Seorang putri dari suatu kerajaan yang telah runtuh. Di kehidupan pertamanya dia dieksekusi bukan karena dia merupakan tahanan dari kerajaannya, tapi dia di eksekusi akibat tuduhan yang tidak ia perbuat. Berusaha mengejar cinta sang raja tanpa tahu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
༶•┈┈⛧┈♛ Happy Reading Love
Cinta satu kata yang terdengar indah tapi tidak bagi Duke Albern. Duke Albern sendiri bertanya tanya apakah ia masih layak untuk mendapatkan hal terindah di dunia ini. Dia sendiri telah mengecap dirinya sebagai manusia penuh dosa. Bagaimana tidak tepat saat ia berusia tujuh belas tahun dengan tangannya sendiri ia menghabisi seluruh keluarganya tanpa satupun yang tersisa.
Hal paling kelam yang terjadi pada hidupnya yang tidak akan pernah ia lupakan. Ia yakin seluruh kerajaan ini tahu bahwa ialah yang membunuh sang ibunda yang sangat mereka kagumi. Sepuluh tidak, seratus tidak juga ia yakin ribuan orang telah merasakan bagaimana baiknya kedua orang tuanya khususnya sang ibunda.
Adalgiso dulunya adalah nama yang sangat ia banggakan pada seluruh dunia tapi karena nama Adalgiso itu pula harus membuatnya merasakan gilanya dunia. Intrik politik, balas dendam, nafsu akan kekuasaan, nafsu akan gelar, nafsu akan kekayaan bahkan gejolak pada kerajaan Adalgiso tidak pernah melewati hal itu.
Menjadi saksi bagaimana kerajaan ini terbentuk bahkan ikut andil dalam setiap prosesnya tidak menjadikan mereka semua berterimakasih akan hal itu. Bagi mereka Adalgiso bukanlah hal yang harus mereka syukuri tapi harus mereka singkiri. Bahkan seorang raja sang pusat dari kepemimpinan pun ikut andil berusaha menjatuhkan tenarnya Adalgiso.
Duke Albern yang memikirkan semua itu di balkon kamarnya ditemani oleh malam yang semakin larut tidak ada siapapun, hanya dia dan angin yang terus melewati nya tanpa permisi. Bagaimana hidup terus membawanya pada hal hal baru. Setelah sekian lama ia baru mendengar kata itu lagi.
"Heh cinta."
Ucapnya penuh dengan nada tidak percaya. Sejak awal ia telah menekankan pada dirinya, untuk tidak pernah lagi merasakan cinta karena dengan adanya cinta dan kasih sayang maka semakin besar juga kemungkinan dirinya merasakan luka.
Faktanya cinta tidak seindah itu tapi tidak juga se menyeramkan itu. Jika kau mendapatkan nya kau akan merasakan seberapa menakjubkannya cinta, tapi jika kau kehilangan kau akan merasakan se menyakitkan apa cinta itu.
Awalnya ia tidak berfikir bahwa ia mencintai Orla ia hanya berfikir bahwa dirinya hanya membutuhkan Orla untuk sekedar berada di sisinya karena ia sangat menyukainya bagaimana setiap gerak geriknya, bagaimana matanya menatap dirinya dan bagaimana tubuhnya selalu mengeluarkan aroma yang sangat menenangkan.
Sampai pada saat Orla secara lantang menyebut dirinya sedang jatuh cinta padanya. Ia mulai tersadar apakah benar itu semua merupakan sebuah cinta atau hanya rasa ingin memiliki.
"Albern suatu saat kau akan mengerti bagaimana sebuah cinta bekerja, itu merupakan hal yang sangat menakjubkan yang perlu kau rasakan di dunia ini. Tidak perlu mencarinya hingga ke ujung dunia ia akan datang pada saatnya tiba, cinta lebih tau kapan dia akan menyempurnakan dirinya dan akan melebur menjadi satu jika ia menemukan takdirnya." Salah satu ucapan dari sang ibunda yang masih ia ingat dengan jelas. Dengan wajah teduhnya berkata seakan ia sudah merasakan bagaimana menakjubkannya cinta itu bekerja.