Tentang Giana Putri yang diuber semua hal. Terutama diuber orang tuanya untuk segera menikah karena umurnya yang sudah dua puluh delapan tahun.
Lalu lini masa dalam hidup membawanya masuk ke keluarga Danurwendo. Giana yang polos dan hanya mengerti b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Loh? Benar sudah tinggal di sana?" Gia terus menyiram kembang di balkon namun pandangannya tertuju pada wanita penyewa yang menuruni anak tangga dan membawa keranjang cucian. "Apa dia mencuci di bawah? Loh...kenapa tidak di laundry saja?"
Giana terpaku ketika wanita itu menghilang di teras dan pintu terlihat terbuka lebar. Wanita itu masuk ke rumah dan tidak kunjung keluar.
"Jadi, karena satu rumah, konsepnya adalah kekeluargaan. Huum...begitu ya?"
Gia mengembalikan selang air ke tempatnya dan meraih Miki yang seperti biasanya, penasaran dengan genangan air di lantai balkon. Dia membawa kucing itu masuk dan mengeringkan kakinya dengan tisu sebelum menurunkannya ke lantai. Miki mengeong dan memilih keluar dari kamar.
Gia duduk di kursi kerjanya dan menatap layar monitor di depannya. Dia menghela napas pelan dan merasa adrenalin nya berada pada titik aman karena tidak ada pergerakan apapun dari pria misterius yang akhir-akhir ini sering nongol tiba-tiba seperti sosok Slender Man. Namun, Gia memutuskan mengecek berkali-kali file CCTV nya.
"Eh...mau apa bertamu pagi-pagi sekali? Memang benar dia pengangguran, tapi ini masih terlalu pagi untuk bertamu." Gia mengamati gang menuju rumahnya dan melihat Prof Garin yang muncul tiba-tiba dari belokan. Pria itu kini menuruni tangga dan sosoknya tertangkap kamera CCTV yang dipasang di depan pagar.
Dan walaupun sambil menggerutu, Gia tetap melecut langkahnya keluar dari kamar dan menuruni tangga. Langkahnya surut ketika dia menyadari kelakuannya sendiri. Dia seperti sangat antusias dengan kedatangan pria itu. Sudut bibir Gia terangkat merutuk tingkahnya sendiri. Gia membuka pintu dan berjalan melintasi halaman ke pagar rumah. Dia berdiri di sana dan mematung.
"Assalamualaikum."
Tangan Gia terulur dengan enggan menekan password pagar rumah. Dia menunduk dan membuka pagar itu sambil menjawab salam.
"Waalaikumsalam..."
"Astaghfirullahalazim..."
Gia menyibak rambut yang menutupi wajahnya dan menegakkan tubuh. Dan mendapati Prof Garin yang surut selangkah ke belakang karena kaget.
"Libur kok malah tidak bersemangat. Ayo makan dulu."
"Eeh..." Gia menepi saat tiba-tiba saja Prof Garin merangsek masuk dan menutup pagar. Mau tak mau Gia mengekor pria itu dan pria itu menunggu dengan tenang di teras. Dengan enggan Gia menekan password pintu rumah dan membuka pintu itu. Dia masuk dengan langkah gontai dan tidak menoleh ketika terdengar penanda otomatis pintu tertutup terdengar nyaring.
"Ada apa?"
"Huum?" Gia yang duduk di meja makan justru balik bertanya.
"Kamu. Kenapa tidak bersemangat?"
"Oh...saya ingin buru-buru selesai liburannya."
"Masih lama. Apa tidak mau membuat rencana keluar? Healing?"