"Boleh juga, kita bisa atur agar kau hamil tiga bulan sebelum tanggal yang ditentukan, agar saat kelahiran anak ketiga kita nanti, sesuai dengan publisitas dan praduga masyarakat. Kau bahkan sudah mempersiapkan barang-barang untuk bayi laki-laki, kan? Sayang jika tidak digunakan, lagi pula kau yang mengatakan bahwa ingin memberikan adik pada si kembar waktu itu" Astaga, Irene tidak tahu kalau Timy akan memiliki reaksi seperti ini.
"Kau gila? Bayi kita masih kecil Timy, bahkan kita belum memberinya nama, dan kau mau memberi mereka adik? Aku memang mengatakan ingin memberi mereka adik tapi tidak dalam waktu secepat ini, Timy. Kau pikir hamil dan melahirkan itu mudah? Walau waktu kehamilan seorang penyihir lebih singkat ketimbang manusia biasa! Tapi tetap menyakitkan saat melahirkannya, Timy!"
"Kau memang yang paling tidak konsisten, Irene. Kau menolak lamaranku, tapi kau malah membalas perasaanku. Dulu kau menolak benihku, sekarang kau mencintai kedua anakku. Aku yakin kau juga akan menyayangi calon anak kita nanti, walau kau sekarag bersikeras menolak" Irene rasanya ingin marah mendengar fakta itu.
"Itu sudah terjadi dan tidak bisa dicegah, Timy. Tentu aku akan menyayangi bayimu ketika ia sudah ada di rahimku nanti, tapi tidak sekarang, kan masih bisa direncanakan. Dan sebelum itu, kau mau aku melahirkan berapa bayi untukmu, hah? Setahun 3 bayi 4 bayi, atau kau ingin berapa anak dariku? Sebelum kita menikah sepertinya lebih baik hal ini kita diskusikan dulu. Aku tidak ingin menjadi pabrik anak bagimu!"
"Calm down, Rene. Kita juga harus membicarakan masa depan keluarga kita dan masalah anak-anak kita kedepannya kan? Kita tidak akan menua lagi dan anak-anak juga tidak menua di atas usia 17 tahun. Kita akan sering melakukan perpindahan dan pergantian identitas seperti yang sebelumnya mungkin kita lakukan seacara individual. Tapi sekarang kita akan menikah, jadi anak-anak juga akan jadi pokok pikiran kita. Sehubungan dengan berapa jumlah anak yang kuinginkan, sebenarnya tidak spesifik, aku tadi hanya menyarankan hal terbaik untuk publisitas, jika tidak mau, kita bisa cari cara lain dan mendiskusikannya dengan Jericho. Dan untuk hal apa saja yang kau inginkan juga hal yang harus kita sepakati, kita bisa menuliskannya di perjanjian pra nikah dengan kakak ku sebagai kuasa hukumnya, Ayah Jericho, jika memang dirasa perlu"
Irene tidak pernah membayangkan memiliki Timy sebagai pasangannya. Timy dengan emosinya yang stabil dan cenderung tenang, tidak membalas Irene yang selalu berapi-api. Dan Timy dengan segala kesiapan juga kematangannya yang selalu menjawab pertanyaan Irene dengan suatu kepastian.
"Aku setuju. Yang terbaik untuk diriku, dirimu, dan juga anak-anak kita. Bisa di buat juga klausul mengenai pisah harta dan hak asuh anak saat kita berpisah. Maksudku, bukan aku merencanakan berpisah denganmu bahkan sebelum kita memulai, ya Timy. Tapi hanya melakukan tindakan pencegahan bagi hal-hal yang tidak diinginkan, ku harap kau mengerti dan menghargai keinginan juga pendapatku"
"Tentu, tidak masalah. Aku paham dan mengerti maksud baikmu. Apa kau ingin Ayah Jericho datang ke sini besok? Atau kau ingin kita mengunjunginya langsung?"
"Ku rasa tidak perlu terburu-buru, Timy. Anak-anak masih terlalu kecil dan pernikahan kita juga belum ditentukan tanggalannya. Masih lebih baik kita diskusikan perihal publisitas dengan Jericho lalu agensiku. Setelah skenario publisitas ditentukan, baru kita temui Ayah Jericho dengan tanggal pernikahan yang pasti. Sehingga penyusunan klausul juga bisa dipikirkan masak-masak terlebih dahulu. Apa yang kita inginkan dan tidak inginkan di dalam pernikahan kita nanti, Timy"
"Ku rasa kau jauh lebih paham masalah ini ya Rene, ketimbang diriku?" Tanya Timy menggoda.
"Ku harap usiaku tidak lebih tua darimu, Timy. Sebelum aku menjadi publik figur, aku juga pernah menjadi jaksa penuntut umum, jadi jika kepalaku tidak terbentur, seharusnya aku masih ingat beberapa kasus yang pernah kutangani dan kupelajari"
Timy tidak membayangkan bagaimana berwibawanya Irene ketika menjadi seorang jaksa penuntut umum, ternyata wanitanya bukan wanita sembarangan, ia seorang wanita yang gemar berkarir serius dengan nama yang cukup dikenal, bukan seperti dirinya yang lebih gemar menjadi freelancer bahkan stuntman.
"Tidak, kau tidak bisa membaca kekuatanku walau aku tidak bisa juga membaca kekuatanmu. Itu artinya aku lebih tua darimu, sayangku. Kalau kau kan tidak terbaca karena keturunan Edwards. Ah, membicarakan hal itu, aku jadi ingin mengenalmu sebagai dirimu sendiri dengan lebih baik, Rene. Jangan sembunyikan sesuatu apapun lagi dariku. Janji lalui semuanya bersama?" Pertanyaan Timy membuahkan tawa pada Irene.
"Justru perkataan itu lebih cocok untukmu, sayangku. Kalau bukan Jericho yang memberitahuku perihal kekhawatiranmu selama aku mengandung, kau tidak pernah membagikan hal itu padaku, kan? Aku sampai sempat berpikir kalau kau memang tidak pernah menganggapku sebagai pasanganmu. Aku selalu sedih ketika kau menangis ketakutan karena mimpimu tapi mengatakan kata tidak apa-apa di depanku. Aku berulang kali berpikir apa kau hanya mempertahankanku karena keberadaan anakmu? Aku takut jatuh cinta sendirian padamu yang ternyata tak cinta aku" Irene mengatakannya dengan senyuman sedih.
"Kemari, sayang" Timy membuka lebar lengannya membuat Irene refleks masuk ke dalam pelukannya.
Irene tidak bisa berbohong bahwa pelukan Timy adalah yang ternyaman yang pernah ia rasakan dan tidak pernah sekalipun ia berfikiran ingin melepas pria ini dalam kehidupannya sekarang.
"Kalau ternyata pemikiranku itu benar. Kalau ternyata kau tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu, maka aku akan berusaha membuatmu mencintaiku, Timy" Ucap Irene mengeratkan pelukannya pada sang pujaan hati.
"Nonsense, semua itu hanya pikiran burukmu sendiri. Mungkin hormon kehamilanmu turut andil pada saat itu. Seharusnya kau sudah tahu, Irene. Sedari awal aku yang lebih dulu mencintaimu. Aku yang memaksamu untuk menjadi pasanganmu. Aku mencintaimu lebih dari yang kau kira, lebih dari cintamu padaku, tidak terbatas dan tidak berujung, Rene. Maaf membuatmu sempat memiliki hal-hal buruk yang harus di lewati dan bahkan dipikirkan, karena hanya bersamaku" Timy membalas pelukan Irene lebih erat lagi, mengusap punggung Irene dan mengecup puncak kepala Irene dengan sayang, menumbuhkan senyum manis pada bibir Irene yang lebih manis.
Tapi momen itu memang tidak bisa lama, apa lagi kalau bukan miniatur mereka menangis.
"Huaa! Hiks-hiks!" Tapi Irene malah tertawa kecil mendengarnya.
"Sepertinya anak-anak cemburu, dad. Mereka ingin dipeluk juga. Ayo kita ke kamar mereka dan memeluk mereka bersama. Agar hangat selalu meliputi keduanya dan membuat mereka senantiasa berbahagia"
"Baiklah, kita juga perlu mengambil potret keluarga"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.