13. TUDUHAN

274 19 2
                                        

" Tak apa keh tak ikut apel? " Gempa memperjelas.

" Tengok jer nanti " jawab Al Fatih kembali menengok ke arahnya dan tersenyum.

Gempa kembali menatap ke arah depan, lapangan upacara yang luas dan rapi. Terlihat familiar dua orang yang berjalan di samping pembawa baki bendera. Ia mengernyitkan alisnya mencoba melihat mereka dengan baik.

" Engkau terkejut ? " Tanya al-Fatih padanya setelah menyadari bahwa Gempa memperhatikan kedua temannya itu. Amina dan
Regina.

" Tu Amina la kan? " Tanya Gempa memastikan kembali sembari berbisik.

" Ha'ah, ni hari giliran die tugas pelaksana " bisik al-Fatih.

" Keren! " Ujar Gempa pelan.

" Apa yang keren? " Tanya al-Fatih padanya mengernyitkan alis.

" Dieorang? " jawab Gempa sedikit dengan nada bertanya.

" Alahh, tak de hal apapun tu. " Ujar al-Fatih songong.

Gempa tidak menjawab. Melihat responnya pun al-Fatih semakin menambah nambah. " Lain kali aku jadi pelaksana mesti lagi cool "

Selesai perkataan Al Fatih, Sorang menariknya dari barisan. Gempa menoleh ke arahnya tak berselang detik ia pun ikut terseret.

***

" Korang berdua bukan anak sekolah darjah lagi nak kena tegur bila masa upacara cam ni, Korang ingatkan ni perkara buat main main jer keh?! " Celotehan dari laki laki paruh baya dengan jas almamater itu sudah berlangsung sekitar lima belas menit. Gempa dan al-Fatih pun masih setia mendengarkan dengan diam di depannya.

" Ni kali pertama aku kena hukum cam ni tau " Gumam Gempa memberitahukan kepada rekan di dekatnya.

" Aku pun sebenarnya " al-Fatih menjawabnya dengan menghela nafas.

" Haeh terima jer lah dh " keduanya berdiri di tengah lapangan menghadap tiang bendera dengan posisi siap hormat. Terik matahari membuat hawa panas sampai keduanya bercucuran keringat.

" Tengok tengokk, die pegawai baru tu la kann ? " Bisik bisik para pegawai lain yang melewati koridor tetap terdengar jelas diantara keduanya.

" Handsome la kann? " ujar seorang lagi.

" Tapi Kasian sangat la sampai kena hukum cam anak sekolah darjah cam tu ckck" dan Berbagai pendapat lain pun mereka dengarkan bersama dengan diam menatap langit. Sungguh pagi yang sial.

***

Gempa melahap makanan yang tersedia di depannya. Di sampingnya duduk seorang lagi dengan muka penuh keringat karena memakan banyak sambal. Keduanya tampak sangat berbeda dengan aura masing masing. Gempa tenang dan satunya lagi beriak bagai ombak musim barat.

" Sedap sangat tu ? " Tanya Amina pada Fatih.

Fatih mengangguk cepat.

" Cam mana Ngan tadi? Dh jera? " tanya Amina kemudian lagi.

Fatih meliriknya tidak suka.

" Lupakan jer tu. Tau ke tak Korang jap lagi datang manajer pemasaran nak mintai kita laporan penjualan. Dh selesai ke tak itu? " Alih Regina, teman baik Amina yang senantiasa berdiri di dekatnya.

" Belum lagi " jawab Fatih.

" Kena hukum lagi kau tau rasa " ejek Amina duduk ke kursinya sendiri.

" Menye menye menye menye " Fatih balas mengejek dengan mengatai caranya berbicara.

Gempa memperhatikan sambil tetap melahap makanannya. Ia memikirkan sesuatu, tidak dia ketahui sebelumnya bahwa al-Fatih dan Amina memiliki kepribadian yang hampir sama. Melihatnya tidak berbicara sepatah katapun sedari tadi. Inisiatifnya muncul untuk mencari tahu.

Shut up !Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang