" Abang ? " Solar memanggil ke arah Halilintar.
" Iye? " Halilintar meletakkan hp yang sedari tadi dipegangnya.
" Handphone aku Kat mana? "
" Rusak, nanti jer Abang gantikan "
" Abang Gempa tak Kat sini keh ? "
Halilintar menggeleng acuh tidak acuh.
" Kenapa? "
" Tak kenapa kenapa " Halilintar menggeleng untuk kedua kalinya.
" Boleh suruh Kat sini tak Abang ? "
Halilintar menggeleng. Ketiga kalinya.
" Kenapa ? "
Sementara pembicaraan terus berputar putar disini....
>>>
Gempa lagi lagi mendapatkan maki makian dari kepala manajernya. Hanya karena satu kesalahan penulisan pada surat pernyataan penyesalan nya. Kini dia di hakimi di depan komite disiplin. Sial...
" Baik, akan segera saya perbaiki dan kirim ulang " ia menunduk. Menghormati atasannya itu kemudian pergi meninggalkan ruangan. Menenteng tas ranselnya.
" Gempa ? " Seseorang memanggil namanya ketika sampai di ruang kerja nya. Ia menoleh mencari sumber suara. " Aku dengar kau kena panggil komite disiplin " wanita Berkerudung itu menyimpan tas jinjing nya pada meja tepat di dekat Gempa.
" Iye " Gempa mengangguk.
" Kenapa boleh cam tu ? " Temannya tersebut duduk di dekatnya.
" Ada skit masalah jer " Jawab Gempa sedikit menjauhkan kursinya sendiri dari temannya itu.
Merasa sedikit canggung, temannya menawarkan makan siang dari tasnya sendiri. Menyimpan di hadapan Gempa. " Kau mesti belum makan siang kan? Makan jer ini nah " katanya.
" Tak payah la, kau jer makan itu punya kau. Aku tak lama lagi nak balik Kat rumah ini "
>>>
Gempa berjalan memasuki rumah, melihat sekeliling, belum ada siapapun disitu. Pasti semuanya juga masih di rumah sakit. Pada akhirnya, dia menyimpan tas di sofa kemudian mengambil sapu dan mulai membereskan rumah.
Suara piring pecah mengalihkan atensinya menuju dapur. Segera ia menuju kesana dan melihat sekeliling. " Kucing ? " Mengira bahwa kucing iblis tadilah yang telah membuat kekacauan.
Halilintar menoleh ke arah nya sembari memunguti pecahan piring di westavel.
" Abang jer ternyataa, Abang sejak bila ada Kat sini? " Gempa menghampirinya dan membantu.
Tidak ada jawaban dari pihak narasumbernya. Ia pun ikut terdiam. Mengumpulkan beling di tangannya dan meremasnya. Ia merasa suasana ini terlalu kaku.
" Makin hari kau dh makin bodoh e ternyata " Halilintar melihat kelakuannya dengan acuh tidak acuh. " Apa kau cakapkan Kat solar sampai die nak jer pergi sendiri tak Ngan kau? "
" Aku cakap aku ada kerja bang, tak boleh kawankan die " jawab Gempa, mencuci tangan pada kran air, sampai satu westavel itu di penuhi darahnya.
" Dh aku cakapkan belajar la atur waktu, habistu kau cam tu kan jer adek kau? "
Gempa tidak menjawabnya lagi. Itu bukan pertanyaan baginya.
" Sebab kau la die cam tu, sepatutnya kau kawankan jer die dulu. Bukan malah kau cakapkan ada pekerjaan ada pekerjaan. Lagak sibuk sangat, posisi kau tu bukan CEO Kat kantor! "
KAMU SEDANG MEMBACA
Shut up !
FanfictionBerawal dari mendapatkan pekerjaan semuanya menjadi rumit untuk dibicarakan. Sampai kecelakaan terjadi dan menimbulkan kesalahpahaman, cerita ini masih terus berlanjut... Budayakan support! Nb: 3/4 karakter(tokoh) dalam cerita adalah RESMI MILIK MON...
