Tentang Giana Putri yang diuber semua hal. Terutama diuber orang tuanya untuk segera menikah karena umurnya yang sudah dua puluh delapan tahun.
Lalu lini masa dalam hidup membawanya masuk ke keluarga Danurwendo. Giana yang polos dan hanya mengerti b...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mama Sabila WA saya : “Takut dibilang ngemis online, Mbak.“
Saya : “Kamu di posisi mampu ga? Saat ini kamu di posisi kuat kalau harus kehilangam Sabila?“
Doa sudah. Usaha sudah. Mungkin banyak orang baik yang mau mengulurkan tangan. Itu lebih baik dibanding mengharapkan laki-laki itu kembali dan mencukupi.
Secuil obrolan dua wanita
🍀
"Kenalkan Mbak, ini Mbak Lintang Dianti. Mbak Lintang, ini Mbak Giana Putri."
Gia mengangguk dan mengulurkan tangan terlebih dulu. Dia tersenyum dan wanita cantik bernama Lintang Dianti itu melakukan hal yang sama. Menyambut tangannya dan tersenyum manis.
"Wah...saya kok baru lihat Mbak Giana ini ya?"
Pertanyaan itu keluar seiring jabatan tangan yang terlepas. Mereka duduk di sofa dan Lintang Dianti terlihat bercakap-cakap dengan Mayang Pratiwi. Mereka terlihat serius dan beberapa kali menyebutkan beberapa merk batik dalam percakapan mereka.
"Terima kasih kadonya Mbak Lintang."
Lintang Dianti menoleh ke arah Kiko dan tersenyum lagi. "Sama-sama. Maaf ya, semoga berkenan."
Gia sedikit menunduk melihat interaksi mereka lalu beranjak mendekat ke arah Kiko yang hendak mengambil anaknya dari box bayinya.
"Apa sudah saatnya disusui?" Gia bertanya dan melihat Kiko mengangguk. Gia membantu membawakan selimut tebal untuk bayi Bandang.
"Mbak, Eyang, Kiko ke sebelah dulu ya."
Anggukan kepala mengiringi mereka masuk ke ruangan sebelah. Gia mengamati sekeliling ruangan itu. Ternyata ruangan itu adalah kamar bayi yang sangat luas.
"Di sini dulu tidak apa-apa ya Mbak."
Gia yang sedang mengagumi interior kamar bayi, tersentak dan mengangguk. "Iya, tidak apa-apa Dek."
Mereka duduk di dekat jendela yang terbuka. Dengan cekatan Gia membantu Kiko duduk dan menutup kaki Bandang dengan selimut tebal. Dia tersenyum mengamati interaksi ibu pada bayinya yang begitu ekspresif.
"Dia itu Mbak Lintang Dianti, Mbak."
"Huum." Gia mengangguk dan menahan diri untuk tidak bertanya lebih lanjut tentang wanita itu.
"Putrinya Pak Jagadita Laksana, pemilik pabrik tekstil Adiratna."
"Yang di Solo? Beliau orang Solo?" Gia menatap kejauhan, ke arah Mayang Pratiwi dan Lintang Dianti yang sedang bercakap-cakap.
"Betul. Keluarga Danurwendo bekerjasama dengan PT Adiratna. Dan...sepertinya itu tidak penting ya..."
Gia ikut tertawa pelan ketika Kiko tertawa. "Cantik sekali ya, wajahnya sangat kecil."