Y

145 26 4
                                        

Sore itu juga Irene menyanggupi media untuk melakukan konferensi. Irene menggendong bayi laki-lakinya dengan erat, tidak memperbolehkan media mendapatkan satupun wajah bayinya. Ia masih ingin privasi untuk anak-anaknya. Irene sendiri masih cukup lemah untuk berjalan maka Timy membawanya dengan kursi roda.

"Maaf sudah membuat teman-teman media menunggu lama atas kabar keluarga kecil kami. Seperti yang kalian lihat, aku dan bayiku baik-baik saja, beberapa hari lalu hanya butuh pemulihan dan penyesuaian. Ku harap kalian masih bisa menjaga privasi bayiku karena ia masih sangat kecil, jika sudah saatnya dan ia setuju, aku akan dengan senang hati menunjukkannya pada media. Tapi untuk sekarang, tolong hargai keinginanku" media tidak banyak bertanya dan hanya mengambil gambar Irene dan keluarga barunya, si bayi tampan yang wajahnya dirahasiakan.

Tapi tentu seluruh media yakin bayi itu tampan mengingat siapa ayah dan ibunya. Tidak ada keraguan untuk itu.

"Seperti yang sudahku katakan sebelumnya, istri dan anakku dalam keadaan sehat, bahkan bayi kami lahir dengan bobot lebih berat dari bayi pada umumnya dan sekarang terus bertambah berat karena gizinya yang sangat tercukupi, tidak luput juga dari kasih sayang kedua orangtuanya yang terus menjaganya" ujar Timy mencium hidung bayinya dan kamera-kamera itu terus mengambil gambar.

"Baik, informasi dari kedua belah pihak sudah disampaikan pada media, jika ada yang ingin disampaikan atau ditanyakan, dipersilahkan" jawab Jericho selaku manajemen Timy yang turut mewakili manajemen Irene, karena Irene tidak mau melibatkan manajemennya, apalagi sang ibu selaku manajer sibuk di rumah

"Baik, informasi dari kedua belah pihak sudah disampaikan pada media, jika ada yang ingin disampaikan atau ditanyakan, dipersilahkan" jawab Jericho selaku manajemen Timy yang turut mewakili manajemen Irene, karena Irene tidak mau melibatkan manaje...

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ieros terlelap di gendongan Irene dan jika hendak dikembalikan pada box bayinya, ia akan menangis.

"Adik manja sekali sih? Tidak mau lepas dari mommy ya? Kenapa anak mommy ini tampan sekali. Pasti karena mommy nya cantik ya?" Tuhan, tolong, Irene masih sempat narsis.

"Tentu karena daddy nya yang tampan. Ia sepertinya kelelahan, Rene karena mengikuti konferensi tadi, padahal ia hanya berdiam diri di gendonganmu dan malah ia yang kelelahan sekarang" ujar Timy menoel hidung mungil bayinya

"Timy! Nanti Ieros bangun! Ia sudah mengerjakan pekerjaan pertamanya dengan baik hari ini, Ieros sangat tenang dan tidak menangis selama acara tadi, mommy proud of you son" berkata demikian lalu mengecup kening bayinya membuat sang new born mengulaskan senyumnya.

"Kalau sudah lelah menggendongnya, gantian saja, sayang. Ieros cukup berat, tanganmu pasti pegal" ujar Timy memposisikan diri di samping Irene.

"Tidak apa, aku akan menebus kealpaanku satu minggu. Dari pada Ieros menangis saat dipindahkan. Biar dia quality time dengan mommy nya dulu" Irene menempelkan hidungnya pada hidung Ieros.

Timy berinisiatif sedikit menurunkan sandaran tempat tidur Irene agar Irene bisa sambil setengah bersandar, karena Timy juga tahu, Irene yang baru sadar dan berlatih sebentar di ruang fisio lalu langsung menjalankan konferensi pasti lelah, apalagi menimang Ieros seharian yang benar-benar tidak mau lepas dari sang mommy. Benar saja belum lama mata Irene sepertinya sudah hampir sulit untuk terbuka. Timy kembali ke sisi Irene dan turut berada di atas tempat tidur rawat itu, ia membiarkan tangan kanannya menjadi bantalan kepala Irene dan tangan kirinya membantu untuk turut menopang Ieros agar tidak terjatuh saat Irene tertidur.

A Perfect LiarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang