Bab 27. Digrebek

2K 484 71
                                        

Gia berpikir, seandainya dia tahu bagaimana rasanya tulang yang diloloskan dari tubuh satu demi satu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gia berpikir, seandainya dia tahu bagaimana rasanya tulang yang diloloskan dari tubuh satu demi satu. Apakah sama dengan apa yang dia rasakan sekarang? Tubuhnya terasa lemas dan dia merasakan kesakitan di banyak bagian.

"Saya terus terang belum membuka ponsel di jalan, Mas Arif."

"Sabar, Mbak. Kejahatan melalui media sosial banyak terjadi."

Sebuah penghiburan sederhana dari Mas Arif, asistennya, memaksakan Gia mengangguk. Dia bahkan tidak yakin dengan perasaannya sendiri sekarang. Tangannya berkeringat dingin dan rasanya gemetar di jari-jarinya tidak kunjung mereda. Dia tidak sanggup membuka laptopnya sendiri dan memilih menatap kosong pada layar laptop Mas Arif yang diletakkan pria itu di depannya.

Tokyo Love Story : Sisi lain kehidupan mahasiswa pertukaran.

Sekelumit kisah dari Jepang : Preseden buruk dari imbas pertukaran mahasiswa di luar negeri.

Dan lain-lain...

Gia menggeleng. Beberapa tajuk di surat kabar universitas menyuguhkan judul-judul yang sangat memojokkan. Di samping puluhan judul menggelikan lainnya, huruf-huruf sepertinya sengaja dicetak tebal dan itu sangat mengganggu Gia. Dia tidak akan bertanya sudah sampai sejauh mana berita-berita yang digoreng dari 3 buah lembar foto itu beredar di masyarakat.

"Kita kesampingkan dulu jangkauannya yang mungkin sudah melebar kemana-mana, Mbak Giana. Kita pikirkan dulu yang di sini."

Gia menelan ludah kelu dan tetap menatap layar laptop di depannya. Dia sangat tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Gia bahkan sudah menyusun alur di kepalanya. Skorsing adalah yang paling nyata di depan mata apapun yang terjadi ke depannya kelak. Surat pemecatan seperti sudah melambai-lambaikan di kejauhan.

Gia bergeming bahkan ketika ponsel Mas Arif berbunyi. Pria itu lalu merunduk dan memperlihatkan papan pesannya. Kepala Jurusan meminta bertemu sekarang.

Mas Arif menutup laptop dan mengulurkan tangan membantu Gia berdiri. Mereka keluar dan berjalan di koridor. Gia berusaha menegakkan kepalanya namun yang dia dapati adalah tatapan-tatapan aneh dan beragam dari penghuni kampus.

Sungguh, bukan sesuatu yang baik untuk mengawali hari. Sisi lain hati Gia mengakui, sapaan-sapaan ramah anak murid dan teman-temannya setiap hari menjadi seribu kali lebih bermakna sekarang. Kebisuan mereka sangat menyesakkan. Gia menarik bibirnya sedikit saat Pak Andreas melambai ke arahnya. Pria itu seakan mencoba memberinya kekuatan.

Sayang sekali, tapi apapun di balik foto-foto itu, yang tercetak dalam 3 buah lembar kertas polaroid dengan kualitas pengambilan gambar yang sangat baik itu, benar adanya.

Gia tertahan di ruang Kepala Jurusan dan pihak kampus sepertinya bergerak cepat. Badan Eksekutif Mahasiswa sudah mendesak adalah sebagai alasan pergerakan cepat itu. Meredam gejolak di tingkat paling bawah adalah alasan selanjutnya.

LEFTOVERS LADYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang