17. Unknown Number

59.8K 4.1K 298
                                        

Hai apa kabar? Sehat selalu ya!

Sudah vote? Kalau belum, vote dulu yuk! Terimakasih banyak!

Siap meramaikan kolom komentar? Fighting!

Satu kata untuk Figuran Wife!

Happy reading! Sorry for typo

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Happy reading! Sorry for typo.
Enjoy <3

Chapter 17. Unknown Number

"Lo bisa nggak, jangan ceroboh sekali aja?" Liam melirik Gabby yang berada di gendongan punggungnya dengan sinis. "Udah tahu lambung lo bermasalah tuh, makan yang teratur."

"Iam, ih! Jangan marah-marah mulu! Tambah sakit nih perut gue!" Gabby berdecak sambil mengeratkan pelukannya pada leher Liam, takut Liam menjatuhkannya begitu saja setelah menjawab demikian.

Liam mendengus. "Ada ya bawahan ngasih perintah ke atasannya?"

"Ada! Nih, gue! Mau apa lo?!" Gabby melongok ke samping wajah Liam, membuat Liam tersentak dan langsung menoleh ke arah lain.

Sialan! Deket banget, ujar Liam dalam hati. Dia kemudian berdecak. Kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, sih?!

"Jauh-jauh, lo!" bentak Liam, galak.

"Ih, kenapa?! Deg-degan ya lo, lihat muka cantik gue dari deket?!" Walaupun sedang sakit perut, tidak mengurungkan niat Gabby untuk menggoda Liam.

"Rambut lo bau."

Gabby merengut dalam gendongan Liam, membuat Liam yang sedang menaiki anak tangga rumah Gabby terhayung. Liam berdesis kesal. Kalau saja dia tidak bisa mengendalikan diri, mungkin keduanya akan jatuh terguling ke bawah.

"Bisa diam nggak, lo?!"

"Rambut gue nggak bau, Iam! Orang setiap hari pakai sampo kok!"

"Gue nggak nanya."

"Ngasih tahu!"

"Oh."

"NYEBELIN, AH!" teriak Gabby tepat di telinga Liam.

Liam memejamkan mata sabar, berusaha mempertebal rasa sabarnya. Gendang telinganya hampir dibuat pecah oleh Gabby. Sialan, belum pernah Liam bertemu perempuan se-berisik Gabby. Liam memilih tak menjawab. Gabby semakin diladeni akan semakin menjadi. Jadi lebih baik ia mengalah.

"Maaf, Iam, kalau gue ngerepotin lo mulu."

Liam tak menjawab dan hanya meliriknya sekilas.

Gabby menaruh wajahnya di tengkuk Liam sambil memejamkan mata. Raut wajahnya kini terlihat lelah. "Cuma lo yang mau merhatiin gue, Iam. Mama udah nggak ada, Papa sibuk sama keluarga barunya. Nggak ada yang ngasih perhatian lagi ke gue selain lo, Iam. Jadi, jangan berhenti buat peduli ya, sama gue?"

Figuran WifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang