengangkat tangan dan kembali memukul Gempa.

" Kejap kejap! " Fatih datang dan menarik Gempa dari orang orang itu. Di tanya nya Gempa tentang keadaannya namun Gempa tak menjawab. Gempa sibuk mengusap darah di dagunya agar tak mengenai kemeja.

" kau kawan die ye?! " Fatih menoleh mendengar pertanyaan itu.

" Ye. aku kawan die " jawab Fatih dengan lantangnya. " dan aku pasti, Korang dh salah faham dengan die "

" Alah tak percaya, tunjuk la bukti kalau Ade " balas sarkas orang asing di depannya itu.

" Bagi tu- " Fatih membalikkan badan dan mengambil tas yang di pegang oleh si pencuri perempuan yang sudah mulai diam berfikir fikir, tentang sandiwara apa lagi yang akan ia gunakan. " Ni Bag yang dh kena curi oleh die " semua rencana sandiwara di pikirannya pun sudah buyar dengan perkataan dari Fatih itu.

" Permisi permisi " Perempuan paruh baya yang meminta tolong kepada Gempa tadi pun ikut muncul di antara keramaian. Semua perhatian pun teralih padanya dari Fatih.

" Memang betul apa yang dh kena jelaskan oleh die ni tadi, " lanjut sang perempuan paruh baya itu. Di susul oleh pernyataan protes dari sang perempuan pencuri. " Astaga! Siapa pula kau ni. Ape pasal banyak sangat geng nak jebak aku.. kenapa cam ni sangat.. " Lirihnya kembali menangis.

" Aku pemilik handbag yang dh kau curi tadi. Kau tak ingat ye?! " Tegas si perempuan paruh baya. Ia mengambil tas yang berada di tangan Fatih, dirogohnya untuk mengambil kartu nama kemudian ditunjukkan kepada publik di sekelilingnya.

" aku tak cam tu! Aku tak ambil tas tu! " Jawab sang pelaku pencurian.

Sampai semua orang yang berada di tempat itu melirik tajam ke arahnya seraya berkata tidak ada lagi kepercayaan untuknya. Kerumunan orang pun semakin bertambah banyak, bahkan Amina dan Regina pun sudah berada di antarnya.

Shut up !Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang