Bab 32. Yang Datang Dari Masa Lalu

1.7K 470 47
                                        

Gia menatap kembang bakung dengan jumlah banyak yang dibawa oleh seorang kurir itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gia menatap kembang bakung dengan jumlah banyak yang dibawa oleh seorang kurir itu.

"Saya tidak memesan bunga, Mas. Salah alamat mungkin ya?"

"Nomor 13 kan ya Bu?"

"Iya betul..." Gia menoleh pada Mbak Lastri yang datang dari dalam rumah. "...Mbak Lastri pesan bunga?"

"Tidak, Mbak."

Gia memeriksa sekali lagi bunga itu dan tidak menemukan catatan apapun menyertainya. Pengamatannya terjeda suara Mbak Lastri yang mempersilahkan kurir untuk minum. "Letakkan saja di meja Mas. Sebentar saya telepon suami saya. Diminum dulu ya."

"Baik, Bu."

Gia menatap kurir yang diantar Mbak Gi ke bangku taman depan.

Pria itu meletakkan kembang bakung dalam vas kaca itu ke meja dengan sangat hati-hati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pria itu meletakkan kembang bakung dalam vas kaca itu ke meja dengan sangat hati-hati. Gia yang segera tersambung dengan Garin, segera menanyakan apakah suaminya itu memesan bunga. Beberapa kali Gia bergumam lirih dan menutup panggilan telepon.

"Suami saya juga tidak memesannya, Mas. Dan itu tidak mungkin dikembalikan ya?"

"Iya, Bu. Nanti saya terkena pinalti."

"Huum...ya sudah. Diletakkan di sini saja, Mas. Mbak Lastri tolong dompet saya dan kotak kayu yang saya taruh di atas laci tadi ya."

"Nggih, Mbak."

"Diminum Mas."

"Terima kasih banyak, Bu." Kurir itu nampak kebingungan. "Saya juga baru sekali ini mendapatkan pengiriman paket seperti ini. Kami tadi juga sempat bingung karena yang mengantarkan ke ekspedisi anak kecil. Dan waktu kita cari lagi ke depan, sudah tidak ada."

"Huum...saya mengerti Mas."

Mbak Lastri datang dengan dompet dan kotak kayu yang Gia maksud. "Ada yang perlu saya tanda tangani, Mas?"

"Oh...ini, Bu." Kurir mengulurkan selembar nota penerima dan Gia menandatangani nya. "Ini sedikit untuk ngopi siang." Selembar uang 100 ribu rupiah berpindah tangan dan kurir itu nampak tidak enak menerimanya. "Tidak apa-apa. Saya akan mengurus kembang ini, Mas."

LEFTOVERS LADYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang