48. Melepas

32.6K 1.2K 232
                                        

Ziva menutup pintu ruang inap Sagara dengan tangan yang menenteng bungkus plastik berisi pesanan kuenya. Tiba-tiba dia ingin makan kue dan Sagara menyuruhnya untuk memesan online saja. Dia tersenyum melihat Syakira tengah mengobrol dengan kakaknya yang cuek itu. Melihatnya saja, Ziva tahu kalau hanya Syakira yang aktif dalam obrolan, sementara Sagara hanya menanggapi seadanya saja. Ya, dia seperti melihat dirinya jika sedang mengobrol dengan Sagara.

Syakira baru saja pulang sekolah dan langsung datang ke rumah sakit untuk menjenguk Sagara. Dia bahkan belum ganti baju. Mungkin memang karena dia ingin tahu perkembangan keadaan Sagara.

"Kakak beli apa?" tanya Syakira, memperhatikan Ziva yang menaruh bungkus plastik itu di atas nakas.

"Kakak beli kue-kue pastry gitu. Kamu mau?"

"Mau, mau!" Syakira langsung beranjak dari ranjang ruang inap Sagara untuk menghampiri Ziva. "Cookies ini punya Kakak?"

"Makan aja kalau mau."

"Oke deh!" Syakira memutuskan duduk di sofa ruang inap, kemudian menyalakan TV setelah mendapatkan cookies-nya.

Sementara itu, Ziva menghampiri Sagara dengan dua buah cupcake di tangannya. Ia duduk, kemudian menyodorkan salah satunya pada lelaki itu.

"Nih, kesukaan kamu," kata Ziva.

Sagara menggeleng. "Makan aja sama lo."

Ziva mencibir pelan, kemudian melahap cupcakenya dengan wajah masam. Untuk jadi salah satu manusia yang punya tipe tidak sabaran, Ziva sebenarnya tidak tahan dengan sikap Sagara. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi memaksa lelaki itu untuk bersikap seperti sebelumnya. Dia juga tidak mau jika nantinya Sagara malah melihatnya sebagai Cheryl.

Ziva mencecap lidahnya dengan ekspresi aneh. "Cupcakenya kemanisan. Coba deh, kamu makan."

Sagara menatap cupcake bekas gigitan yang Ziva sodorkan. Dibanding memakan cupcake yang Ziva sodorkan, Sagara malah menggigit cupcake yang satunya. Sehingga Ziva tertegun sambil memandang lurus dengan kosong ke depan. Padahal itu adalah hal yang sepele, tapi kenapa Ziva merasa sesak? Ziva sekuat mungkin menahan sakit di hatinya. Ya, itu hanyalah hal sepele. Ziva-nya saja yang terbawa perasaan.

Namun, beberapa hari sejak Sagara siuman, Ziva terus saja makan hati. Meski dia tidak risih dengan sikap Ziva yang akhir-akhir ini terkesan agresif, selalu bertindak lebih dulu, Ziva tidak lagi merasakan sikap manis Sagara padanya seperti yang dulu-dulu. Ziva tahu Sagara belum terbiasa, tapi tetap saja rasanya sakit. Ziva menghela napas sambil tersenyum, berusaha memaklumi untuk yang kesekian kalinya. Ingin berteriak kencang pada Sagara kalau sebenarnya Ziva tidak tahan lagi dengan sikapnya, tapi Ziva sadar kalau ini adalah risikonya.

Ini bahkan belum sebulan, jangan lebay deh, Ziva! batinnya menguatkan.

"Biasa aja," ungkap Sagara sambil mengunyah.

"Kayak perasaan kamu ke aku, ya?" Setelahnya, Ziva langsung membuang muka sambil merutuki kebodohannya sendiri dalam hati. Kenapa dia berbicara seperti itu sih?! Nanti kalau Sagara berpikir yang tidak-tidak tentangnya, bagaimana?!

"Hm."

Ziva rasanya mau nangis kencang kala Sagara malah menyetujui ucapannya. Dia hanya bisa melahap cupcakenya dengan wajah melas. Apa Sagara tidak ingat kalau dia pernah makan cupcake dari mulut Ziva langsung?! Hah?! Tapi lagi-lagi, Ziva hanya bisa meredam perasaannya dalam hati saja.

Figuran WifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang