Seorang putri dari suatu kerajaan yang telah runtuh. Di kehidupan pertamanya dia dieksekusi bukan karena dia merupakan tahanan dari kerajaannya, tapi dia di eksekusi akibat tuduhan yang tidak ia perbuat. Berusaha mengejar cinta sang raja tanpa tahu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
༶•┈┈⛧┈♛ Happy Reading Love
Sudah terhitung lima hari para tawanan mendekam di penjara dan tidak ada tanda tanda mereka akan di keluarkan setidaknya untuk merasakan panas matahari ataupun udara segar.
Di penjara bawah tanah ini tidak ada cahaya matahari, bahkan udara disana seakan melarang mereka untuk dihirup dari saking pengapnya.
"Satu roti setiap hari apa mereka pikir ini akan mengenyangkan." suara keluhan dari salah satu putri itu mulai terdengar.
"Ya kau benar bahkan roti ini sangat keras dan lihat air ini sungguh sangat tidak cocok untuk kita."
"Aku sudah tidak betah disini apa lagi di gabungkan dengan para pelayan pelayan ini."
Keluhan yang sudah tidak terdengar beberapa jam itu kembali terdengar, entah telah berapa kali mereka mengucapkan hal seperti itu.
Sebelum lanjut mari kita berkenalan dengan ketiga putri dari ratu kerajaan Kinsey. Putri yang pertama bernama Sera jade Kinsey, putri yang kedua bernama Nora Tami Kinsey, dan putri yang terakhir bernama Nari Tami Kinsey. Putri Nora dan putri Nari merupakan saudara kembar, yuk lanjut lagii.
"Ternyata disini ada putri putri yang tidak tahu diri dan itu sungguh memalukan, aku rasa roti dari para pelayan belum bisa mengenyangkan mulut mereka." Orla yang dari tadi diam akhirnya mengucapkan kata kata sindiran pada mereka.
"Kau menyindir kami hah dasar putri buangan."
Saat putri Nari ingin berdiri dan menghampiri Orla untuk menjambak rambutnya terhenti karena mendengar suara decitan dari pintu penjara yang akan di buka.
Beberapa prajurit berdiri menyuruh mereka untuk berbaris. "Kalian semua berbaris lah yang rapi kalian akan dibawa ke lapangan utama."
Orla POV
Beberapa prajurit itu datang menghampiri kami dan menyuruh kami berbaris aku tahu tujuan mereka apa.
Benar saja mereka menyuruh kami untuk menuju ke lapangan utama dan di sanalah awal dari pertemuan ku dengan sang raja.
Kami berjalan terus hingga mata ku menangkap sebuah cahaya aku langsung memejamkan mata, seakan baru pertama kali melihat cahaya matahari. Ya setidaknya kami merasakan udara baru selain bau anyir itu.
"Sialan ini adalah awal aku bertemu dengannya apa apaan ini jantung ku terasa berdetak dua kali lipat dari sebelumnya." aku bergumam sambil menyentuh dadaku yang terus berdetak dengan cepat.
"Tuan putri apakah anda baik baik saja."
Aku menoleh setelah mendengar suara seseorang berbisik pada ku.
"Ya aku baik baik saja Mia."
"Syukurlah kalau begitu saya khawatir pada anda karena wajah anda terlihat pucat."